Pear

Pear
Chapter 19 (2)


__ADS_3

"Gue lagi gak enak nelen," sambung Vallen yang melihat Devan sedikit merenung. Entahlah rasanya tidak kuat melihat Devan sedih.


Vallen pun menyuruh mereka semua untuk duduk. Kemudian mereka berbincang, sedangkan Satria seru sendiri membuka buah-buahan yang dibeli Devan. Tentu ia disindir oleh yang lain, yang sakit kan Vallen kok dia yang makan. Namun setelah disindir sekali pun, Satria hanya nyengir tanpa merasa berdosa dan melanjutkan lagi makannya.


Dan pada akhirnya mereka semua makan buah bersama karena Vallen tidak menyiapkan apa-apa juga untuk kedatangan mereka.


"Val, lo mau buah apa nih? Dah lengkap!" Satria menunjuk semua buah itu seperti sedang mempersilakan seseorang. "Oh ya! Asalll jangan buah za ..."


"Anjr Satria!" Bayu mengusap muka Satria dengan kasar memakai tangan yang baru saja ia gunakan untuk menggaruk ketiaknya. Satria tidak tahu hal itu, makanya dia hanya menyingkirkan tangan Bayu dengan reaksi biasa saja.


"Buah za ... apa coba?" Satria terkekeh setelah melontarkan pertanyaannya.


"Jangan buat Vallen yang polos jadi tercemar otaknya!"


"Lah mang lo tau Bay, za ... apa?"


Bayu pun membisikan jawaban yang ia pikirkan pada Satria. Jawabannya sungguh membuat Satria terbahak. Bayu pikirannya malah melenceng.


"Bangsat Bayu nyebut gituan! Hahaha. Jangan buah zaitun maksudnya ... kagak ada soalnya." Satria kembali tertawa. "Kebiasaan anjr si Bayu tuh pikirannya ngeres."

__ADS_1


Yang lain tertawa, padahal pikiran yang lain juga bukan buah zaitun.


"Val kita ke kamar lo yok!" ajak Chela seraya menaikkan kedua alisnya.


"Kan lagi direnovasi."


"Iya gue pengen liat lagi diapainnya."


Vallen segera melihat ke arah kamarnya lewat ujung mata. "Lagi dicat!"


Chela tiba-tiba saja bangkit dari duduknya.


"Jangan Chel, tukang yang lagi ngerenovnya pemalu."


Chela menautkan kedua alis sambil sedikit tertawa. "Demi apa?"


Demi curut, batin Vallen.


"Demi apaan yak gue juga gak tau. Intinya asli deh itu tukang malu-malu ..."

__ADS_1


... anjing.


"... kucing gitu," jelas Vallen.


"Oke deh."


***


Di dalam kamar, Rafa melihat-lihat barang yang masih tersisa di sana. Barangnya didominasi oleh foto-foto Vallen. Di kamar Rafa bahkan Vallen tidak menyimpan satu pun fotonya. Sepertinya semua sengaja ditinggal di sini. Kebanyakan fotonya adalah gambar Vallen beserta dua sahabatnya. Sebagian foto juga memperlihatkan adanya Devan yang suka nyempil di antara mereka bertiga. Foto itu ditempel di kabel lampu tumbler yang terangkai apik di dinding kamar. Melihat Vallen ..., Rafa masih aneh sebenarnya sampai sekarang, kenapa Vallen yang jadi istrinya? Kenapa manusia manja yang mamahnya pinta untuk Rafa nikahi? Semua pertanyaan itu masih menjadi teka-teki besar yang belum bisa Rafa ketahui jawabannya.


Ada satu foto yang menarik perhatiannya, karena itulah tangan Rafa pun mencabut foto dari jepitan. Itu adalah satu-satunya foto Vallen dan Devan yang ia temui, hanya mereka berdua. Foto di saat Vallen menjadi Queen dan Devan menjadi King nya, kalau ingatannya tidak salah ini saat kelas 11. Sangat serasi mereka berdua bahkan menurut Rafa sendiri.


Ia kemudian duduk di kasur Vallen, lalu membawa dirinya tertidur di sana sambil masih melihat foto. Terbesit lagi sebuah pertanyaan:


Apakah Vallen bahagia menjalani hidup dengannya?


***


"Oh, kamu mau minum? Aku ambilin yah."

__ADS_1


Marvel meninggalkan Ina karena gadis itu meminta demikian. Ikatan kain di mulutnya telah Marvel lepas sebab Ina sudah lebih tenang. Ia pun berjalan ke dapur yang peralatan masaknya tak lengkap. Hanya sebatas peralatan untuk memasak makanan instan, kemudian piring, sendok, gelas dan tentu ada galon berisi air.


__ADS_2