
Vallen dan Devan telah memisahkan diri dari lapangan di saat teman-temannya yang lain masih berselebrasi untuk merayakan kemenangan.
Cowok itu menyender di kap mobil sambil meminum air dari botol yang Vallen beri.
"Gapapa kan gue culik lo tiba-tiba gini?"
Devan menatap Vallen, ia kemudian mengangguk pelan.
"Gue takut lo ngedrop lagi. Sekarang, langsung balik ke apart lo aja ya? Gue temenin, buat mastiin lo gak kenapa-napa," ujar cewek itu perhatian.
Devan tersenyum simpul. Begitu pun dengan Vallen.
Saat melihat kening Devan yang masih keringetan, Vallen inisiatif mengambil beberapa lembar tisu dari tas sekolah. Kemudian ia langsung mengelapnya.
Devan, cowok itu menerima perlakuan Vallen tanpa tahu harus berlaku bagaimana. Setelah itu, Vallen membenarkan tatanan rambutnya yang bermodel comma hair, gadis itu merapikan poni yang menutupi 2/3 dari bagian keningnya.
"Rambut lo bagus, Dev. Gue gak rela masa kalo ini rontok terus," ucapnya sedih.
Devan lalu melihat intens Vallen yang masih fokus menatap rambutnya.
"Kenapa harus lo?" tanya Vallen yang ia tujukan pada semesta.
Namun, Devan membalas, "Kasian kalo orang lain." Dan hal itu membuat Vallen jadi murung.
"Val?" panggil Devan.
"Apa?"
"Jaga diri lo baik-baik ya," pesannya.
Vallen segera menggeleng. "Dev, gue gak suka siapapun ngomong gitu, kesannya ...."
Belum saja Vallen meneruskan perkataan, Devan sudah menyela, "Pada akhirnya gue bakal semakin lemah, Val. Dan lo harus bisa hidup dengan baik tanpa pengawasan gue."
"Dev ...."
"Gue percaya Rafa bisa jaga lo."
Vallen diam dengan tatapannya yang berubah heran.
"Walaupun gue gak tau apa-apa. Tapi gue yakin ada sesuatu di antara kalian."
__ADS_1
Kemudian, Devan memajukan wajah dan mengikis jarak di antara mereka.
Cowok tersebut lalu mengulum sesuatu yang membuat tangan Vallen langsung memegang wajah mantannya itu.
Ckrek ....
***
Vallen dan Devan sudah sampai di apartemen. Lelaki itu lalu membuka pintu dan mendorong Vallen saat masuk ke dalamnya.
Ckrek ....
***
Di kafe, Satria dan Bayu khawatir tentang kenapa Vallen dan Devan tak kunjung kemari. Mereka pikir keduanya akan menyusul, tapi sudah ditunggu beberapa lama pun masih belum muncul juga batang hidungnya.
Hp Satria yang berada di atas meja tiba-tiba berbunyi.
Rafa is calling ....
"Banjir banjir!" umpatnya. Chela dan Nasya yang melihat itu bahkan ikut belotot juga.
"Angkat, Sat," suruh Bayu.
"Jawab apa!"
"Belum juga nanya si Rafa."
"Bjir Bayu memang tidak peka."
"Bukan gak peka. Kali aja Rafa cuma mau nanya kita menang apa kagak."
"Positive thinking sekali ma bro w yang satu ini. Kalo ada apa-apa lo tanggung jawab loh, Bay," peringat Satria. Cowok itu lalu mengangkatnya dan mengeraskan speaker.
Lo semua lagi di mana? tanya Rafa.
"Di ... kafe."
Vallen mana?
Satria meneguk ludah, firasatnya benar, Rafa pasti akan menanyakan Vallen.
__ADS_1
Nasya kemudian menggerakkan bibir untuk membantu jawaban Satria. Paham, lelaki itu pun mengangguk. "Wc!"
Devan?
"W-wc juga!" jawab Satria spontan.
Gausah bohong, kata Rafa dengan nada teramat dingin.
Hal itu membuat Satria langsung menyeret pandangannya ke sekitar kafe. "Ada Rafa?" tanya Satria pada ketiga temannya, tapi mata mereka pun tidak menemukan keberadaan Rafa di sana hingga menjawab Satria dengan gelengan.
Suruh Nasya sama Chela susulin Vallen, trus kasihin hp ini ke dia. Gue mau ngomong.
Mampus, rutuk Satria dalam hati. Ia lalu menghadap Bayu. "Gimana woy!"
SAT! bentak Rafa.
Empat orang itu langsung terlonjak kaget dari bangkunya.
"Anj*r, Sat. Jujur aja jujur. Takut gue kalo si Rafa malah makin marah," suruh Chela.
Satria mendekatkan lagi ponselnya dengan tangan bergetar. "Fa fa, sorry gue bohong. Vallen sama Devan gak ikut kita ke kafe."
Sialan.
Telepon langsung dimatikan.
***
Rafa melempar hpnya sendiri setelah menghubungi Vallen kembali. Nyatanya, masih saja tidak bisa. Ia kemudian meremas foto Vallen dan Devan yang dikirim entah oleh siapa. Tiba-tiba saja Mang Junet memberinya itu, katanya ada yang melempar amplop berisi foto-foto tersebut ke gerbang dan tulisannya adalah; Untuk Rafa.
Jujur, Rafa masih ingin berpikiran positif tentang foto Devan dan Vallen yang seolah sedang berciuman. Mungkin saja itu hanya salah sudut dalam pengambilan gambar paparazi ini. Namun, saat melihat foto mereka yang sedang masuk ke apartemen, dan tunangannya itu tidak bisa dihubungi sekarang ini, saat itulah pikiran positif Rafa seketika lenyap.
***
Vallen mengacak isi tasnya. Ia tak menemukan ponsel miliknya di sana.
🍐 Bersambung ....
...Jangan lupa vomment ya guyssss 🔥🔥🔥...
...Timaaciii 😘...
__ADS_1