Pear

Pear
135


__ADS_3

Borderline Personality Disorder atau kerap disingkat BPD, ialah gangguan kepribadian yang Marvel alami. Yang membuatnya mudah berubah mood, gegabah, dan sulit mengatur emosi. Semua yang terjadi pada Marvel karena masa lalunya, bahkan hingga akhirnya ia bergabung dengan geng Rigel, adalah karena semua yang ada di sana kurang lebih mengalami nasib yang sama sepertinya. Namun pada dasarnya, selama ini Ina selalu mewajarkan semua yang Marvel lakukan, bahkan Ina pernah bilang kalau dia ingin mengubah Marvel dan membantu emosinya tetap stabil.


Ina juga jadi sosok yang sangat sabar dalam menghadapinya, termasuk saat menemaninya ke psikiater, tapi cowok itu kaget sendiri saat Ina menamparnya dengan keras seperti tadi. Apakah Ina menyerah dengan dirinya? Apakah Ina sungguhan akan pergi dari hidupnya? Marvel sangat tidak mau hal itu terjadi.


Mata Marvel memerah, ia lalu beranjak dari tempatnya berada.


Vallen dan Devan ikut berlari untuk mengejar Marvel, tapi kemudian ponsel Vallen berbunyi, membuatnya harus mengeluarkan itu dari saku blazer abunya. Vallen menautkan alis tak tega. Terpaksa, ia harus me-reject panggilan tersebut.


Sorry, Fa, batinnya.


Bruk!


Di belokan, Vallen menabrak seorang dokter hingga keduanya jatuh karena saking kerasnya.


"Aw ...," erang Vallen saat merasakan lututnya menubruk lantai.

__ADS_1


Sebuah tangan kemudian tiba-tiba terulur. Vallen meluruskan pandangan, menatap telapak tangan yang berada cukup jauh dari depan wajahnya.


"Dok?" panggil Devan.


Dokter muda yang tak lain adalah Meisha, langsung menempatkan tangannya di atas tangan Devan. Lelaki itu kemudian membantunya berdiri.


"Makasih, Dev," ucapnya yang telah berpijak sempurna sembari membersihkan bajunya dari debu.


Devan mengangguk, ia kemudian beralih pada Vallen dan membantu gadis itu berdiri.


Vallen tercengang mendengar dokter tersebut menyebut "Dev", itu berarti ia mengenal Devan. Terlebih lagi, Devan malah mendahului dokter tersebut daripadanya.


Vallen menggeleng seraya menoleh pada mantannya. "G-gue gapapa."


Setelah itu, Vallen kembali menatap Meisha untuk minta maaf. Kemudian saat dirinya kembali teringat Marvel, Vallen langsung melanjutkan larinya.

__ADS_1


"Permisi, Dok," pamit Devan.


Meisha masih menatap ke tempat awal Vallen berdiri sebelum Devan berkata demikian, lalu ketika ia hendak melihat ke arah cowok tersebut, nyatanya Devan sudah mulai berlari, membuat Meisha harus memutar badan untuk menyaksikan mereka berdua yang terburu-buru entah untuk urusan apa.


***


Langit di atas sana sudah mulai berwarna jingga, memasuki waktu petang, tapi Devan dan Vallen masih berada di jalan. Menunggu lampu lalu lintas yang berwarna merah itu berangsur kuning dan akhirnya hijau. Beruntung, Marvel tidak menyerobot lampu merah, jadi mereka berdua tidak tertinggal jejaknya.


Devan mengetukkan jari di stir mobil, pandangannya fokus pada lampu lalu lintas. Sedangkan Vallen? Dia menatap kosong ke depan. Memikirkan apa yang sedang terjadi antara dokter itu dan Devan. Vallen heran kenapa Devan seolah memperlakukan dokter muda tersebut seperti anak seumurannya, yang beda hanyalah Devan tetap memanggil dia "Dok" dan bukan nama. Vallen penasaran, siapakah dokter cantik itu, tak sempat pula ia melihat name tag-nya karena gagal fokus dengan paras cantiknya ditambah lagi ia terlihat kalem. Mungkinkah Devan akhirnya menemukan penggantinya? Tapi rasanya Vallen ...


... tak terima(?)


Argh! Vallen fokus Vallen!


Gadis itu menggelengkan kepalanya sambil menutup mata.

__ADS_1


Lampu sudah hijau, Devan kembali melajukan mobilnya. Ia mengikuti motor Marvel yang ngebutnya minta ampun. Untung saja Devan bisa menyesuaikan.


***


__ADS_2