Pear

Pear
158


__ADS_3

"Devan sakit, Fa. Gue temenin dia di apartnya, karna takut Devan kecapean abis tanding. Gue gak mungkin biarinin dia sendiri ...."


Rafa kembali menatap ke depan. "Segitu pedulinya lo sama dia? Devan bisa ngurus dirinya sendiri!"


"Apa salahnya gue peduli? Devan sahabat gue dari kecil, bahkan Devan pernah jadi apapun buat gue. Lo egois udah ngomong gitu!" cerca Vallen. "Siapa yang Devan punya saat orang tua dia balik sama kerjaannya? Cuma temen-temennya Fa! Kita semua ...."


"Lo lakuin ini karna masih sayang sama Devan!"


"Sayang atau ngga ini masalah kemanusiaan Fa. Lo gak punya rasa peduli apa? Devan temen lo! Devan sahabat lo! Devan bahkan yang udah bantu gue buat nyari tau siapa yang racunin lo." Vallen menyeka air matanya. "Gue gak nyangka udah tunangan sama orang seegois lo, hiks."


Namun, mau diseka bagaimana pun, air matanya masih saja ada yang turun dan membuat hal tersebut menjadi sia-sia. Vallen tak lagi menghadap Rafa, ia seakan sudah malas melihat orang yang bahkan tidak memiliki empati.


Napas Rafa memburu karena semua omongan Vallen, ia lalu melangkah cepat ke luar rumah dan menutup pintu hingga menimbulkan suara keras yang membuat Vallen terkejut. Cowok itu kemudian mengambil motor, dan melajukannya dengan sangat kencang.


***


Ina sengaja tidak ikut menonton ke Canopus, alasannya adalah karena ia tidak mau bertemu Marvel di saat dirinya ingin menjenguk Rafa ke rumahnya sepulang sekolah ini. Dan hal itu berjalan dengan mulus. Buktinya saja, ia sudah duduk di mobil dengan tenang dan sekarang sudah sampai di dalam kompleknya.


Namun, beberapa meter lagi sebelum mobil itu tepat berada di depan rumah Rafa. Ina melihat Rafa keluar dengan motornya tanpa memakai helm. Cowok itu pun mengegasnya dengan sangat ngebut.


Lalu beberapa detik setelah Rafa pergi, seseorang dengan motor yang amat Ina kenali tiba-tiba berhenti di gerbang rumah Rafa. Kemudian Mang Junet mendekati, sepertinya untuk bertanya siapa dia, tapi satpam itu malah dihajar olehnya.


Ina tercengang dan seketika tidak tahu harus berbuat apa, tapi satu hal yang tiba-tiba melesat di pikirkannya hanyalah mengejar Rafa.

__ADS_1


"Pak, tolong kejar motor itu. Cepetan!" titah Ina seraya menunjuk motor di depan sana yang masih terlihat walaupun terus semakin kecil karena menjauh.


Sopir itu menurut. Ia pun langsung menginjak gas untuk menyusul Rafa. Segera, Ina memegang pegangan yang berada di langit-langit mobil dan juga berdoa untuk keselamatan mereka.


Gadis itu cukup terheran-heran karena sopir ini mampu memperpendek jarak antara mobil dan motor Rafa.


Lalu, saat kendaraan mereka cukup sejajar, kaca mobil diturunkan dan Ina pun berteriak, "FA, SATPAM LO DIPUKULIN!"


"ADA ORANG JAHAT DI RUMAH LO!"


Namun usaha Ina sepertinya tak berguna, karena Rafa malah makin mempercepat motornya tanpa terlihat akan berputar balik.


***


Vallen masih menangis di ruang tamu, bahkan sampai seseorang membuka pintu yang ada di belakangnya.


Namun, nyatanya bukan sama sekali.


Orang itu berjaket hitam dan memakai topi yang warnanya serupa pula.


Ujung topi itu menutupi sebagian wajah bagian atasnya, sama seperti orang yang Vallen lihat di cctv waktu itu, juga di rumah yang dikunjunginya bersama Devan.


Sontak, cewek itu pun melangkah mundur. Takut-takut orang ini betulan 'si topi hitam' yang meracuni Rafa. Dan takutnya lagi Vallen lah yang menjadi incaran dia selanjutnya.

__ADS_1


"Claudi ...," panggilnya terdengar menyeramkan. Suaranya cukup serak dan mampu membuat Vallen gemetar ketakutan sekaligus kaget karena orang tersebut mengetahui namanya.


Orang itu terus maju dan semakin maju.


"Clau, lo itu seharusnya jadi calon istri gue ...." Ia menyeringai, lalu menarik topinya lebih ke belakang.


Napas Vallen tercekat. Ia tak mungkin lupa tentang orang ini. Semua pengalaman buruk, lengkap orang itu beri. Dari pembullyan, hingga pemandangan tak senonoh yang diperbuat pada siswi lain bahkan saat mereka masih SD.


"K-Kak Frian?" sebut Vallen tak percaya.


Lelaki itu menyunggingkan senyumnya sambil terus mendekat.


"Gue pengagum rahasia lo sejak lama. Karena ... gue suka tangisan lo, gue suka saat lo ketakutan, gue juga suka saat ..."


Frian berlari dan mendorong Vallen hingga paha belakang cewek itu menabrak lengan sofa dan mereka berdua jatuh ke atas kursi empuk itu.


Vallen memekik.


"Gue juga suka saat lo ngejerit gini, Clau ...."


Vallen menangis sekencang-kencangnya sambil mendorong tubuh orang yang sudah berada di atasnya. Namun, hal itu seakan tak berarti apa-apa karena Frian langsung meraup bibirnya.


Vallen memukul-mukul dada bidang Frian dan terpejam dengan air mata yang tak hentinya keluar. Ia masih berusaha menyingkirkan Frian, tapi kemudian cowok itu menahan tangan Vallen agar tidak bergerak sama sekali.

__ADS_1


Lama-lama Vallen kehabisan tenaga. Mau berontak bagaimana pun, itu tak membuahkan hasil.


Rafa ke mana? Pertanyaan tersebut selalu ada dipikirannya. Rafa harusnya di sini. Rafa harusnya membantunya, tapi ia malah tidak ada.


__ADS_2