
Rafa mendelik. "Waktu bunda minta gue nikah, sebenernya gue tau bunda cuma pengen liat salah satu anaknya punya pasangan hidup. Harusnya sih Kak Frian karena dia udah cukup umur, tapi lo tau dia gimana. Makanya yang dipaksa itu gue, tapi buat tunangan dulu. Saat gue tau ternyata itu lo ...."
"Seneng banget pasti kan?"
"Biasa aja."
"Ngeselin ih, masih marah itu."
"Seneng, tapi bingung sih," ucap Rafa yang sebenarnya. "Karena gue paham gimana sayangnya Devan ke lo. Tapi gue mikir kesempatan gak akan dateng dua kali. Pilihannya cuma dua, sahabat atau ego, dan akhirnya gue mentingin ego."
"Dan ego lo masih kebawa waktu cemburu sama Devan," kata Vallen.
"Hm. Gue salah, gak seharusnya gue kayak gitu."
"Hmm, setiap manusia punya sisi itu kok. Bukan cuma lo doang. Gue cuma berharap kedepannya kita bisa jadi manusia yang lebih baik."
Rafa mengangguk.
Vallen fokus kembali menatap lampu-lampu yang menghiasi pemandangan di bawah sana, lalu tiba-tiba Rafa menyatukan rambut gadis itu dan membawanya ke pinggir.
Rafa melepas kaitan kalung milik Vallen dan memisahkan cincinnya yang tergantung di sana. Ia juga melakukan hal yang sama dengan kalung hitam yang menemaninya satu tahun ini. Kedua kalung polos itu kemudian Rafa masukkan ke saku, hingga ia hanya memegang dua cincinnya saja.
Tangan Vallen dipegang oleh Rafa untuk mengarahkan gadis itu agar berdiri. Lalu, di bawah terangnya purnama, Rafa menatap Vallen dengan saksama, sedangkan tunangannya itu terlihat kebingungan.
"Vallen Claudia Arunika?"
"Iya?"
"Sediakah kamu menjadi istri saya yang menerima segala hal, baik dan buruknya saya? Sediakah kamu menempuh hari-hari yang tersisa dalam hidup bersama saya?"
Vallen tersenyum, Rafa sedang melamarnya atau apa ia pun bingung, tapi perempuan itu tetap membalasnya.
"Saya bersedia menerima apapun tentang Rafael Hansel Samudra, baik dan buruknya. Dan juga bersedia untuk menghabiskan sisa hari yang Tuhan kehendaki dengan kamu sebagai suami saya," jawab Vallen.
__ADS_1
Senyum Rafa mengembang, kemudian ia memasangkan cincin pada jemari Vallen. Setelah selesai, Vallen mengambil cincin satunya di tangan cowok itu lalu memasangkannya juga.
"Makasih, Val."
"Makasih juga Fa. Janji ya kita bakal saling ngejaga?" Vallen mengarahkan kelingkingnya ke hadapan suaminya. Lalu Rafa pun menyambut itu.
"Janji," ucapnya penuh keseriusan.
Kemudian pandangan Rafa turun mengarah pada bibir ranum milik Vallen. Pelan tapi pasti kedua tangannya pun menangkup pipi perempuan itu. Dan dalam hitungan detik bibir Rafa telah menyentuh bibir Vallen. Gadis itu kemudian terpejam, ciuman kali ini tak ada paksaan. Dan Vallen pun bisa menikmatinya karena Rafa melakukan dengan lembut. Rasa sayang keduanya tersalurkan di malam yang indah. Hingga setelah beberapa saat, keduanya pun baru menghentikan kegiatannya.
"Pulang sekarang ya, Val?" ajak Rafa, dan Vallen hanya bisa menurut.
Keduanya pun pergi ke parkiran, lalu menaiki motor. Kuda besi itu lantas membelah jalanan dan yang menaikinya terus terbuai dengan angin sejuk yang berhembus. Hal itu mendukung Vallen untuk larut dalam pikirannya, ia merenung untuk bersyukur karena semua hal yang sudah terjadi. Vallen berterimakasih kepada Tuhan karena sudah mempertemukan ia dengan Devan, juga berterimakasih telah mendatangkan Rafa ke dalam hidupnya.
Devan adalah masa lalu yang indah. Namun Rafa akan menjadi satu-satunya masa depan yang Vallen harap menjadi yang sangat indah.
***
"Val, bikin yuk," ucap Rafa sambil mengelus tangan Vallen saat ia bersandar di pintu kamar yang baru saja ditutup.
"Iya, ayo ...," ujarnya tak sabar.
"Lo mau?"
Rafa memiringkan kepala. "Maulah. Emang lo nggak?"
"Nggaklah. Kita belum nikah."
"Ngomong apa sih Lo Val?"
"Hah?"
"Gue ngajakin bikin mie elah. Gue laper," jelas Rafa. "Ayo cepetan!" Rafa menarik Vallen yang pipinya sudah memerah. Astaga, pikiran gadis itu sudah melenceng kemana-mana, tapi tunangannya malah berjalan dengan wajah tanpa dosa.
__ADS_1
Tiba-tiba Rafa berhenti dan melepas tangan Vallen sebelum menuruni tangga. "Ambigu ya lo?" tanyanya seraya tersenyum miring. Dan dengan cepat Vallen pun menggeleng.
"Sekarang, kita bikin mie dulu. Abis laper gue ilang, bebas deh kalo mau bikin yang lain, sampe pagi juga gue ladenin."
Vallen membuka matanya lebar, sedangkan Rafa terkekeh geli karena ucapannya sendiri. Kemudian ia berusaha memegang tangan tunangannya kembali, tapi Vallen segera menghindar. "Jauh-jauh dari gue!!!" suruhnya sambil menuruni tangga dengan cepat.
"Bikin jus gitu, bikin makanan lain. Ah pikiran lo udah tercemar Satria kayaknya Val!"
"Diem ah!"
Rafa tertawa puas. Kemudian ia bertanya, "Eh Val lo tau gak di kamar tamu rumah ini ada apa?"
Vallen yang sudah sampai di dapur segera berbalik badan. "Lo kan ... pernah bilang kalo ... ada sesuatu." Gadis itu terlihat ketakutan saat mengucapkannya. Lalu udara di sekitarnya pun terasa mencekam.
"Iya sesuatu ...." Rafa memandang mata Vallen dengan mata yang sedikit belotot.
"Kan ada kasur, bantal, guling, ...." Rafa menyebutkan semua barang sambil menahan tawa, sedangkan Vallen membelalakkan mata. Ia kemudian langsung mengambil panci dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Mulai besok gue keluar dari kamar lo!" teriak Vallen sambil melempar panci.
JRENGGG!
...🍐 END 🍐...
...JANGAN LUPA VOMMENT YA!!! 😘...
...YEEEEE PEAR BERES GAIS, TAPI EPILOGNYA MASIH PROSES....
...Makasih yang udah baca PEAR sampe sejauh ini yaaa 🤗...
...❤️ Sayang kalian banyak-banyakkk ❤...
...Oh ya, comment juga yukk kesan dan pesan kalian selama baca PEAR 🔥🔥🔥...
__ADS_1
...Karena PEAR belum beres sepenuhnya, nanti dilanjut kok, tapi aku lagi nyantuy nulis Blackcurrant di Wattp*d....
...Yang mau baca, yukk ke Wattp*d, cek di akunnya @BiruVanila. Blackcurrant tuh nyeritain tentang kisahnya Erkan sama satu cewek yang bawel, cerewet, dan sering ngebuat Erkan gemes sendiri....