
"Berisik!" protes Rafa.
"Terlalu rajin lo udah belajar! Paling juga besok masih perkenalan guru. Minggu ini gak akan efektif kali," sindir Vallen.
"Suka-suka guelah."
Vallen memutar bola mata dan berdecak. Kembali ia menciptakan suara ketukan-ketukan itu, mengundang desisan kesal dari Rafa.
Vallen tersenyum, ada sebuah kesenangan yang muncul di hati karena dia merasa usaha menjahili Rafa berhasil.
Blakutak cetak!!!!
Brang ....
Prang!
Vallen tertawa tanpa suara. Terus saja tangannya gemulai menyenggol produk di sana-sini lalu membetulkannya. Rasanya melakukan hal ini membuatnya bangga pada diri sendiri. Oh tolonglah Vallen berharap dia dapat piala manusia terjahil tahun ini. Itu akan tambah membuatnya senang.
"Val, kaca kalo dipecahin jadi apa?" tanya Rafa tiba-tiba.
__ADS_1
Vallen mengernyit, lagi pula untuk apa Rafa bertanya hal tak penting semacam itu? Bahkan cowok itu pasti sudah tahu sendiri jawabannya. Oh, atau mau main tebak-tebakan?
"Jadi pecahlah!" jawab Vallen setelah perkecamukkan dalam hatinya, di antara pilih jawaban yang benar atau malah yang ngawur, ok tinggal menunggu jawaban versi Rafa.
"Masa sih?"
Vallen bingung. "Ya iyalah! Pake nanya lagi lo."
"Coba gue mau eksperimen pecahin kaca depan lo."
Vallen membelalakkan mata karena dari tempatnya ia bisa melihat pantulan diri Rafa yang sedang menghadap kemari sambil mengangkat buku paket tebalnya.
"Heh!" teriak Vallen panik sembari membalikkan posisi duduknya, jadi kepala di lantai, kaki di kursi. Ngga deng, Vallen memutar tubuhnya jadi duduk menghadap Rafa.
"Ihhh!" pekiknya sambil menghujam lantai dengan langkah kakinya yang keras.
Suara langkah Vallen seakan menjadi suara paling menyeramkan yang ditangkap telinga Rafa. Cowok itu pun meneguk ludahnya saat Vallen bentar lagi mencapainya.
Syung ....
__ADS_1
Sebuah angin cepat mengenai wajah Rafa.
Vallen tidak menerkam, dia hanya ingin mengambil tas sekolahnya. Setelah diambil, ia langsung melempar kantong hitamnya ke kasur. Disusul pula oleh dirinya yang terbang, lalu mendarat nengkurap di benda empuk itu. Kemudian ia mencari sebuah buku di dalam tas tersebut.
Vallen bukan mau belajar.
Ia mengambil buku utang yang dibelinya tadi untuk dijadikan buku laporan uang kas tahun ketiga. Tak lupa juga Vallen mengeluarkan alat tulis beserta penggaris.
Selanjutnya, ia mulai menggarisi setiap halaman, mencatat waktu, serta menulis nama murid di kelasnya yang ia ingat di kepala. Bisa saja sih Vallen menyontek absen di grup chat kelasnya, tapi ia malas buka hp. Apalagi jika harus mencari absen di buku laporan uang kas tahun ajaran kemarin, buku itu masih tertinggal di rumah orang tuanya lagi, ah tidak, hapus opsi itu jauh-jauh. Vallen masih punya ingatan yang baik untuk mengingat nama lengkap temannya.
Atau ... tidak?
Vallen berpikir. Gadis itu mengetukkan penanya ke buku, berusaha mengingat nama panjang orang ini. Astaga, saking rajinnya orang tersebut, sampai-sampai ia memberi uang untuk kasnya langsung tanpa harus ditagih. Jadi saja Vallen tidak pernah memanggil nama panjangnya.
"Ah! Siapa sih ...." Vallen mengacak rambutnya frustasi.
"Fa!" panggil cewek itu.
"Hah?"
__ADS_1
"Nama lo Rafael apa sih? Rafael ... Han .... Apa astaga gue gak inget!" Vallen membalik tubuhnya hingga melihat langit kamar.
Iya benar, Vallen melupakan nama Rafa, suaminya sendiri.