Pear

Pear
121


__ADS_3

Nasya yang ada di hadapan mereka langsung menaikkan kedua alisnya, mengisyaratkan agar Vallen menerimanya, tapi cewek itu hanya diam.


Karena hal tersebutlah, Devan inisiatif menusuk plastik bagian atas cup dengan sedotan, kemudian ia sodorkan ujung sedotannya ke dekat bibir Vallen.


"Lo susah makan banget dari kemaren. Ini minum doang loh, gak mau juga?" tanya Devan.


Vallen terpaku pada cup-nya, tidak merespon sama sekali pertanyaan Devan.


Melihat reaksi itu membuat Devan menghela napas. Kemudian tangan kirinya memegang tangan kanan Vallen agar memegang cup tersebut.


"Minum Val."


Vallen mengangkat wajah dan menatap Devan dengan posisi punggung tangan kanannya yang masih disentuh.


"Eh eh pada tau gak? Si Kania katanya ngeliat anak Canopus masuk kelasnya Kak Rafa gitu waktu hari Jumat."


"Ih? Ngapain anak sekolah lain ke kelasnya Kak Rafa?"


"Gatau, mencurigakan gak sih?"


Vallen dan kawan-kawan langsung ke-trigger dengan pembahasan cewek-cewek berbando inisial R yang duduk di belakang bangku Vallen. Telinga pun akhirnya mereka siapkan untuk menguping.


"Jangan-jangan dia maling?"


"Atau mau berbuat jahat ke anak Arcturus yang main basket?"

__ADS_1


Segera Devan menoleh ke belakang.


"Ciri-ciri anak Canopusnya gimana?" tanyanya.


Cewek yang menyebar gosip tadi pun langsung menutup mulut dengan centil. "Eh, Kak Devan ...."


"Dari info temen aku sih katanya pake topi item gitu. Orangnya tuh cowok, trus dia masuk kelasnya kakak abis cewek yang rambutnya dikucir pinggir keluar kelas sambil bawa dokumen."


"Ina maksudnya?" ucap Nasya sembari melirik gadis kucir kuda pinggir itu.


Mata Ina terbelalak.


"Gue sama sekali gak tau ada yang masuk kelas setelah gue!"


Chela kemudian angkat bicara, "Na, lo tau siapa anak Canopus yang pake topi waktu itu?"


Ina diam.


"Ngapain kakak ke Arcturus waktu itu?" tanya Ina yang yakin bahwa orang yang menabrak dirinya di Arcturus dan di mall saat bersama Rafa waktu itu adalah orang ini.


Orang itu pun menoleh. Satu alisnya terangkat, dan kemudian ia tersungging. "Bukan urusan lo."


"Bener kan itu kakak. Ina mau tau, Kak! Apa alesannya?"


Cowok di hadapan Ina menyeringai. Ia lalu memegang satu pipi gadis itu, membuat mata Ina terbelalak dan jantungnya berdebar lebih cepat. Bukan karena rasa cinta, tapi karena dirinya merasa terancam untuk kesekian kali.

__ADS_1


Ina mencoba mengenyahkan tangan itu dari dirinya. Namun, gagal. Tangan itu tetap kuat menangkup pipi. Kemudian orang tersebut malah mendekatkan wajahnya. Terus mendekat sampai hidung mereka bersentuhan.


Bulir keringat pun langsung keluar di dahi Ina. Tubuhnya gemetar dengan napas yang sangat memburu.


"Jangan pernah lo cari tau tentang itu. Kecuali lo siap gue macem-macemin. Ngerti?" ucapnya yang membuat Ina merinding di tengah keramaian rumah ini.


Orang itu meraup napas dengan mulutnya hingga suaranya bisa Ina dengar sangat jelas. Bulu kuduk Ina seketika berdiri.


Cklek ....


Suara pintu dibuka, sepertinya yang datang Marvel. Belum saja Ina mendorong orang tersebut, tapi orang itu sudah mundur duluan.


"Ngga, gue gak tau!"


***


Vallen bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah dia harus mencari tahu sang pelaku atau sebenarnya tak perlu. Namun, bagaimana bisa ia membiarkan ketidakadilan ini berlangsung. Orang itu sudah melakukan tindak kriminal dengan meracuni Rafa, tapi darimana ia harus mulai untuk mencari pelakunya?


"Udah kepikiran mau tema apa Val?" Pertanyaan Devan bukan baru sekali terlontar, sudah ia tanyakan sebelum-sebelumnya tadi.


Sepulang sekolah ini mereka berdua sengaja mengadakan kerja kelompok dadakan untuk membahas lagu yang ditugaskan Pak Gabud. Keduanya sudah duduk di taman depan sekolah dengan air terjun kecil tepat di sebelah bangku mereka.


"Vallen?" Devan memegang bahu gadis itu, membuatnya sedikit mengangkat pundaknya karena terlonjak kaget.


"Apa?" tanyanya kebingungan. Ia lantas menatap ke bawah, melihat ke arah tangannya yang sedang memegang pulpen dan buku. Astaga, Vallen lupa akan tugasnya.

__ADS_1


__ADS_2