
Vallen dan kawan-kawan sedang duduk di depan kelas untuk menunggu guru olahraga. Cewek-cewek itu sudah siap dengan baju olahraganya, sedangkan para cowok masih ganti baju di dalam kelas.
"Guys, tadi gue dapet surat." Vallen memecah keheningan setelah sebelumnya mereka hanya memerhatikan daun-daun yang tertiup angin di area lapang.
"Hah? Dari siapa Val?" tanya Nasya antusias.
Vallen menaikkan bahu. Ia pun berdiri untuk mengambil surat yang disimpan di saku celana belakangnya.
"Katanya sih yang ngasih anak Canopus," ucap Vallen seraya mengasongkan kertas itu yang tak ayalnya menjadi benda rebutan bagi Chela dan Nasya. Akhirnya mereka pun membaca bersama-sama saja dengan Nasya yang merapatkan dirinya ke Chela, pula Ina yang ikut mengintip.
"Hai," kata mereka serempak.
"Ciaelaah, nih orang jauh-jauh ngirim cuma bilang hai doang. Hahahaha!" Chela tertawa keras, diikuti oleh Nasya dan Ina. "Ribet amat, Bang!" celanya sebagai tambahan.
"Hahaha, gabut kali yah dia. Ngirim tuh beserta apa kek, cokelat misal, bunga, gak modal ini mah!" ujar Nasya menghakimi.
Yang lain tertawa kecuali Vallen, gadis itu malah mendengus sebal.
"Bicit sikili timin-timinki ini!"
"Hahaha, kalian bukannya bantuin cari tau siapa yang ngirim, malah ngeledekin," kata Ina yang sangat amat disetujui Vallen.
"Nah kan! Laknat emang mereka berdua!"
"Heh!" omel Chela dan Nasya.
"Apa lo?" tanya Vallen ketus seraya duduk dengan membelah posisi keduanya, jadi dia berada di tengah mereka.
"Haaai," ejek Nasya dan Chela lagi sambil bergantian menyenggol Vallen. "Cie cie, haaai!"
__ADS_1
"Berisik!"
"Hahaha. Ok serius nih, ayo jadi detektif dadakan! Kode pengirim di sini dibaca minus lima atau strip lima sih, jadi lima doang maksudnya?" Nasya memandang kertas dengan bingung.
"Ntah," jawab Vallen singkat.
Mereka pun mulai berdiskusi.
"Huruf ke 5?"
"E."
"Abjad kalo turun 5?"
Chela pun menghitung dulu huruf alfabet secara mundur. "V."
"Atau nama pengirimnya ada 5 kata?"
"Atau 5 huruf?"
"Ah ribet!" kata Vallen menyerah sebab terlalu banyak kemungkinan. Ia berdiri sambil memandang tiga temannya yang seakan tidak mendengar keluhannya tadi, mereka masih saja berunding.
"Devan! Pacar lo dapet surat!" teriak Nasya dengan binar mata saat melihat Devan baru keluar kelas. Vallen yang masih berdiri pun segera merutuki gadis itu dalam hati.
Giliran Devan keluar aja ngeh!
Selanjutnya, ia terpaku menatap Chela, seakan mereka berdua sedang berkata, 'Ngapain panggil Devan segala!'
Satria yang baru muncul langsung ikut bicara. "Apaan neh?"
__ADS_1
Tidak direspon cewek-cewek.
"Surat apa?" tanya Devan.
Nasya langsung memberikan suratnya. "Baca deh, baca baca!"
Sebelum menunduk dan membuka kertas yang hanya dilipat satu kali ini. Devan memandangi dulu para cewek di depannya, juga Vallen yang ada di sampingnya sekarang.
Kemudian tanpa suruhan pun Bayu dan Satria langsung mepet pada Devan karena ingin membaca juga. Tak jauh beda dengan Rafa yang terakhir keluar kelas dan ikut penasaran. Karena ada Vallen yang menghalangi pandangannya untuk melihat kertas yang dibawa Devan, maka Rafa pun mencolek leher bagian belakang Vallen sampai-sampai membuat cewek tersebut mendongak karena kegelian.
Refleks Vallen menarik napas banyak lewat mulutnya hingga menimbulkan suara, "Hhhh!"
Ketiga cowok di dekatnya pun spontan melihat dia. Vallen membuka lebar matanya saat menyadari apa yang terjadi, ia segera memperlihatkan sederet giginya dengan canggung.
"Kesambet lo?" tanya Satria heran.
"Enak aja!"
Vallen pun duduk kembali. Dia menatap sebal ke arah Rafa yang nampak tidak merasa bersalah sama sekali. Cowok itu fokus pada kertas yang akhirnya Devan buka juga lipatannya.
"Hai." Devan bersuara, lalu ia menghadap cewek-cewek lagi. "Kalian belum nemu jawaban pengirimnya siapa?"
"Belum," jawab mereka serempak.
Devan termenung memikirkan ini, ia melihat ke arah lain. Beda halnya dengan Rafa yang memandang Vallen dengan lekat, membuat cewek itu mendumel sendiri dalam hati.
Apa lo liat-liat?! Mau gue tabok?
***
__ADS_1