Pear

Pear
129


__ADS_3

Amarah Vallen mereda saat ia melihat tentengan Aya. Ia pun langsung merebut kantong kresek yang dibawa mamanya. Gadis itu kembali duduk di sebelah brangkar Rafa, lalu membuka kotak berisi sushi, sesuai yang ia minta sebelumnya. Vallen memakannya satu persatu sambil mengatur napas.


"Fa Jelek mau gak?" tawarnya yang masih sedikit bete akibat ulah Satria.


Rafa membuka mulutnya.


Vallen tersenyum kecil kala ia sedang mengunyah. Ia pun menyumpit salah satu oshizushi di sana, lalu mengarahkannya ke mulut Rafa.


"Ehm, gak dianggap kita ada di sini," sindir Aya yang tengah menyilangkan tangannya di depan dada.


"Mamah ...," rengek Vallen tak suka.


Aya pun terkekeh.


"Vallen, abis makan kamu pulang yah. Besok sekolah," titah wanita paruh baya itu.


"Ga mau ..., Vallen mau di sini aja."


"Terus besok gimana?" tanya Aya.


"Ayah bawain barang kamu aja ya Vallen?" Hilman berinisiatif, tapi itu malah membuat Vallen tak enak.


Vallen pun berpikir sambil mengunyah. "Gak usah, Yah. Vallen malah ngerepotin."


"Gapapa. Ayah sekarang ke rumah orangtua kamu, nanti balik lagi."


Dika yang berada di sebelah Aya tersenyum. "Jaga Rafa ya, Vallen."


"Iya. Ati-ati semua ...," ucapnya teruntuk tiga orang yang beranjak keluar kamar. Vallen kemudian kembali fokus pada makanannya.


"Mau lagi?" tanya Vallen seraya mencapit-capitkan sumpit di udara.

__ADS_1


"Udah, abisin sama lo aja."


"Bagus! Gue cuma basa-basi kok nawarinnya."


Mendengar itu, Rafa pun berdecak, sedangkan Vallen tertawa kecil.


"Val."


"Um?" Vallen menaikkan kedua alisnya.


Rafa yang tadinya melihat kantung infus, beralih menatap gadis itu. "Gue koma gara-gara apa?"


"Keracunan sianida. Parah gak sih? Parah banget!" monolog Vallen sambil geleng-geleng kepala. Ia menyuapkan lagi sushi ke mulutnya sendiri. "Gila gitu ... ada orang yang ngejahatin orang sebaik Fa Jelek."


Ada aja sih, Val.


Rafa memandang Vallen dengan intens.


"Ayo main!" ajaknya yang padahal Rafa tahu jika ia tengah demam.


"Main apa, Kak?"


"Apa aja." Kakaknya Rafa menjinjitkan kakinya untuk membuka jendela yang berada di depan meja belajar, ia lalu mendorongnya hingga jendela itu terbuka. Kakinya kemudian menaiki meja untuk keluar dari jendela tersebut--jendela yang langsung menghubungkan mereka ke halaman samping rumah. Satu benda yang Rafa lihat kakaknya itu sakukan, sebuah pulpen.


"Ayo!" suruhnya yang sudah berada di luar kamar.


"Ngapain bawa pulpen, Kak?" tanya Rafa.


"Pengen aja."


Rafa pun mengikuti jejak kakaknya untuk keluar kamar.

__ADS_1


Mereka berdua kemudian berjalan ke sudut halaman. Mata Rafa menemukan sosok kucing yang tengah tertidur di sana. Kakaknya langsung menangkap kucing itu bahkan sebelum si kucing sempat berontak.


Pulpen yang dipegang oleh satu tangannya segera ia arahkan ke tubuh si kucing. Menusuknya berkali-kali sampai tubuh kakaknya pun ikut berlumuran darah dari hewan tersebut.


Rafa tercengang melihat cairan merah yang memuncrat dari si korban yang tadinya menggemaskan. Ia lalu menatap kakaknya dengan tatapan tak percaya.


Kakaknya Rafa menyeringai, kemudian ia melirik adiknya yang semakin memundurkan langkahnya. Saat laki-laki itu berdiri, Rafa refleks berlari menjauh.


Sang kakak mengejar dan menekan tubuh kucing itu ke punggung adiknya.


"Berhenti, Κak!" pinta Rafa, tapi itu sama sekali tak ia dengar. Bahkan anak yang dua tahun lebih tua darinya itu mempercepat larinya hingga sampai di hadapan Rafa.


Ia mengasongkan kucing tepat ke depan mata Rafa. Membuat adiknya bisa melihat dengan jelas hasil dari kesadisan yang dilakukan olehnya. Napas Rafa tak beraturan, tubuhnya bergetar saking takutnya melihat itu.


Mata Rafa terbelalak, ia tiba-tiba teringat terror kucing beberapa waktu lalu. Selama ini pikirannya tertuju bahwa yang memberinya itu adalah anak Canopus, walaupun rasanya tetap ada yang janggal. Namun, jika benar kejadian di masa lalu itu ada hubungannya dengan yang sekarang. Apakah iya itu ulah kakaknya sendiri?


Lalu masalah sianida?


Apa dia juga?


"Val," panggil Rafa yang terlihat tidak tenang.


"Apa?"


"Gue minta lo gak nyari tau tentang orang yang racunin gue."


Vallen diam, ia heran kenapa Rafa sama seperti ayahnya.


"Kenapa?"


"Gue udah baik-baik aja sekarang, gak usah peduliin lagi masalah yang kemaren."

__ADS_1


"Gak bisa gitu dong Fa ...."


__ADS_2