
Sebuah tangan tiba-tiba menyerahkan ponsel ke depan wajah Putra. Lelaki yang berumur 19 tahun itu pun menerimanya.
"Kerja bagus," ucapnya pada Marvel.
Marvel menghela napas seraya duduk di sebelah Putra. Rasanya banyak sekali tugas yang ia lakukan hari ini, mencuri hp Vallen, memotret gadis itu dengan Devan sampai harus mengikuti mereka ke apartemen, mencetak foto, lalu mengirimkannya pada Rafa. Sejujurnya itu masih tak apa karena ia pun dibayar sebagai imbalannya.
Putra menyalakan hp Vallen dan menemukan banyak misscall dari Rafa. Ia kemudian menyentuh ikon dan berbagai pilihan hingga sampai di roomchat cowok tersebut.
^^^Vallen^^^
^^^Gak usah ganggu, gue lagi sama Devan.^^^
Setelah mengirimkannya, ia pun terkekeh.
"Anjing emang lo," umpat Marvel sembari tertawa juga. Ia memang tak segan memanggil orang yang dua tahun lebih tua darinya itu dengan nama-tanpa embel-embel 'kak', karena toh mereka sudah akrab sejak lama.
__ADS_1
Kemudian, Marvel mengalihkan pandangan dari hp Vallen. Dia mulai mengawasi rumah Rafa dari tempatnya duduk.
Matanya segera terbelalak saat melihat seorang cewek turun dari motor. Pun tangannya lantas menepuk-nepuk pundak Putra.
"Vallen pulang!"
***
Setelah membaca pesan yang Vallen kirim. Amarah Rafa makin memuncak. Ia langsung berlari ke kamarnya untuk mengambil kunci motor, kemudian kembali menuruni tangga dan menuju pintu utama.
Namun belum saja membukanya, pintu itu sudah terbuka. Vallen datang dengan napas yang terengah-engah.
Vallen yang sedang mengatur napas langsung mendongak. "Lo nanya ...." Ucapannya terhenti karena perempuan itu melihat Rafa yang rahangnya mengeras dan mata memerah.
"Fa, lo marah?" tanyanya sambil melangkah maju.
__ADS_1
"Gue pikir lo cewek baik-baik, Val. Taunya murahan." Suara itu pelan, tapi mampu menghujam perasaan seorang perempuan di hadapannya.
Mata Rafa saat ini berkaca-kaca, ia tidak bisa lagi menahan kekecewaannya. "Apa lo gak pernah nganggep gue sebagai tunangan lo? Apa lo gak inget kalo status lo udah jadi tunangan gue sekarang? Gue tau kita cuma baru tunangan Val, tapi lo gak tau seberapa seriusnya gue nanggepin ini, dan lo gak bisa ngebuat gue kecewa dengan berbuat yang di luar batas."
"Fa ... maksud lo apa?" Tangan Vallen terulur untuk memegang tangan Rafa. Namun, dirinya langsung dihadiahi oleh lemparan beberapa kertas foto yang sudah lecek. Vallen refleks memejamkan mata karena perlakuan tersebut.
"Kalo lo masih sayang sama Devan, terserah," ucap Rafa bergetar, seolah tak kuasa mengucapkannya, tapi jika pada kenyataannya Vallen ingin dengan Devan, ia bisa apa.
"LUPAIN JANJI LO SAMA BUNDA! Berduaan lagi sana, lakuin hal MENJIJIKAN yang udah biasa lo pada lakuin!" Rafa memandang Vallen dengan segenap amarah dalam dirinya. "Lo pikir ... gue peduli kalo kita pisah, hah?" Senyum ketir kemudian Rafa tampakkan. "Lo pikir gue peduli kalo pernikahan kita dibatalin?"
Linang air yang tadinya hanya menggenang di netra Vallen, langsung jatuh begitu saja saat gadis itu mengedipkan mata.
"GUE NANYA SAMA LO, VAL!" bentak cowok itu yang membuat Vallen tersentak.
Lalu perlahan Rafa menurunkan pandangan, seiring dengan air matanya yang menetes. "Bilang yang jelas kalo lo pengen kita selesai."
__ADS_1
Vallen menggeleng. "Jangan gitu, Fa. Gue gak mau kita pisah, gue gak bilang mau batalin pernikahan ...." Isak demi isakan timbul dalam diri perempuan itu. Ia masih mencoba memahami keadaan, tentang Rafa yang kenapa, dan tentang apa yang salah dengan dirinya. Sampai akhirnya Vallen mengambil salah satu kertas foto yang sudah tergeletak di atas lantai.
"Fa ... gara-gara ini?" tanyanya sembari menunjukkan foto ia bersama Devan yang sedang melangkah masuk ke dalam apartemen.