
"Kenapa?"
"Ya gak mau aja!"
"Liat sini!"
"Ngga mau Rafa!"
"Malu kan? Bilang malu, bilang, bilang!" Rafa menggelitik tunangannya lebih gesit, membuat Vallen mengangkat wajahnya keluar dari tempat persembunyian--di bantal.
"Ngaku!"
"Gak!"
Rafa memegang kedua tangan Vallen saat dirinya sudah duduk di tepi kasur. "Oh, sering ya makanya udah gak malu?"
Vallen melotot. "Si Alan! Gak pernah!"
Sebuah cubitan gemas mendarat di satu pipi Vallen, siapa lagi kalo bukan Rafa pelakunya.
"Ihhh!"
Vallen memegang pipi kirinya yang ia tebak pasti lebih memerah. "Nyebelin!" protesnya.
"Nyebelin tapi dicium," sindir Rafa santai sambil melihat Vallen.
Ahhhh!
__ADS_1
Vallen lemah lagi, ciut kembali nyalinya saat Rafa membahas masalah cium. Ia pun membenamkan wajahnya di atas lutut. Namun sebelum keningnya mendarat di tempurung lutut ...
"Mau makanan gak?" tawar Rafa.
Sontak Vallen berhenti melakukan niatnya. Ia pun menatap Rafa seraya menangadahkan tangan kanan, maksudnya agar diberi makanan langsung oleh Rafa, tapi cowok itu malah menepok tangannya saja.
Setelah itu Rafa pergi meninggalkan kamar, sedangkan Vallen mengerutkan kening sambil melihat tangannya sendiri.
Dia pikir makanan gue angin apa!
***
"SMA lo tanding sama Arcturus, Mar?" tanya Putra yang meneguk kaleng soda setelah mengucapkannya.
Marvel mengangguk.
"Pastilah. Sekolah gue kan harus menang." Senyum miring cowok itu pun terbit. Ia lalu melihat Ina sebentar.
"Arcturus yang jadi tempat lo bernaung saat ini bakal gue buat malu, Na," bisik Marvel yang berhasil membuat bulu kuduk Ina merinding. Satu-satunya yang ia harapkan adalah Marvel tidak melakukan cara licik untuk menang. Ina tidak mau Rafa dan kawan-kawan mengalami hal buruk.
Gadis itu masih tetap menunduk sekali pun Marvel sudah melembut dibandingkan tadi. Jujur saja ia tidak suka berada di antara gerombolan laki-laki ini, sekali pun ia tahu jika ada Marvel, tidak akan ada yang berani macam-macam.
"Wajib kalah mereka, Mar," dukung Frian yang lagi-lagi sedang merokok.
"Yoi."
"Eh, Bro. Gue ada urusan. Cabut duluan, ya!" Putra menyalami semua temannya dengan dua jari ditempel di kening, lalu ia kibas ke depan.
__ADS_1
"Gue juga!"
***
Bulan sudah tak malu untuk menampakkan cahayanya di kegelapan malam. Di sebuah rumah tepatnya di kamar, Rafa asik membuka lembaran bukunya, sedangkan Vallen masih memakan camilan yang Rafa bawa sedari sore. Tangan satunya pun gemulai menari di atas layar ponsel. Vallen melihat-lihat postingan terbaru dari teman-temannya.
Namun lama kelamaan cewek itu merasa bosan, ia pun menghela napas sembari memerhatikan tunangannya dari belakang. Penasaran, Vallen menghampiri Rafa, lalu mencari buku yang menjadi jadwal pelajaran tadi. Kemudian matanya menyusuri halaman demi halaman yang tercetak tulisan tangan Rafa di dalamnya.
Rafa hanya melihat Vallen dari pinggir, jujur tadi ia sedikit kaget saat tiba-tiba sebuah tangan muncul dan mengangkat bukunya.
Cklek ...
Bi Adab tiba-tiba datang lalu menutup pintunya rapat.
"Den ..."
Bi Adab mengibaskan tangan agar Rafa mendekat.
"Jangan keluar kamar, ada ..." Wanita itu membisikkan sesuatu pada Rafa. "... yang ketemu Tuan."
"Siapa?"
Bi Adab pun kembali membisikkannya, bahkan hingga membuat mata Rafa membulat.
"Hah?" katanya seolah tak percaya.
Jiwa Rafa langsung bergerak gusar, begitu juga Bi Adab yang sebenarnya ketakutan. Melihat kedua orang itu aneh, membuat Vallen mengerutkan kening seraya menurunkan buku tulis Rafa. "Ada apa?"
__ADS_1