Pear

Pear
Chapter 22 (2)


__ADS_3

"Ambil sendirilah, usaha," nasehat cowok itu yang menurut Vallen tidak membantu sama sekali.


"Gue buktiin gue gak pendek!"


Vallen mendongak, lalu berjinjit. Tangannya berusaha meraih atas lemari yang bahkan ia saja tidak sampai, apalagi kotak sepatu wedges-nya yang ada di atas kotak sepatu lain. Gadis itu mengucapkan 'ish' berulang kali karena usahanya tidak membuahkan hasil. Kemudian ia melakukan cara lain yakni dengan meloncat. Hasilnya? Sama saja, untuk menyentuh kotak sepatunya dengan ujung jari pun Vallen tidak bisa.


Tak habis akal, dirinya naik ke kasur. Kakinya berada di sisi kasur yang mana itu adalah kayu, kemudian tangannya memegang cermin lemari, padahal ada space cukup lebar antara lemari dengan kasur tersebut.


"Bego," ucap Rafa yang padahal dipikirannya gadis itu bisa saja memakai kursi yang ada di kamar.


"Sa ... em ... pe!"


Vallen berusaha keras menarik kotak sepatu yang bukan miliknya sih, hanya saja jika itu ditarik, pasti kotak yang ingin ia ambil pun ikut tertarik. Terus saja itu dicoba, tapi dengan perlahan, takut kotak-kotak tersebut malah jatuh menimpa kepalanya.


Namun sayang, satu tangan Vallen yang dijadikan tumpuan karena memegang cermin malah terpeleset karena telapak tangan cewek itu kerapkali basah. Tak hanya itu, kaki Vallen juga hampir saja tergelincir dari ujung kasur.


"Aaaa!" pekiknya, tapi dengan cepat Rafa menarik pinggang Vallen, membuat mereka berdua otomatis jatuh ke belakang.


Jantung Vallen berdegup kencang, ia tak dapat membayangkan jika tadi ia jadi jatuh, mungkin kepala atau bagian tubuh lainnya akan terbentur. Cewek itu bahkan tidak memikirkan bagaimana posisinya sekarang dengan Rafa, yang mana suaminya tersebut malah ditindihnya di belakang sana.


Rafa kemudian meminggirkan tubuh Vallen. Ia melihat gadis itu masih terdiam dengan tatapan ke lemari.


"Ati-ati makanya!" ucap Rafa yang malah seperti orang sedang marah.


Vallen menoleh pada Rafa. "Ra-fa ...."


"Pinter dikit napa sih! Ada kursi tapi lo anggurin." Rafa pun bangkit dari tidurnya dan mengambilkan apa yang Vallen mau sedari tadi.

__ADS_1


"Nih!"


Vallen duduk dengan raut wajah yang seperti ingin menangis, alisnya sudah bertautan dan bibirnya pun seakan menahan gemetar. Ia bergeser menuju tepi kasur dan langsung memeluk Rafa yang masih berdiri.


"Suka ngomel, tapi cengeng."


"Dasar Buffalen!"


Rafa memegang rambut Vallen dan merapikannya helaiannya yang berantakan. "Jangan nangis, sayang make up lo."


"Gue pakein sepatunya," ucap Rafa.


Vallen pun melepas pelukannya sambil melihat Rafa, ia membiarkan cowok tersebut berjongkok untuk memakaikannya sepatu.


***


"Satu yang green tea!" seru Chela yang akhirnya memutuskan juga setelah sekian lama mereka di sana.


Mereka berdua berangkat ke SMA Arcturus bersama menggunakan motor Shabil. Namun ke pinggir dulu untuk membeli minuman ini karena takutnya di sekolah tidak bisa jajan disebabkan tidak adanya yang jualan.


Sembari menunggu pesanan, Shabil memerhatikan pekerjaan si mamang yang memindahkan air dari satu gelas ke gelas lainnya. Alih-alih melakukan hal yang sama, Chela malah memerhatikan jalanan. Dan kemudian ia melihat motor dengan dua orang yang bajunya terlihat serasi. Chela tersenyum, ia yakin mereka pasti akan ke kondangan dengan pakaian seperti itu. Lucu sekali, Chela juga ingin suatu saat nanti ia punya pasangan yang mau couple-an bajunya.


Tapi ada yang aneh, rasanya Chela tidak asing dengan semua hal yang dilihatnya, baik postur tubuh dua orang itu bahkan motor yang dipakai.


Mamang thai tea kemudian memberi pesanan mereka berdua. Kemudian dua kantung keresek berisi cup thai tea itu dibawa Chela karena takut jika digantung di motor Shabil, nantinya malah tumpah.


***

__ADS_1


Setibanya di gerbang sekolah, motor Shabil bertemu dengan motor yang membawa Vallen. "Shab, gue turun di sini deh," kata Chela.


"Mana yang punya gue?"


Chela pun memberikan minuman milik Shabil.


Setelah itu, Shabil langsung melesatkan motornya ke dalam parkiran sekolah, meninggalkan Chela yang berjalan untuk menemui Vallen.


"Val?" panggilnya pada gadis yang baru saja turun dari motor.


"Hai!" sapa Vallen.


"Tadi gue liat lo, tapi bukan ... sama kang ojek."


Mata Vallen terbelalak, tapi selanjutnya ia malah tertawa. "Salah liat ah." Cewek itu pun mengembalikan helm yang ia pakai. "Makasih Pak."


"Ih asli ...."


"Mata lo siwer kali, ayo ah."


Vallen pun jalan mendahului Chela yang menggaruk rambutnya. Namun pada akhirnya, Chela juga menyusul Vallen.


Saat hendak masuk gerbang dekat pos piket--gerbang kecil yang ada sebelum memasuk wilayah SMA Arcturus lebih dalam, beda lagi dengan gerbang utama sekolah yang ada pos satpam--keduanya bertemu dengan Rafa yang sepertinya baru dari parkiran.


"B-bentar!" kata Chela yang menghentikan langkah Vallen juga Rafa. Ia menghalangi mereka berdua menggunakan tangannya yang direntangkan.


"Iya nih tadi gue liat yang ngeboncengnya pake baju ini! Val mata gue masih jelas! Ingetan gue masih bener!" ucap gadis berambut pendek itu dengan amat yakin. Ia kemudian melihat intens ke arah si cowok. "Rafa lo tadi bareng Vallen kan? Jawab 'iya', iya, iya, iya kan?" paksanya.

__ADS_1


__ADS_2