Pear

Pear
Chapter 16 (1)


__ADS_3

Vallen dan kawan-kawan baru meminjam buku ke perpustakaan pada istirahat kedua, alasannya karena di istirahat pertama antrian di ruang itu sudah mengular bahkan sampai ke luar. Sekarang, mereka sudah berada di depan perpustakaan dengan membawa buku paket sekitar 20 buah bahkan lebih dengan ukuran yang berbeda-beda. Vallen sudah mempersiapkan totebag untuk itu, pula Chela dan Nasya yang membawa keresek bekas belanja bulanan, tapi Ina ... ia lupa membawa kantong. Itulah yang membuatnya harus membawa tumpukan buku secara manual dengan tangan. Sangat berat memang, apalagi bukunya memuncak sampai depan hidung gadis itu.


"Na, lo yakin gak akan dibagi dua aja? Kita tungguin buku lo," saran Chela yang khawatir juga karena perempuan itu membawa buku dengan cara yang menurutnya cukup ekstrem.


Mata Ina yang ada di atas buku itu mengarah pada Chela. "Ngga ah males bulak-balik. Ayo!" ajaknya yang kemudian berjalan lebih dulu.


Vallen, Nasya, dan Chela pun mengikutinya.


Untuk menuju koridor kelas, mereka harus melewati koridor yang mengarah ke kantin. Dan saat ini, kantin ramai, sangat malah, karena di istirahat kedua ini tentu banyak dipergunakan oleh para murid untuk makan siang.


Vallen yang baru jalan sepuluh langkah dari titik awalnya membawa buku tadi sudah mulai merasa tangannya sakit. Tidak hanya dia, Nasya juga, bisa dilihat dari wajahnya yang susah dikontrol saking beratnya buku-buku itu. Alhasil, mereka pun berlari kecil mendahului Ina dan Chela karena merasa buku ini harus sampai secepatnya ke kelas. Sesekali juga mereka mengeluh sambil teriak sakit.

__ADS_1


"Nasya berat!" protes Vallen yang pada akhirnya melepas totebag dari pelukannya sendiri, dan membiarkan itu diam sementara di lantai.


"Sama!" Nasya tidak berhenti seperti Vallen, ia masih berusaha membawa walaupun dengan menyeret kereseknya.


"Eh jangan lari!" peringat Nasya saat berpapasan dengan murid lain yang entah dia kelas berapa. Murid itu sedang kejar-kejaran dengan dua orang lainnya.


Bruk ....


Nasya dan Vallen langsung berputar balik untuk menolong Ina, tapi tiba-tiba ada yang menyerobot mereka dari belakang.


Satria? Bayu? batin Vallen.

__ADS_1


"Woy! Bukannya minta maaf malah lanjut lari!" teriak Satria pada orang yang menabrak Ina tadi, lebih tepatnya itu adalah adik kelas yang mencuri uangnya saat Satria mengeluarkan uang senilai sepuluh ribu rupiah untuk dicek keasliannya ketika di depan kelas tadi.


Satria mengumpat karena adik kelas itu amat tidak sopan, awas saja kalo ketemu lagi nanti. Ia dan Bayu pun berjongkok membantu Ina membereskan bukunya yang berceceran.


"Na, lo gapapa?" tanya Vallen yang berjalan mendekat.


Ina mendongak lalu tersenyum sebagai arti ia baik-baik saja.


Kemudian, hawa di sekitar Vallen rasanya seketika menghangat. Gadis itu merasa pula bahwa di belakangnya ada orang lain. Maka dari itu ia melongoknya. Mata Vallen langsung terbelalak. Ia heran, sangat heran tentang kenapa Rafa dan Devan tidak bisa datang dengan cara yang menenangkan, rasanya kedatangan mereka selalu tiba-tiba.


Rafa, dia berdiri dengan memasukkan kedua telapak tangannya ke saku. Cowok itu tepat berada di belakang Vallen, sedangkan Devan ada di sebelah kirinya.

__ADS_1


Devan tersenyum sebentar pada Vallen, sebelum akhirnya ia mendekatkan wajah ke telinga Rafa. "Bantuin, Fa," suruhnya.


__ADS_2