Pear

Pear
153


__ADS_3

Vallen menuntun Rafa selama berjalan, bukan karena cowok itu masih belum lancar melakukannya, melainkan karena matanya ditutup oleh kain.


"Pelan-pelan, kita bakal naik tangga," ujar Vallen.


Gadis itu sangat memperhatikan langkah tunangannya, takut-takut malah jatuh dan rencananya malam ini berantakan. Ya, Rafa sudah pulang ke rumahnya beberapa menit lalu. Namun, Vallen langsung mengambil alih dirinya dan memasangkan kain itu, membuat Hilman menurut saja dan akhirnya menyaksikan mereka berdua dari lantai bawah.


Usai menaiki tangga, Rafa dan Vallen melangkah sedikit lagi untuk sampai ke depan kamar. Gadis itu pun tersenyum seraya membuka pintu. Keduanya lalu masuk dan Vallen menutup pintunya kembali.


Vallen berjalan ke belakang Rafa. Ia kemudian berjinjit untuk membuka simpul kain di kepala tunangannya. Setelah itu, tangan kanan Vallen kemudian memegang pundak kanan Rafa, sedangkan tangan satunya masih menahan kain yang sudah longgar ikatannya.


Kepala Vallen pun mendekat ke telinga kanan Rafa.


"Satu ...," bisiknya.


"Dua ..."


"Tiga."


Vallen melepaskan kain dan membuat benda itu turun dengan sendirinya. Dan karena aba-aba dialah akhirnya Rafa membuka mata.


"Surprise!" kata Vallen pelan.


Rafa mengedarkan pandangan, melihat kamarnya yang redup karena lampu utama tidak dinyalakan, namun cukup terang berkat lampu-lampu tumblr warna kuning.


Lampu itu melilit di balon emas yang membentuk kata Welcomeback. Juga dirangkai menjadi huruf sambung bertuliskan Fa Jelek di bawahnya.

__ADS_1


Di malam hari yang dingin ini, hati Rafa menghangat. Ia bahkan menarik kedua ujung bibirnya saat menoleh pada Vallen. "Harusnya gue yang bikin ginian buat lo," ujarnya.


"Lo gak akan kepikiran ngebuat ginian, Fa," tebak Vallen. Gadis itu lalu berjalan ke samping suaminya. "Fa Jelek kan gak romantis!"


Rafa menghela napas, ia kemudian menempatkan telapak tangannya di atas kepala Vallen seraya melihat kembali ke atas sandaran kasur di mana lampu tumblr itu berada. "Belum ada timing yang pas aja. Coba lo ulang taun, gue giniin juga."


Vallen menggeleng. "Gak, gue gak percaya! Paling lo cuma bakal bilang 'Selamat Ulang Taun, Buffalen. Nanti gue hadiahin lo sawah 5 hektar deh, biar lo seneng bisa ngebajak seharian!'"


Rafa tertawa kecil dan menatap Vallen lagi. "Ngga sih, gue kasih sawah ... biar pas lo berkubang, guling-gulingnya bisa jauh."


Vallen menahan tawa. "Please, deh!"


Hening sesaat sebelum akhirnya Vallen kembali membuka suara.


"Fa, dinner yuk," ajaknya.


Vallen menggeleng. "Di sini aja, ngirit. Biar uangnya bisa ditabung buat beli sawah."


"Gak sabar berkubang ya, Val?"


"Berisik!" Vallen mendorong Rafa.


"Buat nikah maksudnya," ucap Vallen pelan.


"Hah?" Rafa tidak mendengar dengan jelas.

__ADS_1


"Ga denger gue? Duduk cepetan, jangan banyak omong!" titahnya galak sambil mengarahkan Rafa ke kursi depan meja belajar yang sudah bersih dari buku-buku pelajaran.


"Bentar." Vallen berlari keluar kamar. Lalu menunduk melihat Bi Adab di dapur sana.


"Ba-wa ke si-ni," pintanya dengan gerakan mulut. Bi Adab pun mengangguk paham, membuat Vallen segera masuk ke kamarnya lagi.


Cewek itu duduk di samping Rafa. Kemudian ia mengambil korek di kusen jendela dan coba menyalakan lilin aroma terapi yang tersimpan di tengah-tengah meja mereka.


"Astaga, jangan ngepet Val!"


"Rafa ihhh!" kesal Vallen seraya merengut.


Rafa terkekeh melihat ekspresi menggemaskan itu. Ia lalu mengambil korek yang sepertinya ragu-ragu untuk gadis itu nyalakan.


"Sama gue aja sini. Takut lo kenapa-napa," ucap cowok tersebut.


Vallen langsung memandang tunangannya. Bisa-bisanya Rafa berlaku menyebalkan dan manis dalam satu waktu bersamaan. Sial. Gadis itu jadi baper.


Untuk menenangkan jantungnya yang sedang berdegup kencang, Vallen mengatur napas sembari melihat ujung korek yang bersiap untuk Rafa tekan.


Api pun akhirnya keluar. Membuat mata Vallen dan Rafa berbinar karena pantulan cahayanya. Segera, Rafa menempelkan api itu pada sumbu lilin.


Setelah selesai, tangan Rafa yang masih memegang korek itu mendarat di atas meja. Cowok itu kemudian menoleh ke samping.


"Val?"

__ADS_1


"Um?" sahut Vallen seraya membalas tatapannya.


__ADS_2