Pear

Pear
138


__ADS_3

"Rafa gue minta maaf ...."


Rafa diam, ia hanya mengulum bibirnya saja.


Melihat Rafa yang begitu, Vallen segera memegang tangan Rafa dan menempatkan kening di atas tangan calon suaminya. Bibirnya bergetar dengan hati yang sesak. Air matanya pun mengalir deras menyimbahi pipi. "Rafa gue minta maaf karna gak tau waktu. Rafa gue ngaku kalo gue salah, harusnya gue hubungin lo. Rafa jangan marah ..., gue mohon, hiks."


Vallen menatap iris cokelat tua milik Rafa. "Fa Jelek, maaf ...."


Rafa menghela napas dengan mata yang memanas. Jawaban-jawaban Vallen terasa janggal, Rafa paham gadis ini sedang tidak jujur, tapi ia pun tak tahu apakah Vallen akan memberitahu yang sebenarnya atau tetap menutup mulut.


Vallen hendak memeluk Rafa. Namun cowok itu menahannya menggunakan tangan. "Gue mau istirahat," finalnya karena melihat Vallen yang seakan tak ada niat untuk menjelaskan lebih lanjut. Hanya kata maaf yang terlontar sebagai usaha untuk dimaafkan dan bagi Rafa semua hal itu percuma, karena yang ia butuhkan adalah kejujuran Vallen untuk mengungkap yang terjadi.


Vallen cukup terkejut saat Rafa mendorongnya pelan agar menjauh. Ia kemudian benar-benar mundur seraya menghapus air mata di pipinya. Selanjutnya, Vallen mengangguk pelan.


"Good night, Fa."


***


"Vallen, bangun ...."

__ADS_1


Seseorang menepuk pundak Vallen. Membuat gadis itu terusik dari tidurnya yang baru saja mau nyenyak. Mata Vallen pun pelan-pelan jadi terbuka.


"Mah?" kagetnya karena tiba-tiba ada Aya.


"Ayo keluar, Mamah mau ngomong sama kamu."


Sesaat Vallen mengucek matanya. Ia kemudian melihat sekeliling ruangan yang ternyata sudah ada papah dan juga ayahnya Rafa. Setelah itu, ia dibantu Aya untuk berdiri, lalu mereka berjalan ke luar ruangan dengan tangan Aya yang menuntunnya.


Di luar, udara lumayan dingin. Vallen pun bisa melihat langit gelap yang mulai bersemu abu.


"Kemarin Rafa minta Mamah buat hubungin kamu, tapi gak bisa. Kamu ke mana aja Vallen?" tanya Aya langsung.


Mata Vallen teralih dan menyorotkan rasa gugup saat melihat Aya. "Vallen ... abis kerja kelompok, Mah."


"Tunjukin ke Mamah apa hasil kerja kelompoknya," tantang wanita itu yang kemudian menengadahkan tangan di depan dada.


Skakmat, Vallen bungkam. Tidak mungkin Vallen bicara ia bersama Devan kemarin malam. Apa kata orangtuanya jika mereka tahu bahwa anak tunggalnya ini berduaan dengan laki-laki lain sampai hampir larut malam? Ya sekali pun tidak melakukan hal aneh-aneh juga.


Aya memperhatikan gerak-gerik Vallen yang risau. Tangannya lalu melayang di udara, dan berhenti di kepala putrinya.

__ADS_1


Ia mengusap pelan rambut Vallen.


"Mamah tau ada yang gak bisa kamu ceritain ke Mamah, tapi Vallen ... ceritakan semuanya ke Rafa. Sekalipun dia masih jadi tunangan kamu, setidaknya dengan saling terbuka, kamu dan Rafa akan lebih mudah menjalani rumah tangga nantinya."


Setelah mengerjapkan mata beberapa saat. Vallen yang masih mengenakan seragam sekolahnya itu langsung memeluk Aya. Begitu pun Aya yang membalas pelukannya.


"Rafa khawatir dengan kamu Vallen, sangat khawatir. Sama halnya sewaktu kamu menunggu Rafa sadar saat koma, bahkan Rafa juga rasain sesak yang serupa saat nunggu kamu untuk menjumpainya.


"Jelaskan pada Rafa ya? Vallen pasti bisa," semangat Aya.


Vallen mengangguk.


"Seseorang lebih baik tahu hal paling buruk asal itu benar adanya, daripada terus-terusan menerka hal yang tidak jelas," lanjut wanita yang hampir berusia setengah abad itu.


"Tapi Vallen takut Rafa tambah marah, Mah ...."


"Rafa pasti mengerti, hanya tinggal bagaimana cara kamu menjelaskan."


"Vallen belum siap ngomong sekarang," ucap Vallen yang melepas pelukannya.

__ADS_1


"Ya udah, sekarang kamu siap-siap sekolah aja dulu, nanti pulangnya, Mamah harap kamu udah siap."


***


__ADS_2