Pear

Pear
147


__ADS_3

"Gue gak ngerti kenapa bisa selemes ini. Padahal cuma 4 hari gak dibawa jalan."


"Ayo, lo bisa!"


Rafa mengangguk. Ia mulai melangkah dan berusaha tetap ajeg di setiap perpindahannya, Rafa juga berusaha untuk tidak oleng saat berjalan.


Setelah beberapa langkah, ia menggerakkan jari-jari kakinya agar lebih bisa merasakan dinginnya lantai. Setidaknya membuat kakinya itu bisa lebih peka.


Pada akhirnya, tidak perlu waktu terlalu banyak untuk menyesuaikan kakinya untuk berjalan kembali. Rafa sudah bisa melangkah dengan cukup lancar, dan sekarang ia mencoba untuk melepas pegangannya agar bisa berjalan secara mandiri.


"Ayo Rafa ke sini Rafa ...," kata Vallen di ujung ruangan.


"Lo pikir gue batita apa?"


Vallen terkekeh. "Ayo dikit lagi, dikit lagi ...," ucapnya sambil terus tertawa kecil.


Rafa fokus menatap ke depan dan makin mendekati Vallen. Hingga sesampainya di depan gadis itu, ia dengan sengaja langsung menubrukkan diri dan memeluk istrinya dengan erat.


"Pikiran gue gak jelas banget akhir-akhir ini," ucap Rafa persis di samping telinga Vallen.


Vallen tercengang dengan mata yang masih melihat langit-langit kamar. "Fa?" panggilnya dengan satu tangan meremas baju bagian pinggang Rafa.

__ADS_1


"Gue gak mau mikir aneh-aneh lagi, tapi susah."


"Tentang apa?"


"Lo."


"Gue?"


"Hm."


"Val, gue maklumin lo temenin Devan malem itu karena dia lagi demam. Tapi, lo harus tetep inget kalo calon suami lo tuh gue. Jangan terus-terusan urusin orang lain sampe gak tau waktu lagi," jelas Rafa.


Vallen menutup matanya, merasa frustasi dengan semua hal yang terjadi. Namun, ia tetap mengangguk. Iya, Vallen paham, seharusnya memang begitu, tapi Devan bukan orang lain untuknya. Saat Vallen butuh sesuatu, Devan ada, jadi bagaimana bisa jika sekarang Devan butuh dia, tapi dia tak ada?


"Vallen, gue ....” Cukup berat untuk melanjutkan perkataannya, bukan karena Rafa tak bisa jujur, melainkan Rafa takut balasan dari Vallen nantinya.


“... gue udah sayang sama lo," ucap Rafa. Lagi.


"Gue harap lo juga rasain perasaan yang sama. Dan yang terpenting, lo udah bisa hapus perasaan lo tentang Devan."


Vallen meneguk ludahnya, beberapa saat yang bisa ia lakukan hanya menatap kedua mata Rafa yang menyorotkan keseriusan.

__ADS_1


"Love you, Vallen."


Vallen mengerjapkan mata. Entah kenapa rasanya sulit mengucapkan apapun di tengah keadaan yang membuat hatinya tak karuan. Namun, ia tak ingin semuanya semakin runyam dan karena itulah Vallen akhirnya membalas.


"Love you too, Fa."


Beberapa hari lalu saat Rafa masih koma, ia memang sering mengatakan dirinya sayang dengan lelaki tersebut. Tentu itu bukanlah sebuah kebohongan. Vallen sudah bisa menerima keberadaan Rafa dalam hidupnya. Saat ini, ia hanya merasa waktunya tidak pas saja. Dan bagaimana pun Vallen cukup merasa lega karena Rafa akhirnya mengungkap itu.


Rafa tersenyum simpul. Kemudian, secara tiba-tiba ia mendaratkan bibirnya di pipi Vallen, membuat gadis itu seketika langsung mematung. Ciuman itu tak lama karena Rafa pun segera memundurkan wajahnya kembali.


"Jalan-jalan keluar yuk. Sumpek di sini terus," ajak Rafa seraya berbalik badan.


"Rafa ...," panggil Vallen di belakangnya. "Fa Jelek tadi ngapain?" tanyanya masih kaget.


"Gak tau, gue amnesia."


Vallen kemudian memegang pipinya. Ia lalu mengejar Rafa yang sudah berjalan di depan. Tangannya langsung melingkar dan kepalanya pun ia tempelkan di punggung cowok tersebut.


Pikiran gue juga gak jelas banget, Fa. Tapi gue harap diri gue cepet keluar dari kelabilan ini. Makasih udah sayang sama gue. Jangan tinggalin gue ya? Gue gak mau lepas dari lo.


Rafa mengusap punggung tangan Vallen yang ada di depan perutnya. Tak seutuhnya ia senang pada detik ini, perasaanya masih mengganjal tapi Rafa tak mengerti hal tersebut terjadi karena alasan apa.

__ADS_1


***


__ADS_2