Pear

Pear
78


__ADS_3

"Apa Fa Jelek?" tanya Vallen.


Rafa pun menggerakkan kepala ke arahnya. Menatap mata Vallen yang jadi sering dia lihat setiap harinya. Mata beriris cokelat itu terlihat mengkilap bahkan di tengah suasana mendung begini. Entah kenapa Rafa baru sadar mata Vallen benar-benar indah, keduanya matanya bisa menenggelamkan ia tanpa perlu air sedalam samudra.


Seintens apapun Rafa memandangnya, cowok itu bahkan tidak sadar bahwa pupil mata Vallen membesar saat ini. Ia juga tak tahu debaran sekencang apa yang sedang Vallen rasa saat menunggu ia kembali bicara.


"Gak jadi," jawab Rafa.


Sedetik lalu ingatannya bahwa Vallen dan Devan akan pergi besok tiba-tiba saja melintas. Rafa sadar diri, ia masih belum bisa mengekang Vallen untuk melakukan apa yang dia mau. Vallen dan Rafa, keduanya sama-sama tak tahu bahwa takdir akan menjerat mereka bersama. Namun karena mereka sudah terjeratlah, Rafa tidak lagi mau menambah kekangan itu. Vallen masih seorang remaja, masih butuh bebas, masih butuh ruang mengenal dunia. Rafa harus mengalah dengan egonya sekali pun ia bisa saja mengatur Vallen karena itu haknya sebagai suami.


"Kebiasaan," tanggap Vallen lemas. Ia pikir Rafa akan berkata sesuatu gitu, tahunya hanya mengerjai saja.


Dirinya pun kembali membenamkan wajahnya di tangan.


"Lurusin kaki lo," suruh Rafa.


Vallen langsung mengangkat lagi kepalanya, lantas menuruti perkataan Rafa. Ia tahu kakinya yang ditekuk sedangkan tengah memakai rok selutut adalah posisi yang kurang sopan apalagi jika dilihat dari depan, ya sekali pun Vallen juga memakai celana lagi.


Karena tak ada tumpuan untuk wajahnya, ia pun memaksakan untuk tunduk.


"Ngantuk?" tanya Rafa pelan.


Vallen mengangguk dengan matanya yang terpejam.


Rafa menghela napas seraya menatap hujan.


Hening.

__ADS_1


"Val."


"Hm? Gak jadi," ledek Vallen sembari memaju-majukan bibirnya.


"Jadi. Gue buka jasa penyewaan bahu buat kebo," ucap Rafa.


"Nggak, gue bukan kebo." Vallen masih menggunakan suara yang lemas. Galau hari ini sangat menguras energinya.


"Bukan kebo, kan Buffalen."


"Bicit Fa Jelek ..."


Tangan gadis itu tiba-tiba mendarat di lutut Rafa, ia kemudian menidurkan wajahnya di atas tangan.


"Eh, Val?" kaget Rafa seraya mengangkat tangannya seperti baru terciduk polisi.


Cowok itu pun menghela napas, tidak enak jika dilihat orang dengan posisi mereka begini.


Ia kemudian menyatukan rambut Vallen, mengangkat wajah gadis tersebut perlahan menggunakan tangan kirinya, lalu meletakkannya di pundak. Puncak kepala Vallen menyentuh leher Rafa, membuat aroma dari shampoo Vallen yang ia hirup setiap cewek itu habis mandi samar-samar tercium oleh hidungnya.


Tangan kanan Vallen masih di sekitar paha Rafa, sedangkan tangan kirinya sudah terkulai lemas di depan perutnya sendiri. Rafa rasa Vallen benar-benar capek, mungkin karena habis demo eskul.


***


Demo eskul hari kedua berjalan tak kalah meriah dari yang kemarin. Semua murid pindah dari duduknya yang semula melingkari lapang jadi berdiri acak karena sekarang penampilan eskul pecinta alam. Anak eskul yang dipimpin oleh Bayu itu melakukan aksi panjat dinding yang alatnya terletak di pojok lapangan. Dengan kecepatan yang tinggi mereka memanjat, hal itu mendapat sorakan heboh karena penonton terkejut, mereka seperti titisan spiderman yang sedang memanjat gedung.


Di daerah XII IPA 3, Vallen dan kawan-kawan baru saja keluar kelas dengan Chela yang tak henti-hentinya menyanyi. Mereka sedang mendekat ke arah dinding panjat.

__ADS_1


"Nangis batinku ... nggrantes uripku.


Teles kebes netes eluh cendol dawet.


Cendol dawet, cendol dawet seger!


Cendol cendol."


"Dawet dawet!" lanjut Nasya.


"Cendol cendol."


"Dawet dawet!"


"Cendol cendol."


"Dawet dawet!"


"Cendol dawet seger! Piro?"


"Lima ngatusan."


"Terus?"


"Gak pake cendol!" sambung Satria.


Chela segera menendangnya dan melanjutkan lagi nyanyinya sambil mendongak ke atas untuk melihat puncak dinding. Di pinggirnya ada Satria yang joget-joget tidak jelas sesuai irama lagu, itu membuat Rafa dan Devan cukup merasa malu karena sahabatnya heboh sendiri, mengundang beberapa tatapan aneh dari adik kelas.

__ADS_1


__ADS_2