Pear

Pear
Chapter 18 (2)


__ADS_3

"Sekali lagi Fa biar Satria heboh!" ujar Bayu.


"Gue gak jadi sekolah!"


"ANJING RAFA MAU GUE KIRIMIN RUDAL KE RUMAH LO?!" teriak Satria yang auto ditarik kepalanya oleh Devan supaya ia mundur dari ponselnya. Seketika, Satria lenyap dari pandangan Rafa.


"Kenapa lo Fa?" tanya Devan.


"Bisulan kali!" pekik Satria yang otomatis mendapat jitakan dari Devan sekali pun ia tertawa. Bayu juga tertawa sambil menunjuk-nunjuk ke arah Satria yang mungkin sedang disiksa.


"Kadas kurap biasanya kan lo Fa?!" Satria masih saja ngegas saat ia sudah memposisikan diri di bawah tengah antara Bayu dan Devan. Posisinya untuk foto keluarga bagus deh, Devan dan Bayu jadi orang tua, Satria jadi anaknya. Skip, kenapa jadi bahas ini!


Rafa sedikit mencetak senyum karena melihat sahabat-sahabatnya bertingkah konyol. "Mau ke rumah eyang."


Tempat yang diduduki Rafa tiba-tiba bergoyang, membuatnya kaget dan sontak malah bilang, "Anjig gempa!" Raut wajah Rafa benar-benar menampakkan ekspresi terkejutnya, membuat tiga orang yang menghubunginya seketika tertawa dan heran sendiri. Sejujurnya mereka juga melihat goyangan yang terjadi di kamera Rafa.


"Hahaha gila, kasur kasur lo. Kenapa lo yang kaget?" ucap Bayu.


Satria menyipitkan mata. "Ntar ntar, jangan jangan ada orang ya di kasur lo?"


Rafa langsung diam bahkan menahan dirinya untuk menelan ludah.


"Atau ... lo tidur sama Bi Adab?" lanjut Satria yang kemudian terbahak keras. "Hahahaha."

__ADS_1


"Anjr Rafa dinistakan hahaha!" Bayu tertawa sembari menoyor kepala Satria.


"Pftttt." Vallen menahan tawanya karena sedari tadi menyimak obrolan mereka. Rafa pun menunduk dan segera menutup mulut Vallen dengan tangan yang sebelumnya menjadi pegangan gadis itu.


"Bacot," ujarnya seraya melihat layar lagi.


Beberapa saat pun dihabiskan oleh obrolan random mereka, sampai akhirnya ...


"Eh Fa hari ini kita mau jenguk Vallen sekalian bawain buku paketnya."


Vallen membelalakkan matanya seperti telur mata sapi saat mendengar Devan berkata demikian.


"Oh."


"Biasanya langsung dipeluk trus dijadiin teman hidup eakkk." Satria ikut campur.


"Gak muat di motor."


"Fa, lo halu? Belakang lo kan kosong, tinggal taliin kayak paket. Jangan jangan beneran halu lagi bonceng Ina! Hahahah." Di sana pun ramai lagi karena perkataan Satria.


"Ck. Udah ngomongnya?"


"Udah hahaha."

__ADS_1


"Bye."


Rafa mematikan sambungan itu, ia juga melepas tangannya yang membekap mulut Vallen. Namun setelahnya, Vallen langsung menutup kepalanya dengan selimut.


"Ngambek lo?"


"Gak!"


"Val cuci muka gih."


"Gak!"


"Gosok gigi sana."


"Gak."


Rafa berusaha membuka selimut itu, tapi Vallen menahannya. "Napa sih lo?"


Vallen hanya merasa dirinya salah sudah bermanja pada Rafa. Harusnya ia bisa menahan diri sampai mamahnya datang. Bagaimana jika di hati Rafa masih melekat nama Ina? Bagaimana jika pada kenyataannya Vallen lah yang sudah membuat Rafa jauh dari cinta dia yang sebenarnya? Vallen merasa tak enak.


Melihat Vallen yang sepertinya sudah tidur lagi membuat Rafa memutuskan untuk mandi saja.


Sekitar 10 menit, Rafa sudah keluar lagi dari kamar mandi lengkap dengan pakaiannya. Namun saat melihat ke kasur, ternyata Vallen sedang duduk bersandar ke kepala kasur sembari memandang ke luar jendela. Rafa heran cewek ini sedang kenapa, karena reaksinya berubah begitu saja.

__ADS_1


Tiba-tiba ada yang membuka pintu, membuat Rafa dan Vallen menoleh.


__ADS_2