Pear

Pear
Chapter 16 (4)


__ADS_3

Pranggg ....


Piring itu jatuh dan membuat gempar semua penghuni kantin.


Rafa berdecak, kemudian ikut keluar dari bangku. Ia membantu Ina yang segera membereskan pecahan itu. Tangan Rafa teliti dan hati-hati menyatukan pecahan itu di satu tempat sekali pun gerakannya cepat karena sesudah ini jam pelajarannya Bu Lucy.


Pemilik kantin yang mempunyai piring itu mendekati mereka. "Ada apa ini?!" tanyanya padahal jelas harusnya dia sudah tahu apa yang terjadi.


Ina terperanjat mendengar suara itu. "Aw!" teriak Ina karena terkena pecahan itu. Sungguh Ina sangat takut pemilik piring akan marah.


Refleks Rafa melihat Ina, lebih tepatnya jari Ina yang sekarang berlumuran darah, entah sedalam apa pecahan itu menembus kulitnya tapi yang cowok itu tahu darahnya cukup banyak. Rafa segera mengalihkan pandangan dan berdiri, ia mundur satu langkah, sedangkan Ina panik sendirian masih dengan posisi yang jongkok.


Vallen yang menyaksikan itu segera menyimpan piringnya lagi di meja, sontak ia berlari menuju Ina. "Ayo ikut gue ke UKS!" Kedua tangan Vallen memegang bahu gadis itu dan membantunya berdiri.


"P-pak, nanti saya ganti rugi kok," kata Ina.


Vallen pun memapahnya, dan selama perjalanan ia meninggalkan sekitar bangku itu, mata Vallen tak lepas dari pandangannya terhadap Rafa. Tak lama mereka pun menghilang ditelan persimpangan.


"Gak susulin lo?" tanya Bayu.


"Buat apa."


Satria menggeleng dan tersenyum miring. "Anjir Fa gengsi lo kegedean!"


***


"Nasy, lo ada info gak si Ina sama Rafa ada apa?" bisik Vallen saat jam pelajaran Bu Lucy.

__ADS_1


Nasya mengangguk semangat. "Tadi pas bawain buku, si Bayu cerita."


"Mau denger!"


"Ayo izin ke wc, kita cerita di luar."


Vallen pun mengangkat tangan dan meminta izin pada Bu Lucy. Baiknya, ibu galak itu mengangguk sekali pun dengan mata yang masih saja melotot. Vallen tersenyum sungkan, kemudian ia berlari keluar kelas disusul dengan Nasya.


Ia yang izin tapi yang keluar berdua, sudah sangat biasa.


***


SMA Arcturus telah membebaskan para muridnya di jam pulang ini, semua berhamburan keluar gerbang, begitu pula dengan Vallen yang segera keluar dan mengedarkan pandangan mencari abang ojek online-nya.


"Atas nama Vallen Claudia Arunika?" tanya si abang yang tiba-tiba berhenti di depan Vallen.


Abang itu ikut tertawa, untungnya, jadi Vallen tidak merasa jengkel. Gadis itu pun mengambil helm dan naik ke motor si abang. Motor kemudian melaju ke tempat tujuan Vallen di mana Rafa sudah menunggu di sana seperti biasanya.


Sesampainya di sana, Vallen mengucapkan terimakasih lantas berlari ke arah Rafa.


"Fa, lo takut darah?"


"Naik!"


"Ih jawab dulu! Pfttt."


"Naik, Buffalen. Keburu ujan!"

__ADS_1


"Ngga ..., gue mau denger dulu. Iya atau tidak!"


"Hm!" dehemnya seraya memakaikan helm Vallen dengan asal, intinya asal masuk saja, tidak lihat kacanya ternyata ada di kepala belakang Vallen.


"Kebalik Bambang!"


Vallen pun membenarkannya, lalu naik ke motor ninja hitam Rafa. Kemudian, cowok itu menggerungkan motor dan alhasil motornya maju, ia menjalankannya dengan kecepatan cukup tinggi karena langit sudah mendung.


Di jalan, Vallen merenungi cerita Nasya. Jadi pada intinya Ina satu-satunya cewek yang Rafa suka seumur hidupnya kan? Lantas bagaimana dengan perasaan Rafa sekarang ... masihkah dia mencintai Ina? Hal itu membuat Vallen memandang punggung Rafa. Ada keinginan dirinya untuk bertanya. "Rafa ...." Akhirnya suara itu bisa keluar dari mulutnya.


Namun tiba-tiba kalimat Rafa kemarin mengiang di telinga Vallen.


Jangan bahas Ina lagi.


"Hah?" tanya Rafa yang segera membuat Vallen menggeleng.


"Nggak! Gak jadi ...."


Lalu langit pun mulai menurunkan rintiknya, mulanya kecil dan jarang, tapi lama-lama semakin deras.


🍐 Bersambung ....


...✨ Jangan lupa vommentnya gaisss ☺️...


...Jangan jadi silent reader pleaseee 🥺...


...Makasih ✨...

__ADS_1


__ADS_2