
"Permisi Den, ini Bibi bawa bubur buat Non Vallen."
Rafa mengangguk. Kemudian Bi Adab pun melangkah menuju kasur. "Mau makan sendiri atau Bibi suapin?" tanya Bi Adab.
"Atau ...." Mata si bibi pun beralih pada Rafa. Begitu juga Vallen yang mengikuti arah tatapannya.
Rafa yang baru mendekati mereka langsung heran karena pada melihat ke sini. Namun ia akhirnya mengerti. "Sama Rafa aja, Bi," inisiatifnya sembari mengambil nampan yang dibawa Bi Adab.
Bi Adab pun keluar kamar mereka, kemudian Rafa duduk di tepi kasur. Vallen yang duduk di sampingnya menatap Rafa polos, ia melihat cowok tersebut tengah menyendokkan buburnya. Kemudian sendok itu dibawa melayang untuk mendekati mulutnya.
Vallen menggeleng, lalu dia tiduran menyamping dengan menyelimuti dirinya.
"Buffalen makanan dateng ...," ucap Rafa seraya mendekatkan sendok itu, tak peduli tentang Vallen yang tidur memunggunginya.
"Makan sama lo aja!" kata Vallen di balik selimut.
"Kan bibi buatin buat lo."
"Gak ada yang larang kan kalo lo yang makan?"
"Ya gak ada. Buruan makan Val. Ntar kalo lo kenapa-napa gue yang dimarahin mama."
Vallen mengubah dirinya jadi telentang. Baru saja ia membuka selimutnya, Rafa sudah menekan kedua pipi gadis itu dan segera memasukkan buburnya.
Sontak tangan Vallen memukul Rafa dengan kesal, ini kali kedua cowok berlaku demikian. "Kalo gue keselek gimana?!"
"Yang penting lo makan."
"Kalo gue mati keselek gimana?!"
__ADS_1
"Coba gue pen liat."
"Ihhh Rafa!"
Rafa tersenyum kecil. "Duduk cepetan, makan yang bener."
***
Pukul 11 siang Aya sampai di rumah Rafa. Ia menatap rumah ini sembari tersenyum. Rumah ini sudah putrinya tinggali lebih dari seminggu, tak pernah ia bayangkan Vallen menikah secepat ini. Pernikahan itu sangat mendadak, tapi tak apa, Aya sudah merelakan Vallen. Intinya dengan siapa pun ia tinggal, semoga saja anak tunggalnya itu bahagia selalu.
Aya pun mengetuk rumah tersebut dan yang membuka adalah Vallen sendiri.
"Mamah!" serunya seraya memeluk Aya lemah. Kemudian ia membawa Aya untuk masuk hingga mereka berakhir dengan duduk di sofa ruang keluarga.
"Kalian cuma berdua?" tanya Aya.
"Maaf ya Rafa, gara-gara Vallen kamu jadi gak sekolah." Aya tersenyum simpul.
Sejenak Rafa melihat Vallen. "Gapapa, Mah."
"Pasti Rafa rawat Vallen dengan baik yah?" Pertanyaan itu entah Aya lontarkan ke siapa, tapi Vallen segera menanggapinya.
"Baik?! Kepala Vallen disentil sama dia Mah, tadi juga pas makan masa nyuapinnya keak mau ngecekokin. Kasar banget dia ...," adu Vallen sembari menunjuk Rafa.
Rafa mengatur napas dengan mata yang melihat ke arah lain. Ia mengepalkan tangan. Sesabar-sabarnya Rafa, dia juga pasti memiliki batas. "Yang jeleknya aja terus yang lo inget, kebaikan gue dilupain semua!" omelnya.
"Terus masa ya Mah ...."
Vallen kembali berceloteh tentang Rafa yang begini dan begitu. Seolah orang yang digosipi itu tidak sedang berada di dekatnya.
__ADS_1
"Gila, gak tau malu banget jadi cewek," gerutu Rafa.
Vallen langsung mendelik pada cowok itu. "Rafa gue denger!"
***
"Kek kenapa gitu gue harus sama lo?!" teriak Chela tak terima karena ia malah disuruh satu motor dengan Satria.
"Ada kuda nil matanya belo."
"Cakep!" tanggap Bayu yang sudah siap memajukan motornya.
"Lo pikir gue mau sama lo?!"
Pukulan keras mendarat di punggung Satria, membuatnya mengaduh kesakitan, tapi sayang Chela tak memberinya ampun.
Bayu dan Nasya yang satu motor kompak tertawa melihat dua orang itu, sedangkan Devan hanya tersenyum.
Ia jadi rindu waktu-waktu bersama Vallen, saat gadis itu kesal, rasanya ia makin menggemaskan. Devan ingin kembali. Devan ingin bersamanya lagi, ingin menghabiskan sisa waktunya bersama Vallen.
Tiga motor itu pun meninggalkan area SMA Arcturus. Mereka mengarahkannya ke rumah Vallen. Buku paket Vallen aman dibawa oleh Devan.
🍐 Bersambung ....
...✨ Jangan lupa vommentnya gaisss ☺️...
...Jangan jadi silent reader pleaseee 🥺...
...Makasih ✨...
__ADS_1