
"Val, nurut sama gue. Gue gak mau lo kenapa-napa."
Vallen menatap Rafa penuh tanya. "Oke."
Selesai makan, Vallen membuang box dan plastik bekasnya ke tong sampah, ia lalu berbalik sambil menatap Rafa dan seperangkat alat tidurnya.
"Gue tidur di mana?" tanya Vallen pada dirinya sendiri seraya berjalan mendekat ke suaminya.
Gadis itu kemudian memerhatikan kasur Rafa, hingga tibalah senyumannya terbit menghiasi wajah cantiknya.
"Gue tidur sekasur bareng lo yah?" pintanya.
"Emang gapapa kasur pasien ditidurin sama dua orang?"
"Gapapa," jawab Vallen asal. Ia lalu melepas sepatunya dan naik ke ranjang. "Ditidurin sama dua kebo juga gapapa."
Rafa sedikit terperanjat, tapi ia tetap meminggirkan tubuhnya untuk memberi ruang bagi Vallen. Setelah itu, gadis tersebut pun menidurkan kepalanya hingga mendapat posisi yang nyaman.
"Oh, lo ngerasa badan lo gendut sekarang? Makanya nyebut 'dua kebo'."
"Nggak. Kan kebonya itu lo sama gue ...." Vallen melingkarkan tangannya di pinggang Rafa sambil tersenyum menatapnya. Namun, itu tak lama karena perlahan matanya pun terpejam.
"Gue gak kebo!" tentang Rafa yang tidak terima.
Vallen tidak menjawab, dia lelah sekali hari ini, rasanya sangat banyak hal yang sudah dirinya lakukan.
Rafa mengibaskan tangannya di depan wajah Vallen, ia pun menghela napas saat tahu Vallen sudah terlelap.
__ADS_1
Dalam heningnya ruangan, Rafa mengusap rambut Vallen dengan sayang. Kemudian ia teringat sesuatu dan mengambil ponsel untuk menelepon ayahnya.
"Yah?"
Apa?
"Rafa boleh kasih saran?"
Hah?
"Ayah tidur di rumah orang tuanya Vallen malam ini."
Lalu yang didengar Rafa adalah suara tawa ayahnya dan sepertinya orangtua Vallen juga. Karena malu, Rafa pun segera mengakhiri percakapan tersebut dengan mengucap salam.
Ia menyimpan hp nya dan mengusap muka.
Astaga, malunya berasa, rutuknya dalam hati.
"Kebo, gue sayang," ucapnya pelan yang sudah Rafa pastikan Vallen tak akan dengar. Kelihatannya gadis itu sudah sangat pulas.
***
Vallen menyedot susu kotak sembari melihat telunjuknya yang mengikuti salur dari motif meja kantin. Ia tengah menunggu makanan pesanannya selesai dibuat. Pikirannya terus mengingat akan larangan Rafa, tapi ia penasaran, rasa ingin tahu ini tidak bisa dihentikan begitu saja.
Makanan pun datang, seporsi lontong sayur. "Makasih," kata Vallen seraya tersenyum saat mangkuk itu disimpan di atas mejanya.
"Hari ini gue mau jenguk Rafa. Kalian ada yang mau ke sana juga?" tanya Ina.
__ADS_1
Chela dan Nasya menggeleng. "Gue ada perlu."
"Gue juga."
Ina mengangguk sambil menyuapkan makanannya. "Kalo lo Val?"
Chela dan Nasya langsung sigap melihat gadis itu.
Vallen melotot saat menatap Chela dan Nasya yang berada di depannya. Perlahan ia pun menoleh ke samping. "G-gue ... ju-ga ngga."
"Wah, berarti cuma gue dong."
"Lo gak takut kalo 'dia' tau?" tanya Chela.
"Marvel? Moga aja dia gak ngawasin gue di depan sekolah. Tapi, gue minta bantu kalian yah, halangin gue sampe gue masuk mobil nanti."
Nasya mengangguk pelan.
"Marvel tuh siapa?" tanya Vallen.
"Dia ... pacar gue(?)"
Vallen memiringkan kepala. "Kok ragu jawabnya?"
"Sebenernya ... gue udah minta putus, tapi dianya gak mau."
"K-kalo lo punya pacar kenapa lo deketin Rafa?"
__ADS_1
"Gue deketin Rafa ... karna pengen dia jadi sahabat gue lagi, yang jagain gue, lindungin gue, trus bisa belajar bareng."
Vallen membuka mulutnya. "Ah I see, dulu kalian sahabatan?"