Pear

Pear
134


__ADS_3

"Ma-Marvel?" ucap Ina pelan. Marvel segera menarik kenop hingga pintu tertutup.


"Perlu aku peringatin lagi, Na?" tanya Marvel yang masih menempatkan ponsel di pinggir telinganya.


Ina menurunkan hp dan seketika menunduk.


"Maaf."


Marvel menggeretakkan gigi, kemudian ia menyeret Ina dengan kasar.


***


Vallen berbalik badan saat merasakan ada orang di belakang. Nyatanya itu Devan. Cowok tersebut melihat Vallen sekilas, sebelum akhirnya menarik gadis itu karena di depan mereka ada Marvel dan Ina yang lewat.


Mata Vallen terbelalak, tapi ia segera menyesuaikan langkahnya dengan langkah Devan yang bisa dibilang cepat. Cowok itu membawa Vallen dengan gesit karena mereka harus melewati jalan lain yang lebih rumit agar tidak ketahuan. Hingga akhirnya yang diintai itu menghentikan langkahnya, kemudian Vallen dan Devan bisa berdiam diri sementara dengan berhalangkan tembok di sebuah persimpangan.


***

__ADS_1


"Tangan aku sakit, Mar!" rintih Ina seraya menarik tangannya sendiri. Jeratan Marvel sangat kencang, bahkan membekas merah saat cowok tersebut melepaskannya.


Kabut amarah menyeruak di mata Marvel. Ia mendorong Ina sampai punggung gadis itu terbentur tembok rumah sakit. Mata Ina berkaca-kaca merasakan sakit di badannya.


"Kenapa sih, Na. Kenapa gak pernah nurutin omongan aku!" bentak Marvel.


Lelaki itu kemudian menjepit dua pipi Ina dengan tangan kanannya. "Selalu aja ingkar! Iya iya cuma di depan aku doang, pas aku lengah kamu langsung pergi lagi. AKU GAK MAU KAMU PERGI, NA!"


Marvel menjorokkan Ina ke samping  sampai gadis itu jatuh.


"Marvel jangan gini ..., aku takut, hiks."


"Marvel aku ke sini cuma mau jenguk Rafa ...."


"RAFA GAK AKAN MATI CUMA KARENA GAK KAMU JENGUK!" marahnya seraya menekan dagu Ina saat memegangnya.


Tangis Ina tak berhenti, air mata itu terus mengalir. Lalu kedua tangannya ia gunakan untuk menyingkirkan tangan kanan Marvel. "Sakit!" lirihnya. Namun hal itu malah membuat Marvel makin marah. Malahan tangan kirinya terkepal, lalu ia gunakan untuk menonjok tembok di belakang gadisnya.

__ADS_1


Ina terisak. Ia lalu mengeluarkan seluruh tenaga yang ia punya untuk bisa lepas dari Marvel. Tangan Ina mencekal pergelangan tangan pacarnya itu, lalu menghempaskannya dengan kasar.


"AKU CAPE MAR! AKU CAPE SAMA KAMU DAN SEMUA YANG BERHUBUNGAN SAMA KAMU!"


"KALO KAMU NURUT KITA BAKAL BAIK-BAIK AJA!" balas Marvel.


"Apa sih salahnya aku deket sama Rafa, hah? Rafa sahabat aku, Mar!"


"Kamu udah kepengaruh sama dia! Gara-gara dia, kamu ngejauh, trus pindah sekolah! Sengaja kan kamu hindarin aku biar bisa deket sama dia!"


Ina menggeleng. "Nggak! Semuanya bukan karna Rafa!"


"BELA AJA DIA TERUS!"


Ina menampar pipi Marvel sangat keras. Ia kemudian bangkit berdiri, lalu lari menjauhinya.


Sudah cukup, Ina lelah harus menyimpan rahasianya sendirian. Rahasia yang malah membuat semuanya jadi salah paham dan berantakan. Rahasia yang bahkan sampai sekarang tidak bisa ia ungkapkan pada Marvel. Ina menampar bukan karena marah sungguhan, melainkan ia harus bisa membuat Marvel pergi dari kehidupannya. Ina tidak bisa lagi memaksa dan dipaksa untuk tetap bersama Marvel. Karena jika masih tetap berpacaran, Ina akan terus dibawa cowok itu untuk membaur bersama geng Rigel. Ina lelah terus-terusan merasa terancam. Lebih baik gadis itu hidup tenang daripada terus dibawa Marvel ke basecamp itu tanpa bisa ia ungkap perihal ketakutannya dengan seseorang.

__ADS_1


Jika Ina nekat memberi tahu Marvel, dirinya bukan hanya merasa terancam lagi, mungkin ia akan hancur.


Marvel berdiri dan menonjok tembok lebih keras dari sebelumnya. Ia abaikan tentang rasa sakit di buku-buku jarinya, karena ia akan merasa lebih sakit jika seseorang meninggalkannya.


__ADS_2