Pear

Pear
80


__ADS_3

Saat Vallen membuka bungkus permen, tak sengaja ia menoleh ke kiri. Dan di sana tepat ada motor Rafa yang baru berhenti.


Ina anaknya jujur yah, puji Vallen sembari tersenyum miris dalam hati. Padahal ia berharap Ina tidak betulan pergi bersama Rafa.


"Val, Ina suka cerita sama lo?"


"Tentang?" Vallen menengok ke arah Devan. Cowok itu segera menunjuk Rafa dengan gerakan matanya.


Sesaat Vallen mengikuti pandangan Devan padahal dia sudah mengerti maksudnya apa, hanya pura-pura telat mikir saja. "Rafa?"


Devan mengangguk.


"Nggak, kayaknya dia lebih banyak cerita sama Chela."


"Ohhh gitu ya."


"Kenapa?"


"Gapapa. Pengen tau aja, soalnya si Rafa gak pernah bahas Ina."


"Hah? Terus dia bahas siapa?"


Devan terkekeh. "Gak ada."


"Gengsi kali dia mau cerita," kata Vallen sok tahu.


"Bisa jadi."


Lampu pun hijau dan Devan melanjutkan perjalanannya. Yang bisa Vallen lihat adalah motor Rafa mendahului mobil Devan dengan Ina memeluknya dari belakang.


"Kayaknya makin deket sih," celetuk Devan yang ternyata masih memperhatikan juga.


Vallen langsung menunduk dan memutar-mutarkan hp-nya.


***


Hampir satu jam mereka berada di dalam mobil, hingga akhirnya mobil pun dapat terpakir dengan baik di suatu tempat.

__ADS_1


Vallen turun dan melihat lebih jelas pemandangan yang ia lihat dari dalam mobil.


Kenapa ke sini? tanya Vallen dalam hati.


"Inget gak Val?"


Gimana bisa gue lupa.


Vallen tersenyum tipis tanpa melihat Devan seraya memegang daun yang ada di dekatnya.


Devan kemudian menggenggam tangannya dan mereka masuk ke tempat wisata itu.


Kini mereka berada di Dusun Bambu Lembang yang mana merupakan kawasan wisata terkenal di Bandung. Pemandangan di sana asri dan ada berbagai fasilitas menyenangkan di dalamnya, seperti restoran unik, berbagai permainan, tempat menginap berupa villa dan glamping, dan juga taman terbuka yang luas.


Devan pun membeli tiket untuk mereka berdua, dia sudah bilang juga jika Vallen bebas melakukan dan minta apapun dengan ia yang membayarkannya. Setelah mendapat tiket, mereka pun masuk dan menuju area utama dengan menggunakan shuttle–sejenis bus antar-jemput. Bisa juga mereka berjalan kaki sembari menikmati pemandangan, tapi cukup jauh juga jalannya, dan lagi di dalam sana masih banyak yang harus mereka nikmati.


Tak lama, mereka pun turun dan jalan ke Pasar Khatulistiwa yang mana merupakan pusat jajanan serba ada. Devan menawarkan berbagai makanan kepada Vallen.


"Mau ini?"


"Ini?"


"Gak."


"Ini?"


"Gak."


"Itu deh!" tunjuk Devan.


Vallen bergumam lama. "Gak."


Devan pun menghela napas, rasanya sudah semua ia tunjuk. "Lo gak laper?"


"Laper," jawab Vallen jujur.


"Gak mau makan di sini?"

__ADS_1


"Mau aja."


"Tapi?"


"Tapi ... ada satu kedai lagi yang belum lo tawarin."


Devan tertawa, harusnya Vallen langsung mengatakannya saja, kenapa jadi harus membuat dia bingung seperti ini. Cowok itu pun berbalik untuk meneliti setiap kedai. Dalam hatinya Devan berkata 'udah' berulang kali.


"Udah semua Val ...."


"Kebiasaan! Liatnya yang jauh terus, yang di sebelah gak diperhatiin," omel Vallen sembari memiringkan mukanya ke satu-satunya kedai terdekat mereka. Pantas saja gadis itu melangkah ke sini.


"Oh siomay? Hahaha, gak ngeh."


"Dasar!"


Vallen menutup mata sambil melihat ke arah lain. Ia harus menghibur dirinya sendiri, tempat ini sudah mendukung, tinggal Vallennya saja yang harus berusaha untuk tetap bahagia, sekali pun rasanya tak enak karena wajah Rafa melintas di pikirannya tiap detik. Menurut Vallen, menggalaui Devan lebih masuk akal daripada galau karena seorang Rafa. Ini hal gila yang baru dirasakannya.


Devan pun memesan makanan untuk mereka.


***


"Mending yang mana?" tanya Rafa seraya menunjukkan dua jam tangan pada Ina.


"Yang silver aja!"


Rafa pun mengangguk kemudian membayarnya. Ina bahagia Rafa menuruti apa yang dia bilang, sepertinya cowok itu mulai bisa menganggap bahwa Ina ada.


"Sebelum ke toko kue, makan dulu yuk Fa. Laper ...," pinta Ina.


Rafa menatap gadis itu sebentar, lalu mengarahkan langkahnya ke tempat makan. Tanpa mereka tahu, di sisi lain mall ada seseorang yang tersenyum picik selama memerhatikan mereka.


🍐 Bersambung ....


Jangan lupa vomment guysss


Makasiii 🥰

__ADS_1


__ADS_2