
"Maaf udah ninggalin lo tadi," sesal Rafa. "Vallen ... maaf, maaf, maaf, maaf." Bertubi-tubi maaf terus Rafa lontarkan walau ia tahu itu tetap tidak mengubah yang terjadi sebelumnya.
Vallen terisak. Rafa yang ia tunggu sudah datang, tapi Vallen tetap merasa bahwa itu terlambat karena Frian sudah mengambil sesuatu yang tak ingin Vallen beri, ciuman pertamanya.
"Gue bego. Gak bisa jaga calon istri gue sendiri," kesal Rafa sambil menangis dan mengelus rambut Vallen dengan tangan bergetar.
"Takut ...," gumam Vallen. Lalu cewek itu pun mendongak. "Takut, Fa ...," katanya lebih keras.
Hati Rafa semakin tersayat. Ia tak tahu harus melakukan apa untuk menebus kesalahannya.
"Udah ada gue di sini, Val. Lo aman. Gue janji bakal lebih ngejaga lo lagi."
Vallen menatap Rafa sangat dalam. Perkataan yang masuk ke telinganya tadi cukup membuat Vallen lebih tenang. Dan saat Rafa memeluknya lagi, perempuan itu bahkan sudah mau membalasnya.
***
"Gue percaya Rafa bisa jaga lo," kata Devan.
Vallen diam dengan tatapannya yang berubah heran.
"Walaupun gue gak tau apa-apa ..., tapi gue yakin ada sesuatu di antara kalian."
Devan kemudian mendekatkan wajahnya pada Vallen, lalu tiba-tiba ia mengulum permen lolipop sambil bertanya, "Lo gak mau ngasih tau gitu hubungan kalian apa? Biar gue gak mati penasaran!" Devan terkekeh di akhir, sedangkan Vallen cemberut dan menampol pelan cowok itu.
"Dev, omongan lo ngelantur ih daritadi! Itu permen darimana lagi?"
Devan masih saja tertawa, ia menunjuk tas Vallen yang belum terpakai sempurna, sebab masih tergantung di salah satu bahunya saja. Dan lagi, tas itu menganga, beberapa permen lain bahkan masih ada di dalamnya.
__ADS_1
"Bilang dulu kek!"
"Iya ... Val, minta ya? Hahaha. Yaudah, ke apart gue sekarang aja?"
Vallen tersenyum, lalu mengangguk.
Sesampainya di apartemen. Devan memegang pundak Vallen dan mendorongnya pelan sewaktu masuk.
"Naik kereta api tut tut tut ...," senandung mereka. Lalu keduanya pun tertawa.
Setelah itu, Devan menyimpan tasnya. Kemudian ia menoleh pada Vallen. "Bawa bon yang waktu itu?"
"Bawa terus, gue selipin di dompet soalnya," kata Vallen yang langsung mendudukan dirinya di atas sofa.
Devan mengangguk. Selanjutnya, ia pergi ke kamar untuk mengganti baju. Dan setelah beres, ia pun keluar sembari membawa gitarnya.
"Dev, mending istirahat deh."
"Nanti aja. Mana bonnya? Baru sampe mana kita ...." Devan membaca lirik yang Vallen tulis.
"Lo pasti cape, Dev. Lupain aja dulu tugasnya ...."
"Ngga, Vallen ...," ucapnya sembari menatap Vallen dan memberi gadis itu keyakinan bahwa ia tak apa.
"Lo gak ada capenya banget sih."
Devan terkekeh. "Biar cepet beres. Kalo beres kan tenang."
__ADS_1
"Iya juga sih."
Keduanya pun berdiskusi kembali. Namun hanya beberapa menit, karena saat Vallen mencari hpnya untuk searching tentang referensi lagu dan tahunya hp itu tak ada, Vallen segera pamit untuk pulang.
"Gue gak lakuin apa-apa sama Devan," simpul Vallen setelah menceritakan semuanya pada Rafa.
"Maaf gue udah salah paham." Rafa mengelus pipi Vallen dengan lembut. "Maaf juga Val udah bawa lo terlibat dalam masalah gue dan kakak gue."
"K-kak Frian? Kakak lo?" tanya Vallen bingung.
Rafa mengangguk. Ia lalu menghela napas sembari menatap tanaman-tanaman di depan mereka yang tertiup angin. Dua insan itu masih di ujung taman, tapi sama-sama menyender ke tembok, membuat posisi diri senyaman mungkin agar pikiran dan perasaan jadi lebih tenang.
Namun, Vallen masih kepikiran tentang Frian. Mungkin itu alasan cowok tersebut bilang harusnya Vallen menjadi calon istrinya tadi, tapi Vallen segera menggelengkan kepala saat mengingat kejadian menyeramkan yang terjadi padanya setelah itu. Ia tak mau lagi mengingat Frian.
Lalu tiba-tiba telepon Rafa berdering.
"Apa, Sat?"
Fa, ke rumah sakit. Devan kritis.
Vallen dan Rafa langsung menatap sekitar dengan khawatir. Kemudian Rafa spontan menarik Vallen untuk berlari ke area depan rumah.
🍐 Bersambung ....
...Jangan lupa vomment yaaa...
...Makasihhh...
__ADS_1
...Gak kerasa, part berikutnya udah ending guysss 😟...