Pear

Pear
Chapter 15 (1)


__ADS_3

"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab dua orang yang berada di ruang keluarga.


Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Rafa naik ke tangga. Vallen yang masih duduk membawa matanya untuk mengikuti pergerakan cowok itu, bahkan sampai Rafa masuk kamar, bisa terlihat karena di depan kamar mereka ada balkon yang menghadap ke bawah sini. Sebagai info saja, ruang tamu sampai ruang keluarga rumah ini memang mempunyai atap tinggi karena sejajar dengan bangunan tingkat duanya.


"Vallen kamu juga ke kamar sana," suruh Hilman yang berbalik badan.


Vallen pun menurut.


Langkah kaki gadis itu terasa berat saat menaiki tangga, pikirannya dipenuhi oleh berbagai kemungkinan tentang hubungannya dengan Rafa. Vallen bukannya marah Rafa dekat dengan Ina, ia hanya butuh penjelasan agar di kemudian dirinya dapat menyesuaikan.


Rafa atau Devan, bahkan sampai saat ini keduanya masih menjadi sebuah pilihan.

__ADS_1


Perempuan itu menyeret tangannya yang berada di pegangan tangga. Vallen tidak menunduk, ia malah mendongak walau pandangannya penuh keraguan. Sesampainya di depan kamar, Vallen membuka pintu dengan perlahan.


Di sana, di kamar itu, Vallen tidak melihat adanya Rafa. Sepertinya ia sedang di kamar mandi.


Gadis itu pun memutuskan untuk duduk di kasur dan melepas tasnya. Ia duduk di tepi kasur dekat meja belajar agar bisa melihat keluar jendela. Pikirannya masih berantakan, semua yang dilihatnya tidak jelas, buram, Vallen bukan ahli filsafat yang dengan mudah mengerti semua kejadian di hidupnya. Dari sudut mana pun ia berpikir, pada akhirnya Vallen butuh penjelasan dari orang lain. Namun tak ada satu pun yang memberi tahunya, baik Chela yang merupakan teman Ina, juga Devan yang merupakan sahabat Rafa.


Awal-awal Vallen mengetukkan satu jari ke jari lainnya sembari memandang langit yang mendung sekaligus menggelap karena hendak malam di luar sana, tapi karena masih tidak tenang juga, ia pun mengambil guling dan membentangkan benda itu di pahanya. Sesekali ia bungkuk hingga kepalanya menyentuh guling tersebut. Sesekali pula Vallen membaringkan tubuhnya seraya menendang-nendang kasur memakai kakinya yang masih menggantung.


Hati Vallen gundah, kenapa semua orang memberi teka-teki tanpa memberi jawabannya? Vallen menyerah, ia tak bisa menjawab Rafa dan Ina punya hubungan apa.


Kemudian bibirnya pun melontarkan sebuah kata, "Rafa ...."


Sedangkan lelaki yang baru mandi itu terus mengeringkan rambutnya, nampak tidak peduli dengan panggilan tersebut.

__ADS_1


"Rafa," panggil Vallen sekali lagi, tapi Rafa masih sibuk sendiri, menjadikan Vallen mendesis karena kesal.


"Rafa, Ina pacar lo?" tanyanya to the point seraya memandang Rafa dengan penuh harap, ia sangat ingin mendapat jawaban yang sebenarnya.


Rafa berhenti melakukan aktivitas bersama handuknya, ia pun menoleh sesaat pada Vallen hingga mata mereka bertemu. Namun setelahnya, Rafa beranjak menggantung handuk di belakang pintu.


"Fa, jawab ...."


"Bukan."


Vallen sedikit mengangkat wajahnya karena alhasil Rafa menjawab. "Terus Ina siapa lo?" cecarnya lagi, karena siapa tahu Rafa sedang mood menjawab 'kan? Jadi ini kesempatan yang bagus.


"Bukan siapa-siapa."

__ADS_1


"Lo tadi abis darimana?" Nada Vallen sungguh terdengar lembut, bukan suatu nada menginterogasi yang mendesak. Tentu saja karena Vallen hanya sekedar ingin tahu, bukannya mau menghakimi Rafa.


"Nganter Ina."


__ADS_2