
Drnggg ....
Vallen terkejut karena sebuah tangan menekan tangan kanannya.
Ia pun segera menoleh.
"Jawab gue, lo sama Devan kemaren ngapain aja?"
Vallen mengerutkan kening. Ah sial, matanya panas lagi.
"Jawab," suruh Rafa dengan nada datar.
Vallen menarik tangannya sambil melihat sinis ke arah Rafa. "Gak!"
"Jawab Vallen."
"Bukan urusan lo!"
"Jawab!"
Vallen berdiri, lalu hendak melangkah untuk keluar ruangan, tapi tubuh Rafa sengaja menghalanginya. "Awas!" usir Vallen sambil mendorong.
Namun Rafa masih tegap berdiri untuk menghalangi. Karena kesal, dorongan Vallen pun jadi semakin kasar.
"AWAS!!!"
Tangan Rafa pun memegang kusen pintu agar tak ada celah sama sekali untuk Vallen kabur. Namun, hal itu digunakan Vallen sebagai kesempatan memukul tangannya seperti sedang memalu, dan kepalan tangan dia bertindak sebagai palunya.
"Jangan ngalangin!"
"Val?"
"Sana!"
"Jawab Vallen!"
"Ish! RAFA AWAS!!!"
Rafa memandang Vallen dengan mata yang menyiratkan bahwa dia kesal. Vallen pikir tak sakit apa disiksa begini? Apalagi Rafa juga merasa Vallen semakin membabi buta. Akhirnya Rafa tak diam lagi, dia berusaha memegang kedua tangan gadis itu dengan cepat. Vallen berontak, tapi Rafa berhasil meraihnya.
Ia pun megenggam tangan Vallen dengan kuat sampai urat di tangannya sendiri pun terlihat jelas.
__ADS_1
"JAWAB GUE! INI URUSAN GUE JUGA, NGERTI?!" teriak Rafa sembari melotot.
Vallen diam, ia tercengang akan bentakan keras itu. Hatinya memburu seolah ada gong besar yang terus-terusan dipukul. Kemudian isakan tanpa air mata terdengar, dan setelahnya barulah air mata Vallen mengumpul di pelupuk matanya. Ia menunduk dan sontak membuat air mata itu mudah mengalir melewati pipinya.
Rafa menutup mata sambil meredakan emosi. Cowok itu juga mengatur napasnya beberapa saat. Lalu tangannya melonggarkan pegangan.
"Val ... gue perlu tau lo ngapain," ucapnya melembut.
Vallen mendongak. "Buat apa, HAH? Lo gak perlu urusin gue!"
"Val tinggal jujur ...."
"Dibilang bukan urusan lo juga!"
"Lo tunangan gue, seenggaknya gue harus tau!" kata Rafa, kali ini bukan bentakan tapi sebuah ketegasan. Rafa pun mantap menatap mata Vallen sampai tatapan mereka terkunci.
Vallen meneguk ludahnya.
"Jawab gue bisa kan?" ulang Rafa pelan.
Vallen mengerjapkan matanya sekali dan air mata itu turun. "Gak ngapa-ngapain ...," lirihnya.
"Serius?"
"Gue emang kenapa?"
"Cih! Dasar manusia! Gak suka inget dosa sendiri."
Vallen mendorong Rafa karena tahu cowok tersebut bukan di mode menahan lagi. Benar saja usahanya berhasil, ia kemudian menaiki tangga. Namun Vallen terhenti karena tangannya digenggam.
"Gue kenapa?"
"Lo kan diem aja waktu Ina nyium!" frontal Vallen.
Mendengarnya otomatis membuat Rafa menautkan alis. "Kapan Ina nyium gue?" tanyanya bingung seraya mengingat kembali takut-takut dia lupa, tapi tidak mungkin. Rafa belum pernah dicium dan mencium siapa pun.
"Gak usah pura-pura amnesia!"
"Nggak Val, asli gue gak inget. Gak pernah!"
Rafa menaiki satu anak tangga lagi agar sejajar dengan pijakan Vallen. "Ceritain pas kapan," suruhnya.
__ADS_1
"Di depan rumah."
"Rumah ini?"
"Iyalah! Oh DI RUMAH INA JUGA PERNAH?!"
"Astaga, gak lah!"
"Gimana nyiumnya?"
Vallen membuang pandangan. "Gue gak liat, langsung syok sendiri."
"Terus lo bisa nyimpulin Ina nyium, kenapa?"
Gadis itu menoleh pada Rafa lagi. Ia pun memutuskan untuk mencontohkan apa yang dilihatnya kemarin. "Nih biar lo inget dosa!"
"Ina jalan maju deketin lo." Vallen melangkah dan berhenti saat Rafa yang tadinya bungkuk untuk menatapnya jadi tegak berdiri dengan punggung menyentuh tembok.
"Dia jinjit." Vallen ikutan jinjit sesuai ucapannya. Mata mereka jadi semakin dekat memandang.
"Terus?" tanya Rafa.
"Terus Ina majuin mukanya ke pipi lo." Lagi-lagi Vallen mempraktekkan itu, ia mendekatkan bibirnya pada pipi Rafa. Hal itu membuat jantung Rafa berdetak tak beraturan. Pula Vallen yang merasakannya dan merutuki diri, menyesal kenapa mempraktikkannya segala. Wajah mereka pun semakin dekat.
"DEN!!!"
Cup.
Vallen dan Rafa terkesiap karena Bi Adab memanggil dengan sangat keras. Keduanya langsung membelalakkan mata saat menyadari apa yang terjadi, terlebih Vallen. Ia langsung menggigit bibir bawahnya dan mundur. Kemudian ia melanjutkan naik tangga.
Rafa masih diam di tempat. Ia lalu melirik Bi Adab.
"Maaf Den, ini bibi mau nanya snack-nya gak akan dibawa ke kamar?"
"Simpen dapur aja Bi."
Ia lalu menyusul Vallen.
🍐 Bersambung ....
Jangan lupa vomment guysss
__ADS_1
Makasiii 🥰