
"Lalu kamu akan melawan para pemberontak dengan bola itu? Di mana pikirmu? Kenapa tidak kau siapkan panahan, tembakan, atau berlatih bela diri dan tenaga dalam?" Putri Vallen melipat kedua tangannya di dada dan menatap panglima dengan angkuh.
Anehnya, sang panglima tersebut malah tersenyum pada putri. "Tuan Putri, setiap kerajaan memiliki senjatanya masing-masing, dan inilah yang kami punya," jelasnya.
Putri Vallen berdecak mendengar itu. "Kau pikir kerajaan ini tak mampu untuk membelikan senjata lain, hah?"
"Bukan begitu Tuan Put---"
"Ah! Atau aku saja yang seharusnya melatih mereka semua?" Putri Vallen menaikkan satu alisnya. "Dan kau ... Devan Mahesa Anggara akan menjadi seorang budak!" bentaknya sambil mendorong dada panglima itu dengan telunjuk.
Panglima Devan menggeleng tak percaya. "Tuan Putri ...."
Baru saja lelaki itu hendak mengutarakan pendapatnya, Putri Vallen langsung seenaknya mengambil mahkota sang panglima kemudian menginjaknya.
"Supaya kau mengerti semua yang telah kau ajari pada mereka adalah hal gila yang sia-sia!" ucapnya sambil terus menginjak mahkota sampai hancur. Panglima Devan hanya bisa menatap nanar pada mahkotanya sendiri yang sudah ia berusaha dapatkan sejak lama.
"Aku berhak menurunkan pangkatmu. Pergi dan jadilah budak!"
Panglima Devan menggeleng, ia sungguh tak mau. Namun satu hal lagi yang Putri Vallen lakukan, ya, dia mencopot kain hitam yang terlilit di lengan lelaki itu.
Panglima berusaha mempertahankan itu, tapi putri mencubitnya.
"Selesai, kau resmi jadi budak!"
Putri Vallen tertawa kecil sebelum akhirnya mendekat pada prajurit.
__ADS_1
Di belakangnya, masih ada panglima yang melihat dia.
"Baik, aku turuti perintah Tuan Putri."
"Sudah sepatutnya," ucap Putri Vallen singkat dengan berbalut senyum sombong, ia berkata tanpa menoleh ke belakang. Panglima pun pergi.
"Buang semua bola jingga tak berguna itu!"
Semua prajurit saling berpandangan, tapi akhirnya mereka menuruti putri dan melempar semua bola itu ke sembarang arah.
"Sit up 9 kali, push up 99 kali dan squatjump 999 kali!" titah putri Vallen lagi, para prajurit menelan ludahnya kasar bahkan sebelum mereka memulai.
"SEKARANG!"
Prajurit pun mulai melakukan pemanasan.
"Siapa kalian?" tanya Putri Vallen gemetar karena mereka semua langsung menyebar begitu saja.
"S-siapa?!"
Dug dug dug ....
Sebuah tongkat diketukkan oleh pemimpin pasukan hitam itu. Ia pun membuka tudung yang menutupi kepalanya, padahal rasanya itu tak berguna karena topeng yang menutupi wajah bagian atasnya kecuali mata pun masih setia menyembunyikan identitasnya.
"Tidak kah kamu ingat aku Putri Vallen yang Sombong?" Saat orang itu mulai bicara, para prajurit hitamnya mendekati putri Vallen untuk mengekang tangannya.
__ADS_1
"Lepas!" teriak putri.
"Siapa kamu? Kenapa datang ke sini? Kenapa orang jahat seperti kamu diperbolehkan masuk oleh penjaga?!"
"Hahahahahaha." Tawa menggelegar keluar dari mulut si pemimpin yang bisa diketahui bahwa dia adalah seorang wanita. "Orang jahat? Lantas Tuan Putri pikir ... dirimu orang baik?"
"Cih!"
"Bawa dia ke gedung tua!" titah pemimpin.
"Lepas! Lepas!!!"
Para prajurit Arcturus diam melihat itu, mereka juga sudah diperingati untuk tidak mendekat pada putri karena panah prajurit hitam mengarah pada satu-satu dari mereka.
Putri Vallen pun ditarik paksa oleh prajurit tersebut.
"Tolong! Tolonggg!" pintanya tanpa ada yang menanggapi.
Hingga ia jauh dari pandangan para prajurit ... Panglima Devan baru datang. Beruntungnya, lelaki itu melihat Putri Vallen walaupun jauh di depan sana.
"Putri!" panggilnya.
"Tolong ... tolong!" Suara sang putri masih terdengar sekali pun samar adanya.
"Kalian bodoh? Kenapa diam saja? Ambil semua bola kalian, kita susul Putri Vallen!"
__ADS_1
"Tapi panglima ...."