Pear

Pear
103


__ADS_3

"Itu yang namanya Erkan," jawab Vallen yang pada akhirnya merangkul Nasya sambil menatap orang-orang di tengah lapangan itu.


"Oh! Yang ngirim tulisan 'lets play' sama ngelempar batu itu?"


"Hu-um."


"Ahhh, yang itu ternyata orangnya. Kece beut!"


"Kece tapi kelakuannya minus mah buat apa," celetuk Chela.


Nasya langsung memutar badannya ke arah Chela. "Minus?"


E-R-K-A-N, eja Nasya dalam hati.


"Erkan orangnya!" tebak Nasya.


"Secret admirer-nya Vallen?" tanya Chela memastikan. Nasya pun mengangguk.


"Nama pengirim itu bukan strip lima, tapi minus lima! Minus karena kelakuan pengirimnya gak bagus. Ditambah lagi, nama 'Erkan' masuk dua dari beberapa kriteria yang kita tebak waktu itu. Pertama, inisial dia huruf ke 5. Kedua, huruf di nama dia ada 5. Fix, Erkan orangnya!" jelas Nasya panjang lebar dengan suara penuh energi.


Ina terlihat berpikir sejenak, mengetahui sedikit tentang Erkan karena pernah satu sekolah dengannya ... rasanya itu tak mungkin. "Mmm, setau gue Erkan tuh ... anti banget sama cewek."


"Dia homo?" Chela belotot. "Ke-keren keren gitu ... Oh My God!"


"Ng-nggak gitu Chel." Ina menggerakkan telapak tangannya cepat seperti sedang dadah. "Erkan tuh suka buat onar, trus galak banget, nyolot abislah bahkan saat cewek deketin dia sekali pun. Bagi dia ngomong sama cowok atau pun cewek keak sama aja gitu, kasar. Sejauh yang gue tau pun, Erkan belum pernah pacaran, suka sama cewek aja anak-anak di Canopus gak ada yang tau Erkan pernah apa nggak, eh pernah sih ada gosip dia sama satu cewek, tapi abis itu gatau deh kelanjutannya. Sekeras itu orangnya."

__ADS_1


"Tapi, Na. Gak menutup kemungkinan si Vallen jadi first love-nya dia," sanggah Nasya yang kuat pendiriannya.


Ina pun memandang Vallen sesaat sebelum fokus pada Nasya. "Gak tau deh, tapi rasanya aneh aja. Tiba-tiba banget ke Vallen 'kalo beneran dia orangnya'."


Nasya menyipitkan mata sembari memandang lapang, lalu sesuatu melintas lagi di pikirannya, membuat matanya terbelalak. "Jangan-jangan Erkan sama Devan lagi ngomongin Vallen di sana!"


***


"Tuan rumah kalo kalah pasti seru," ujar Erkan.


"Arcturus bakal menang!"


"Udah sejarahnya Arcturus tuh kalah. Gak usah nampik, malu lo kalo nanti kalah bahkan di penyisihan pertama." Erkan menyeringai.


"Sialan!" ucap Erkan keras.


"Kenyataanya gitu kan? Canopus cemen, sama kek orang di dalemnya."


Erkan menggertakkan giginya karena geram. Devan harus bersyukur jika ia berniat untuk menyulut emosi Erkan, selamat, cowok itu berhasil!


"Arcturus kalo kalah ya kalah aja! Gak usah nuduh Canopus main curang!"


"Cih, sejak kapan Canopus menang murni?"


"Ngomong apa lo, Anjing?!" Erkan meremas serta menarik jersey basket Devan bagian pundaknya, mata yang menyorotkan amarah itu tajam menatap lawannya. Satu tangan pun sudah terkepal untuk memukul cowok tersebut.

__ADS_1


"Jangan buat keributan sebelum tanding. Gak seru kalo akhirnya sekolah kita di-dis," ucap Devan santai yang berhasil membuat Erkan melepaskannya walau kasar sebab sambil mendorong dengan kuat. Erkan pun pergi untuk menuju tujuan awalnya, yakni kelas kosong yang bertuliskan "Canopus" sebagai ruang tunggu, istirahat, dll. Anggota basket lainnya mengikuti di belakang Erkan, termasuk beberapa murid berseragam Canopus yang akan mendukung mereka.


Devan melihat Rafa masih membuka kertas di meja panitia, ia kemudian berucap pada anggota lain. "Kalian lanjutin pemanasan, gue pergi dulu."


***


"Mana seragam lo, Mar?" tanya seseorang saat sampai di area wc.


Marvel yang tadi memisahkan diri dari rombongan sekolahnya pun segera mengeluarkan seragamnya. Ia memberi itu dengan santai bahkan sambil tersenyum dengan deretan giginya yang terlihat.


"Good luck, Bro."


"Yo."


"Kalo kucing aja bisa ilang nyawanya karena lo, gue penasaran surprise part 2 ini apa jadinya."


Seseorang yang menerima seragam Marvel itu menyeringai.


"Kita liat nanti."


🍐 Bersambung ....


Jangan lupa vomment guysss


Makasiii 🥰

__ADS_1


__ADS_2