
Suara monitor pasien di ruangan Rafa awalnya menyala dengan normal, hingga saatnya benda itu berdenyit dengan cepat. Lalu berakhir dengan suara nyaring yang panjang.
Bippp ....
Spektrum yang tadinya bergerak perlahan berubah menjadi sebuah garis lurus. Napas Vallen terengah dengan mulutnya yang terbuka. Matanya pun berkaca-kaca, merasakan ketidakpercayaan tentang apa yang dilihatnya sekarang.
Ia menjerit memanggil nama Rafa. Mengguncangkan tubuhnya, serta berteriak agar tunangannya itu bangun, Vallen tak peduli lagi orang lain akan berpikir apa tentang dirinya. Nasya dan Chela bahkan melakukan hal yang sama.
Hingga beberapa detik kemudian dokter dan perawat akhirnya datang. Tiga orang yang sedang menjenguk itu dipaksa keluar. Nasya dan Chela masih bisa menurut, tapi hal itu tentu berbeda dengan Vallen. Kaki Vallen tak mau beranjak dari tempatnya berada. Ia ingin tetap di sana bersama Rafa.
Perawat langsung menurunkan salah satu pembatas yang ada di sisi brangkar dan naik ke atasnya, melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) dengan mengkompresi dada Rafa untuk menjaga darah yang mengandung oksigen tetap mengalir ke otak dan organ vital lainnya.
Vallen yang ada di sisi brangkar yang lain memegang tangan Rafa sambil tetap berteriak histeris.
Suasana makin gaduh karena ayah Rafa, orang tua Vallen, Satria, dan Bayu ikut masuk juga ke area ICU. Ayah Rafa sempat memaksakan diri untuk masuk ke dalam kamar, tapi diminta perawat agar tetap di luar.
__ADS_1
Beberapa perawat yang ada di sebelah Vallen segera membujuk gadis itu agar pergi. "Maaf, adek harus keluar dulu," titah mereka sambil memegang tangan Vallen.
"Gak mau! RAFA BANGUN, RAFA PLEASE, hiks ... RAFAAA!!!" Vallen menangis keras sambil menunduk. Karena dirinya tidak menurut, dengan terpaksa akhirnya beberapa perawat menarik Vallen karena Rafa harus cepat ditindak dan gerakan mereka terbatas karena adanya gadis ini.
"Adek, maaf. Tunggu di luar ya?"
Aya turut andil dengan membawa putrinya keluar ruangan.
"Vallen ...," ucap mamahnya saat mereka hampir sampai di ambang pintu. Aya menarik Vallen yang terus berontak.
Aya menggeleng.
Sampai di luar, pintu pun langsung ditutup. Pada akhirnya Vallen hanya bisa menyaksikan Rafa dari luar jendela. Beberapa detik setelahnya Vallen merasa sudah tak punya tenaga lagi. Gadis itu lemas, kakinya serasa tak bertulang. Vallen bertanya tentang apa artinya ada harapan di dunia ini jika begini akhirnya?
Untuk apa ada pertemuan jika harus berpisah?
__ADS_1
Hanya tetesan air mata yang dapat menjelaskan apa yang Vallen rasa. Semua temannya pun menangis melihat Rafa sedang ditindak oleh ahli di sana. Sudah beberapa saat resusitasi jantung paru dilakukan, tapi masih belum juga membuahkan hasil. Hingga akhirnya alat kejut jantung pun dikerahkan.
Mata Aya memanas saat melihat perawat yang bertugas mengecek monitor menggeleng padahal Rafa sudah sekali dikenai defibrilator--alat kejut jantung--yang mana artinya denyut jantung Rafa belum kembali. Ia pun menatap putrinya tak tega. "Kamu harus sabar Vallen ...."
"Mah, Rafa gak boleh pergi, hiks. Vallen sayang sama Rafa ...," lirihnya sambil memeluk Aya dengan erat. Ia memejamkan mata, sudah tidak kuat lagi melihat ke dalam ruangan. Hatinya semakin sakit jika menatap ke sana.
Ayahnya Rafa memandang pasrah putranya yang sedang berjuang dalam hidup dan mati. Semua sudah ada yang mengaturnya, ia percaya akan hal itu. Namun dirinya masih belum bisa ditinggal oleh putranya, Rafa adalah satu-satunya penguat setelah Mira tiada. Jika tidak ada dia, hidup Hilman akan terasa lebih hampa lagi. Dalam hati, pria itu masih berharap dan meminta dalam doanya agar keajaiban datang pada Rafa.
Setelah dilakukan RJP lagi dan masih belum terdeteksi denyutnya. Rafa kembali diberikan kejut listrik.
"Shock!" perintah dokter agar perawat menekan tombol itu dan alat berfungsi. Tubuh Rafa terguncang ke atas sesaat.
Perawat yang melihat monitor menunggu sebentar hingga tampilan di sana akurat.
Matanya pun seketika terbelalak.
__ADS_1