
Baru jam pertama, dan mungkin keadaan ini akan terus berlanjut hingga tiga jam pelajaran berikutnya. Semua kegabutan akan usai saat bel istirahat pertama berbunyi.
"Gimana caranya ngebuat kita balik kayak dulu yah, Chel?" tanya seseorang.
Itu suara Ina, suara yang sampai ke telinga Vallen dan Nasya. Mereka yang mendengar pun langsung berpandangan.
Kita? Siapa aja? tanya Vallen dalam hati.
Vallen amat paham dengan nada bicara Ina yang menekankan bahwa 'kita' di sana bukan Ina dan Chela, lantas siapa?
Kemudian Vallen dan Nasya menyipitkan mata karena ingin menguping lagi namun suaranya tak kunjung terdengar. Pelan tapi pasti Vallen membalik badan, acting-nya untuk melihat jam di belakang kelas, pada kenyataannya ia ingin mengintip apa yang kedua temannya lakukan.
Sial.
Mereka malah berbincang lewat tulisan.
"Vallen ...," panggil salah satu teman sekelas gadis itu. Pemilik nama tersebut pun menengok.
__ADS_1
Ada selipat kertas yang tiba-tiba temannya beri. Vallen mengerutkan kening seolah bertanya 'dari siapa?' tapi yang memberi kertas itu tidak tahu karena surat tersebut sudah diestafetkan sedari tadi.
Vallen menerimanya, lalu segera menempatkan tangan di kolong bangku agar Nasya tak ikut melihat isinya.
Val, pulang sekolah temenin gue ke toko musik ya?
Gue janji gak akan nanyain alesan lo mutusin gue. Itu hak lo buat ngasih tau gue atau nggak.
- Devan
Entah bagaimana, tapi Vallen lemas setelah membaca kertasnya. Devan, kenapa cowok itu selalu punya berbagai cara untuk kembali? Vallen tengah mati-matian mencoba menghapuskannya dari dunia yang ia buat--pikirannya sendiri. Namun Devan tak pernah bisa pergi. Ayolah Devan, bantu Vallen. Vallen tak boleh begini, hatinya harus gadis itu tetapkan dan sudah pasti harus ditetapkannya itu pada Rafa.
"Val giliran lo!" kata Nasya.
Vallen mengangkat kepalanya. "Oh iya." Ia mengambil pulpen dan mulai memfokuskan mata mencari peluang. Selanjutnya Vallen menuliskan huruf S di salah satu kotak dan menggarisi tiga kotak yang telah membentuk SOS itu. Tambahan poin untuk Vallen.
Tuk ....
__ADS_1
Remasan kertas tiba di mejanya, Vallen melihat sekitar untuk mencari siapa yang melempar, tapi yang lain masih sibuk masing-masing. Tak pikir panjang tentang itu, ia pun segera membuka kertasnya. Di sebelah Vallen ada Nasya yang penasaran, kepalanya berusaha untuk melihat kertas itu, tapi Vallen memiringkan tubuh hingga Nasya tidak punya kesempatan untuk membacanya.
Please!!!
Dan Vallen tahu itu adalah Devan lagi.
***
Akhirnya setelah waktu yang lama, bel istirahat pun berbunyi, mengundang hela napas kelegaan dari setiap murid. Astaga bagaimana nasib ujian kimia mereka nanti jika guru yang mengajar pun terus-terusan keluar topik? Sepertinya mereka lebih baik belajar sendiri saja.
Rafa masih saja merenggangkan ototnya seperjalanan keluar kelas. Ada sisi positifnya juga guru kimia yang masuk saat tadi, jadi Rafa bisa memanfaatkan waktu untuk menghilangkan kantuk. Hanya saja pegalnya jadi bertambah.
"Dev, anter gue ke perpus. Ngambil formulir peminjaman buku paket. Kelas sebelah udah pada ngambil," pinta Rafa dengan lemas.
"Sendiri aja lah."
"Heh! Lo wakil ketua gak ada kerjaan banget, Dev. Cepet ayo! Males gue jalan sendirian, kapok ketemu dekel bar-bar," sungut Rafa. Sungguh segerombolan siswi yang sekarang sudah kelas 11 itu sangat mengganggu kedamaiannya di sekolah.
__ADS_1
Tapi salah siapa juga punya muka gantengnya gak ketulungan!
Devan tertawa, lalu memukul bahu Rafa dan mendorongnya seraya pamit pada Satria dan Bayu.