
"Ya mangap. Oh ya, Na. Pulangnya nanti yah, tanggung masih ngitung," ujar Chela, kemudian ia kembali bergelut dengan kerjaannya.
Ina mengangguk, lalu duduk di samping Nasya, ia pun ikut memerhatikan Rafa dan kawan-kawan beserta ... anak basket lain mungkin, karena Ina tidak mengenal muka-muka itu. Tentu fokusnya berada pada Rafa, cowok yang sempat mengomentarinya di kelas karena dia pikir Ina membohonginya. Padahal Ina jujur, Bu Anggi memang minta dipanggilkan Rafa, tapi kemarin ... saat pulang sekolah, tidak tahu juga urusannya apa.
"Udahan dulu woy!" Bayu menginterupsi. Dia langsung duduk selonjoran di tengah lapang sembari meletakkan dua tangannya di belakang. Cowok itu mengatur napasnya dan sesekali mengelap keringat yang mengucur.
Satria menghela napas dan ikut duduk seperti Bayu. Bola basket yang masih di tangannya tidak dianggurkan, dia setia untuk men-dribble-nya.
"Rafa!" seru seorang cewek yang sekalian berlari ke tengah lapang.
"Minum dulu!" katanya sambil memberikan sebotol air mineral. Selanjutnya senyum yang cerah terukir di wajah dia.
Rafa kebingungan, sedangkan Satria auto heboh melihat pandangan itu.
"Ciaelahhhh! Auto CLBK nih!" oloknya.
Tak ayalnya juga dengan Bayu dan Devan, mereka ikut meledek Rafa.
"Terima, terima!" ucap mereka semua seolah sedang ada moment penembakan, padahal hanya sekedar pemberian botol minuman.
"Buah mangga buah kedondong!" Satria menunjuk langit dengan semangat.
"Cakep!" balas Bayu.
__ADS_1
"Beliin gue buah dong! Hahaha."
"Bangsat!" kata Bayu yang terlanjur percaya Satria akan berpantun dengan benar.
"Tuhan ... kenapa hambamu ini masih belum dikaruniai seorang jodoh? Rafa aja yang jomblo 17 tahun udah dapet calonnya di depan mata!" Satria memelas.
"Eh!" seru Satria yang melihat ke arah tempat duduk penonton yang seperti tangga. "Nasya masih setia nunggu Bang Satria di situ? Bentar ya Neng abang masih latian!" Maaf penonton, Satria sedang halu.
"Idiw!" hujat Nasya yang rasanya ingin melempar batu besar ke depan wajah cowok itu.
"Nasy! Mereka aja udah mulai tuh, kita kapan?" tanya Satria sembari melihat Rafa dan Ina.
Nasya makin kesal, maka darinya ia menyebut nama Satria dengan keras.
"Mana ada!"
Bayu yang melihat reaksi Chela tengah kaget tingkat dewi pun akhirnya angkat bicara. "Chela gak usah cemburu, Satria tuh aslinya suka sama lo!"
"Anjir kampret! Gue udah ditolak mulu sama si Chela mah." Satria melempar bola basket ke arah Bayu.
"Ya sama aja nasibnya lo ngejar Nasya juga!"
"So sad anjir."
__ADS_1
Vallen terkekeh melihat wajah Satria yang begitu menyedihkan, tapi kemudian matanya kembali pada pusat perhatian di sana, Rafa dan Ina. Yang lain bersorak karena Rafa menerima botol tersebut dan meminumnya. Reaksi Vallen? Ia hanya kebingungan.
"Chel, mereka ada apa sih? Sahabatan? Pacaran? Atau apa?"
"Gue ceritain kalo lo ikut gue abis ini." bisik seseorang sebagai jawaban.
Vallen belotot saat masih melihat Rafa. Suara itu berhasil membuat bulu kuduknya merinding, bukan Chela yang menjawab tadi, melainkan ... mantannya.
Kenapa Devan tiba-tiba di sini?!
"Sejak kapan lo ada di sini?" tanya Vallen tanpa menoleh.
"Lima detik lalu."
Kemudian yang Vallen dengar adalah suara tegukan air dan perkenaan antara tutup botol dan mulut botolnya.
"Ayo mulai lagi!" ajak Satria yang berdiri karena bosan meratapi nasib.
"Yah ... padahal baru dua puluh satu detik," keluh Devan.
Vallen heran apa setelah putus Devan menjelma jadi stopwatch berjalan?
Lelaki itu memberikan botolnya ke Vallen, dia minta Vallen untuk memegangnya. Kemudian ia berlari untuk kembali bermain.
__ADS_1
Vallen menghela napas. Devan, Rafa, Ina, mereka membuat dirinya bingung.