
"Chel, Ina beneran pindah cuma karena Arcturus lebih deket?" tanya Vallen yang kebelet kepo sembari menyuapkan makanannya.
Chela mengerutkan kening dan berpikir, sejujurnya ia tahu itu adalah alasan yang kurang masuk akal, tapi Chela juga sudah bilang pada Ina akan merahasiakan alasan sebenarnya.
"Mungkin." Ia kemudian menaikkan bahu, mencoba untuk tidak peduli dengan hal tersebut, semoga Vallen dan Nasya juga
"Sttt, Val," panggil Nasya.
Vallen melirik. "Apa?"
Nasya pun menggerakkan bibirnya. Di sisi lain, Vallen bingung gadis itu sedang bilang apa.
"Hah?" tanya Vallen seraya menaikkan dagu. "Yang keras, Nasy. Ga ngeh gue!"
Nasya memutar bola matanya. Kemudian menyimpan kedua telapak tangan di sudut bibir. Ia pun memajukan badan untuk mendekati Vallen. Nasya mengambil aba-aba dengan menarik napas dan ... "Ada Devan!" teriaknya kencang.
Jleb ....
__ADS_1
Mata Vallen terbuka maksimal. Ia meneguk ludahnya kasar. Sungguh Vallen tidak berani menghadap ke belakang. Ia hanya bisa menatap Nasya dengan cemas.
"Val, kenapa?" tanya Chela berbisik.
"Vallen ... gue mau ngomong sama lo." Suara Devan makin lama makin terdengar kuat di telinga Vallen, sepertinya karena laki-laki itu berjalan mendekat.
"Makanan gue belum abis," jawab Vallen dingin.
"Gue tungguin." Devan menyilangkan tangannya setelah sampai di sebelah Vallen. Ia benar-benar berdiri dan tak berkutik sama sekali.
Vallen lanjut makan, tapi mau setidak peduli apapun dia dengan Devan. Cewek itu tetap peduli dan sadar akan keberadaan mantannya itu.
"Udah?" tanya Devan. Namun, Vallen pergi begitu saja.
"Waktu gue gak banyak," peringatnya sembari menuruni tangga besi yang lurus vertikal.
Sesampainya di lantai dua, Vallen menepukkan tangannya yang cukup kebul, tapi salah satu tangan itu tiba-tiba Devan tarik. Ia membawa Vallen untuk turun ke lantai dasar, entahlah cowok itu mau mereka bicara di mana. Mungkin taman belakang sekolah yang sepi?
__ADS_1
Selama perjalanan tak ada kata yang mereka lontarkan. Hanya ada raut dengan banyak pertanyaan di antara keduanya. Vallen berlari sambil melihat genggaman tangan Devan yang menariknya. Bukan, bukan ini yang dia setujui, Vallen bangkit duduk bukan karena sudah mau bicara dengan Devan, tapi karena ia risih Devan mengganggu makan siangnya. Dan tujuannya di sini adalah ...
"Argh!" erang Devan karena Vallen membalas genggamannya dengan tekanan kuku dia yang cukup tajam. Hal itu membuat Devan melepaskan cengkeramannya dan membalik badan. "Val kena---"
Nyatanya gadis itu sudah kabur.
"Vallen!" langsung Devan mengejar orang yang amat susah untuk ia ajak bicara hari ini. Hatinya terus mengharap bahwa masalah ini bisa selesai jika mereka berbincang, tapi Vallen kenapa? Kenapa harus terus menghindar?
Vallen melangkahkan kaki sepanjang yang ia bisa, dan berlari secepat yang dapat ia lakukan. Terus pergi menjauhi Devan yang masih terdengar ketukan sepatunya di belakang sana. Mungkin bisa saja perempuan itu lari dari kejaran Devan, tapi bagaimana pun sulit untuk lari dari masalah ini. Hanya masalah waktu, gadis itu masih butuh waktu.
Vallen berbelok ke kiri, lurus terus, kemudian belok kanan dan berlari semakin kencang hingga saat di persimpangan dan ia hendak belok lagi, ia malah menabrak seseorang.
Brakkkk!
π Bersambung ....
...β¨ Jangan lupa vommentnya gaisss βΊοΈ...
__ADS_1
...Makasih β¨...
...Vallen-nya nabrak siapa tuh! π³...