
Brakkkk!!!
"Awww!" pekik dua manusia yang saling bertabrak itu.
Setruman terasa menjalar dari area lengan hingga bahu Vallen. Ia pun meringis sembari memegangi bagian yang sakitnya. "Duh ... sorry ya," ucapnya yang masih bisa ia sempatkan.
"Gapapa."
Vallen melihat orang itu yang juga melakukan hal sama sepertinya, ia tebak bahwa orang tersebut juga merasakan sakit yang sebanding. "Lo mau ke mana? Buru-buru banget," tanyanya.
Vallen memiringkan kepala, sedangkan matanya melirik ke mana-mana. Mencari inspirasi dari berbagai sudut sekolah ini untuk memberi alasan pada sang penanya. Hingga ia pun menemukan suatu tempat.
"Itu ... gue kebelet!" Vallen menunjuk-nunjuk toilet yang dimaksud sembari berjalan tergesa-gesa. Jaraknya tak jauh, mungkin sekitar tiga meter dari persimpangan.
Setelah beberapa langkah, gadis beriris mata cokelat tua itu menoleh ke belakang. Kelihatannya Ina tidak curiga sama sekali, maka dari itu ia hilang begitu saja. Baiklah, Vallen bisa bernapas lega.
Selanjutnya, cewek itu celingukan sebelum masuk toilet. Memastikan tak ada orang yang melihat, jadi ia aman dari saksi mata yang siapa tahu diwawancara oleh Devan.
__ADS_1
Pandangannya pun mengarah pada lorong toilet, ia menggigit bibir bawah karena ragu, tapi tetap memutuskan untuk masuk.
Ia melihat-lihat beberapa wastafel dan cermin yang terjajar di tembok bagian dalam, keadaan sungguh berdebu. Astaga, selama itukah penduduk sekolah liburan sampai petugas pun lupa membersihkan toilet ini? Sejujurnya Vallen tak pernah ke sini, lagi pula toilet ini berada di wilayah ruang Kepsek, TU, BK, dan bagian penting lain di sekolahnya.
Vallen kemudian berbalik badan karena di sini benar-benar kosong, ia melangkah maju menuju bagian depan yang ada bilik kamar mandinya.
Toilet ini rusak.
Terlihat tulisan itu menempel di keempat pintu yang saling berhadapan.
Val, tau gak kenapa toilet di area ruang kepsek udah gak digunain lagi?
Hah lo gak tau, Val? Ok, gue kasih tau. Alesan udah gak dipakenya tuh karena ...
Ckrkkk ckrkkk ....
Mata Vallen membulat. Jantungnya langsung berdetak sangat cepat. Suara apa itu? Orang mana yang memakai toilet rusak?
__ADS_1
Atau ada seseorang yang menggunakan toilet ini untuk ...
TIDAK!
Vallen harus lari! Lari!!!
"Aaaa!!!" teriak gadis itu.
Sret ....
Suara sepatu Vallen yang terus menolak untuk ditarik semakin terdengar saat bergesekan dengan lantai di sana. Vallen takut.
Karena pernah ada yang dilecehin trus dianiaya sama mantan guru di sini, sampe MATI!
Vallen memejamkan matanya sangat kuat. Ia menggeleng. Banyak hal yang belum Vallen lakukan. Banyak impian yang belum dia wujudkan. Orang tuanya belum Vallen bahagiakan. Tentang masa depannya, Vallen juga masih mau punya anak dengan seseorang yang baik-baik. Bukan seorang kriminal yang bejat melakukan pemaksaan itu padanya.
"Mmmph!!!" Vallen terus mencoba melepaskan diri, bahkan sampai pintu kamar mandi menutup cukup keras. Ya ampun dia dimasukkan ke sini, apakah hidup Vallen berakhir saat ini juga?
__ADS_1
Gadis itu memekik dan berontak dengan kemampuan yang ia punya. Napasnya terus memburu, sungguh Vallen tak bisa tenang, dan sudah pasti siapa pun yang mengalami ini akan histeris juga. Namun sayang, sang pelaku penculikan tersebut malah makin mengunci Vallen agar semakin tidak bisa bergerak. Tangannya pun dengan sengaja kuat membekap mulut Vallen.