
Walaupun bingung dengan perlakuan Rafa, tapi akhirnya Vallen membalas pelukan tersebut. Peluk yang sudah pasti tidak sekali ia lakukan bersama Rafa, tapi yang sekarang rasanya beda. Ada debaran jantung tak beraturan yang malah Vallen nikmati keberadaannya.
"Makasih," ucap Rafa lembut.
Vallen memejamkan mata sambil menempatkan kepalanya di dada bidang Rafa dengan nyaman. "Makasih karena apa?"
Hening sesaat dan yang Vallen dengar adalah Rafa menghirup napas dalam.
"Makasih karena banyak hal."
Lagi-lagi Vallen tidak mengerti, ia tidak tahu selama ini sudah melakukan apa sampai membuat Rafa berterimakasih dengan cara seperti ini. Hanya saja Vallen tahu, kadang kala manusia tidak bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi dalam dirinya saking rumit perasaan itu untuk dijelaskan.
Vallen membuka mata dengan binar yang tidak dapat Rafa lihat dari posisi mereka yang seperti itu. "Gue yang seharusnya makasih." Suara Vallen terdengar lembut dan menenangkan, seakan ia menghilangkan dulu kecemprengannya sesaat di momen seperti ini.
"Makasih karena apa?"
"Makasih karena banyak hal," balas Vallen mengulang perkataan Rafa sebelumnya, hal itu disambut kekehan kecil dari Rafa.
"Dasar, Buf-fa-len."
"Dasar Fa Jelek!" Gadis itu tersenyum. Kemudian yang ia rasa Rafa melonggarkan pelukannya, maka dari itu Vallen juga melepaskan dekapannya.
"Mmm, Val," panggil Rafa seraya menatap Vallen dengan intens.
"Hm?"
__ADS_1
"Siapa pun secret admirer itu. Lo ... gak akan tanggepin yang gimana-gimana, 'kan?" Pertanyaan itu sudah terpendam dari beberapa hari lalu, apalagi mengetahui jika orang itu masih saja mengirim hadiah yang beragam tiap harinya.
"Iyalah. Emangnya mau gue apain. Gue porotin? Kan udah ada Fa Jelek."
"Heh!" protes Rafa yang refleks belotot matanya saat mendengar ucapan Vallen, tapi gadis itu malah tertawa karena responnya tadi.
"Canda! Maksudnya ..."
Vallen menarik kedua sudut bibirnya hingga tampak senyum manis di wajah dia. Rafa menikmati pemandangan ini, bahkan ia ingin meminta waktu untuk membeku sekarang juga, biarkan Vallen hanya senyum untuk Rafa seorang, hati Rafa benar-benar merasa bahagia.
Telunjuk Vallen pun terangkat lalu mendarat di satu pipi Rafa, gadis itu menekannya pelan.
"... Buffalen kan udah punya Fa Jelek, buat apa tanggapin orang lain, gak guna, ya kan?"
Vallen berjinjit sembari mengalungkan tangannya di leher Rafa, ia lalu menekan kepalanya ke ceruk leher cowok itu. Kemudian, wajah Vallen lebih mendongak saat ingin mengatakan sesuatu.
... Love ...
Rafa mengerjapkan mata pelan sambil menunggu ucapan Vallen selanjutnya.
... Me," tuntas Vallen.
"I love me too," jawab Rafa yang bibirnya tepat di dekat telinga Vallen.
Vallen pun kembali tersenyum. Biarlah waktu mempersiapkan dirinya berucap dengan mengganti objek dari kalimat itu dari 'me' menjadi 'you', memang bukan sekarang, mungkin suatu saat nanti. Vallen yakin kelak kalimat itu bisa keluar dari mulut dia dan Rafa. Perasaan ini, Vallen yakin juga bukan hanya dia yang merasa.
__ADS_1
***
Vallen dan Chela menalikan kain penanda di lengan kiri yang menunjukkan bahwa mereka anggota PMR. Beberapa orang juga sedang bersiap dengan mengangkat kotak P3K juga tandu. Sebelum keluar UKS, mereka semua berdoa dulu semoga pertandingan hari ini berjalan dengan lancar.
Shabil memberi semangat, lalu satu persatu anggota PMR pun keluar, begitu juga dengan Chela dan Vallen. Keduanya mengarahkan langkah kaki ke dekat ruang guru. Sampai di sana, mereka pun duduk di koridornya. Pertandingan belum mulai, maka darinya mereka berdua masih bisa bersantai, apalagi sekarang jelas terlihat raut kesantuyan pada diri Chela yang mana sedang bersenandung lagu Celengan Rindu. Selagi Chela bernyanyi, Vallen mengeluarkan cokelat dari saku blazer abunya.
"Mau?" tawar Vallen.
"Mau! Tumben lo Val bawa cokelat?"
"Dikasih sama Pak Satpam."
"Kiriman si lima lagi?"
"Ha-ah."
"Sering-sering aja deh dia ngirim. Biar gue yang makanin hahah!" Chela tertawa lebar, seakan lupa bahwa tadi pagi dia sarapan jengkol buatan ibunya.
Vallen tertawa paksa seraya mengibaskan tangan di depan hidung.
"Hah!" Chela menyengaja mengeluarkan napas sambil membuka mulutnya lebar. "Gak usah lebay, gue udah kumur-kumur 10 kali."
"Pake air got?"
"Betul sekaleh!"
__ADS_1
"Jorok!"
Chela membuka cokelat sambil mesem-mesem seakan bangga dengan pengakuan palsunya.