Pear

Pear
105


__ADS_3

Keempat sekolah pun memasuki lapangan dengan masing-masing lapangan untuk dua sekolah. Kemudian sebelum mulai tanding, mereka menyanyikan dulu lagu Indonesia Raya dengan khidmat. Sesudahnya, MC menjelaskan tentang durasi mainnya karena jika mengikut ke aturan biasa di mana ada 4 babak dengan masing-masingnya 10 menit, lalu tiap pergantian babak ada istirahat 10 menit, rasanya akan memakan waktu banyak. Kasihan juga yang nanti terus-terusan lolos karena pada akhirnya mereka akan bermain 3 kali—pada perempat final, semifinal, dan final—dengan waktu segitu. Maka darinya panitia mengubah waktu jadi tiga babak saja dengan waktu istirahat pada selang babaknya adalah 5 menit.


Wasit meniup peluit seraya melempar bola basket ke atas. Devan langsung menguasai bola dan men-dribble-nya sambil berlari ke ring lawan. Ia pun mengopernya pada Bayu, tapi digagalkan karena anak Sirius mengambil alih. Sorakan sedih dari pendukung Arcturus pun menggema karena hal tersebut. Namun Rafa bisa merebut bola itu lagi menggiringnya sesaat sebelum akhirnya berlari kencang dan melakukan lay up.


Berhasil!


Arcturus mencetak skor pada awal permainan. Teriakan bahagia terlontar, begitu juga di menit-menit berikutnya yang diramaikan oleh sorak sorai penonton juga MC. Keadaan yang sama terjadi di lapangan sebelah, di mana SMA Canopus pun terus menang dalam melawan SMA Antares.


***


"Liat? Canopus menang gak curang!" bentak Erkan kepada Devan.


"SMA Antares dibayar berapa hah?" Devan masih saja menyudutkan Erkan dan menilai seolah orang tersebut tidak bisa apa-apa, ia menganggap keberhasilannya hanya kecurangan semata.

__ADS_1


"Lo dari tadi nuduh terus. MAU LO APA, HAH?!"


Devan tersenyum sinis. "Mau gue lo berhenti songong dan sok sokan. Enek gue liatnya!"


Erkan menarik dua sisi jersey Devan lalu menendang perutnya dengan keras.


Bugh!


Rahangnya cowok itu sudah mengeras berkat penuturan Devan daritadi. Ia geram, bisa-bisanya ada orang yang bertingkah seperti ini padanya. Devan melepaskan cengkeraman Erkan, ia lalu memukul wajah cowok tersebut dengan satu bogem mentah.


"Satu lagi ...," ucap Devan.


Napas Erkan memburu, ia sungguh ingin melenyapkan orang yang merendahkannya.

__ADS_1


"JANGAN DEKETIN VALLEN!" bentak Devan, ia mendorong Erkan sampai cowok tersebut jatuh. Melihat banyak kesempatan dalam posisi itu, Devan pun memanfaatkannya dengan langsung mengunci cowok tersebut yang sedang telentang, lalu menghajarnya.


"Bangsat! Vallen siapa Anjing!" Erkan menendang Devan supaya enyah dari hadapannya.


"Cih, pura-pura gak tau lo?"


Erkan mengerutkan kening, bisa-bisanya ia dibuat kebingungan di tengah perkelahian seperti ini.


"Dev!" panggil Rafa dan murid yang lain, termasuk Vallen dan Chela yang ikut mencari Devan karena menghilang secara tiba-tiba, mereka sedang ganti shift makanya bisa ikut.


Devan tidak peduli pada mereka yang datang, ia menarik baju Erkan lalu memukulnya lagi untuk ke sekian kali.


"Gue gak tau apa-apa, gobl*k!" Erkan hendak menghajar Devan, tapi Devannya sudah ditarik oleh teman-teman dia.

__ADS_1


"Siapa Vallen?" tanya Erkan dengan suara keras pada mereka semua.


Nasya langsung membuka matanya lebar. Pelan, Vallen pun mengangkat tangannya.


__ADS_2