Pear

Pear
Chapter 13 (3)


__ADS_3

"Anjir! Badan gue remuk ...," keluh Rafa sambil meluruskan tangannya saat berjalan. Lebih tepatnya melakukan gerakan seperti sedang pemanasan.


"Kenapa lo?"


Rafa menoleh.


"Gak gak." Kemudian ia berhenti melakukan itu semua, kecuali memutar lehernya pelan.


"Tapi lo tetep ikutan latihan basket kan hari ini?"


"Iya."


Tak lama, mereka pun sampai di depan ruang dengan tulisan Perpustakaan yang terbuat dari balok kayu yang diukir--benda tersebut menggantung tepat di atas pintu.


Devan dan Rafa masuk ke dalamnya. Bertemu dengan penjaga perpustakaan kemudian meminta formulir yang Rafa maksud sebelumnya.


Setelah dapat, Rafa keluar lagi, sedangkan Devan masih ditanya-tanya oleh ibu penjaga perpus karena cowok itu memang sering mengobrol bersama wanita paruh baya ini.


Bruk ....


Seseorang mengguncang tubuh Rafa saat cowok itu baru selangkah keluar dari perpustakaan.


"Ah! Maaf!!!"

__ADS_1


Seorang cewek yang pandangannya masih menoleh ke belakang mengucapkan itu tanpa melihat siapa orang di depannya. Saat hendak kembali berlari, langkahnya lagi-lagi menabrak orang tersebut yang otomatis membuat wajahnya menghadap depan sekarang.


Jarak cewek itu dengan Rafa sangat dekat, bahkan tangan dia yang ia tempatkan di depan dada juga menabrak dada bidang Rafa. Cewek itu meneguk ludahnya, matanya pun masih terpaku, ia tak percaya bahwa akan menyapa Rafa dengan cara seperti ini.


Sementara dalam diri Rafa, dia tak mengerti hatinya sedang melakukan apa, berantakan, tak beraturan, seakan banyak hal yang sedang bertengkar di dalam sana.


"Em! Maaf banget ...," kata cewek itu sambil mundur.


Tatapan Rafa, meski terlihat datar, sesungguhnya ia menyiratkan banyak kecanggungan. Menangkap mata gadis ini yang pernah mencipta senyum di masa lalu bukan berarti membuat Rafa senang lagi menatapnya. Dunia masih sangat ingat akan kesakitan yang Rafa lalui, Rafa benci! Kenapa dia harus kembali?


Cowok itu ingin meninggalkan gadis ini secepatnya. Namun ia masih harus menunggu Devan. Akhirnya Rafa memutuskan untuk menyender pada salah satu tiang bangunan.


Aneh, bukannya berlari lagi, cewek itu malah diam di tempat. Rafa menoleh, setidaknya agar gadis ini segera mengungkap jika ada yang ingin dia ungkap, Rafa tak mau lama-lama bersamanya. Namun saat mata mereka bertemu, ia menemukan sebuah tatapan yang sulit dimengerti dari sorot matanya.


Ternyata dia berusaha mengingat sesuatu tadi.


"Lo dipanggil Bu Anggi!"


Rafa mengangguk.


"Sehat-sehat ya, Bu!" pamit Devan seraya melangkah keluar. Namun sebuah pemandangan yang tersaji di matanya adalah interaksi dua orang yang ia tau kisahnya. Devan pun berdehem.


"Fa, lo tau perasaan gue karena Vallen kan? Gak usah manas-manasin gini!" sindir Devan yang mengambil alih formulir dari tangan Rafa.

__ADS_1


Rafa menyatukan alisnya bingung. "Apa sih lo?"


"Dah ah gue gak mau ganggu. Udah ada yang nemenin kan lo Fa? Jadi santai gak akan dikejar dekel." Lalu Devan pun pergi meninggalkannya.


Rafa memanggilnya beberapa kali tapi tidak cowok itu hiraukan. Yang Rafa lakukan selanjutnya adalah mengumpat dalam hati. Ok, ia harus tenang, mengatur napas dan mulai berjalan.


Cewek itu kaget karena tiba-tiba ditinggalkan, lalu tanpa berkata apa pun dia menyusul Rafa. Kemudian berdiri di depannya dan jalan dengan langkah mundur.


"Minggir gue mau lewat." Rafa menggelengkan wajahnya ke satu sisi agar perempuan itu menyingkir.


"Gak mau."


"Awas."


"Gue ikut ke ruang guru! Sekalian kabur dari Chela, dan lo halangin gue dari belakang!"


Rafa memutar tubuh untuk mengambil jalan lain.


"Kalo lo kabur gue bakal kejar. Kalo lo tetep di belakang gue, gue bakal jalan dengan bener!" ujar cewek tersebut.


Rafa menghela napas. Ia pun kembali ke jalurnya. Kemudian berjalan di belakang cewek itu.


***

__ADS_1


__ADS_2