Pear

Pear
164


__ADS_3

Di malam sebelum Vallen datang ke rumah sakit untuk menjenguk Mira, kedua orangtuanya masuk ke kamar dan meminta waktu untuk bicara.


Vallen menghentikan aktivitas chatting-annya dengan Nasya dan Chela.


"Kenapa Mah, Pah?"


"Besok Vallen ikut kita ke rumah sakit ya? Kan masih libur sekolah," ajak Aya.


"Ngapain, Mah?" Mata Vallen segera melebar. "Mamah sakit? Atau ... papah? Ngga kan? Kalian sehat kan?" tanyanya khawatir


"Mamah sama papah baik-baik aja, Sayang. Kita ke sana buat jenguk Tante Mira."


"Tante Mira sakit?"


Aya mengangguk.


"Vallen?"


"Iya?"


"Vallen sayang sama Tante Mira?"


Vallen sedikit kebingungan karena pertanyaan itu, tapi ia pun menjawab, "Sayang, soalnya Tante Mira seru orangnya, apalagi pas diajak cerita. Tante Mira juga baik banget sama Vallen."


Dika mengembangkan senyumnya. "Kalo ... Tante Mira minta sesuatu sama Vallen nanti. Tolong turuti yah? Karena Papah dan Mamah yakin itu baik buat kamu."


Vallen diam, ia tak tahu nanti Tante Mira akan meminta apa. Namun beberapa saat kemudian ia kembali membuka suara, "Kalo Vallen mampu, Vallen bakal lakuin, Mah, Pah."


"Dan saat gue tau permintaannya itu apa ... gue pikir gak ada salahnya juga nerima, toh gue udah tau cukup banyak tentang anaknya bunda gimana. Walaupun, di awal-awal rasanya lo gak sesuai sama ekspektasi gue, cuma lama-lama ... okelah sifatnya, 'Rafa anaknya Bunda Mira' mulai bisa gue kenalin dan sesuai sama apa yang bunda ceritain."

__ADS_1


"Ketiga! Selama liburan kenaikan kelas itu gue terus mikirin tentang alesan Devan sering gak masuk sekolah, kan. Nah, gue mikir alesan dia bolos tuh karena selingkuh, tapi gak pernah sampe ketauan gue. Jadi tanpa pikir panjang, mending gue nerima lo aja daripada terus-terusan ngebatin tentang Devan. Eh taunya, Devan gak masuk karena harus kemo," jelas Vallen panjang lebar. Kemudian ia pun menghela napas sambil menatap mata Rafa dengan lekat.


"Dan yang terakhir, karena hati gue tiba-tiba percaya gitu aja, kayak dunia udah nyuruh gue buat setuju saat itu juga. Ya ... mungkin emang udah takdirnya gue harus tunangan sama orang jelek."


"Heh!"


Vallen terkekeh. "Kan, Fa Jelek."


"Ya tapi gue gak jelek beneran!"


"Iya Rafael Hansel Samudra ...."


"Sejak kapan inget nama gue?"


"Sejak aku mencintaimu ...," jawab Vallen asal.


Rafa lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Alaynyaaa."


"Abisan kalo bukan gue yang mau nikahin lo nanti, siapa lagi," jawab Rafa yang seketika membuat Vallen membelalakkan matanya.


"Heh Devan mau, tau! Eh ...." Gadis itu langsung menutup mulutnya.


Rafa tersenyum kecil sembari mengelus rambut Vallen.


"Lo gak inget gue sama sekali apa?"


Vallen menautkan alis. "Inget gimana?"


"Anak gembul yang suka lo kasih sandwich pas SD."

__ADS_1


"Hah, i-itu lo?!" tanya Vallen kaget.


"Ya."


"Sumpah?"


Rafa menjawabnya dengan deheman.


"Dari kecil gue udah suka sama lo, Val," jujur Rafa. Lalu Vallen yang tadinya heboh mengetahui fakta jadi lebih diam.


"Suatu waktu gue pernah ngobrol sama Devan," lanjut cowok itu.


Devan baru saja mengantar Claudi ke kelas, tapi ia berbalik badan untuk pergi entah kemana lagi, dan saat itu terjadi Rafa berdiri menghalanginya.


"Apa? Mau gangguin Claudi juga?" tanya Devan.


Rafa menggeleng. "Aku mau jagain Claudi!"


"Gak perlu. Itu tugas aku."


"Aku juga mau!"


"Gak usah!"


"Gue rasa Devan bener-bener bisa jadi orang yang lo andalin selama ini, sedangkan gue sama sekali gak punya kesempatan buat bisa deket. Padahal sampe beberapa taun setelah gue pindah dari SD itu pun, gue masih aja kepikiran sama lo. Sampe nanya ke bunda kapan keluarga kita balik lagi ke Bandung, itu karena gue kangen Bandung, dan karena di kota ini ... lo ada."


"Alaynyaaa," balas Vallen yang keluar dari sisi tercengangnya barusan.


Rafa langsung berdecak. "Rese.”

__ADS_1


“Tapi abis pindah gue malah suka sama Ina, ditolak, trus trauma,” kata Rafa sejujur-jujurnya. Vallen terbahak keras karena itu.


__ADS_2