
Seorang cowok berjaket hitam memandang cewek yang tengah tertidur di rangkulannya. Mereka berdua terduduk di sofa yang ada di dalam sebuah rumah. Rumahnya bercat abu gelap bahkan hampir seperti hitam, beberapa mural menyeramkan terlukis di dinding. Gambarnya seperti tengkorak, api, batu, pohon dengan cabang yang amat melingkar, dan masih banyak lagi sampai gambar yang abstrak sekali pun.
Cewek itu tidur dengan lelap lengkap dengan seragam yang melekat di tubuhnya sedari kemarin. Rambutnya yang ia ikat ekor kuda sudah acak-acakan karena helaiannya keluar dari ikatan. Pemberontakan yang ia lakukan kemarin pada cowok ini membuat mulutnya jadi disumpal menggunakan lilitan kain. Meski penampilannya jauh dari kata rapi saat ini, tapi si cowok menatapnya dengan pandangan memuja. Lekuk rahangnya sangat halus, kulitnya sangat mulus, dan lihat, lihat bulu matanya yang indah bahkan saat ia tertidur. Secercah senyum pun tercipta di wajah cowok tersebut. Ia ingin sekali cewek ini tetap berada di dekatnya.
"Udah lama dia gak main ke sini," kata seseorang yang datang-datang sudah meniup asap rokok saja. Membuat rumah dengan ventilasi minim ini makin terasa pengap dan panas. Orang tersebut kemudian duduk di sofa lain yang hanya muat untuk seorang.
Cowok itu tersenyum lagi walau hanya mendengar kalimat tersebut. Ia menatap kembali ceweknya dan merapikan anak rambut di sekitar kening yang berantakan. "Jadi susah gue ketemu dia."
Seseorang yang merokok tadi menyeringai, lalu berjalan ke belakang sofa hingga berada tepat di belakang si cowok. "Mar, buka blazernya ...." Lagi-lagi dia menyembulkan asap, tapi sekarang tepat ke kepala sepasang manusia yang duduk.
Mar adalah panggilan dari seorang Marvel. Cowok yang sudah membuat seseorang tidak masuk ke sekolahnya tanpa kabar.
Marvel menurut pada si perokok yang mana merupakan ketua gengnya. Lelaki itu membuka kancing dari blazer Ina. Perlahan tapi pasti kancing-kancing itu bisa terlepas dari kaitannya.
__ADS_1
Ina kemudian merasakan sesuatu yang aneh di perutnya, sesuatu yang membuatnya membuka mata dan menjerit walau tertahan.
Netra itu kembali meneteskan air mata. Menyalurkan ketakutan yang amat mendalam pada dirinya. Apalagi Ina tak asing dengan rumah ini, rumah yang berkali-kali menjadi saksi kehormatannya hampir direnggut.
Karena gadis itu berontak, Marvel mendekatkan wajahnya ke wajah Ina sampai kening dan hidung mereka menempel. "Sttt, Sayang. Tenang ..., aku gak akan ngapa-ngapain. Cuma buka blazer kamu biar gak gerah." Marvel tersenyum dan melanjutkan membukanya. "Kalo gini pasti lebih leluasa kan?"
"Oh! Dasinya mau aku lepas juga?"
Ina menggeleng cepat sambil terus menangis.
Frian.
***
__ADS_1
Tangan Rafa memegang kening Vallen. "Panas lo udah turun," katanya yang dijawab dengan deheman seorang Vallen. Gadis itu masih saja berada di pelukan Rafa padahal jam sudah menunjukkan pukul 9. Rafa pun mau tidak mau harus mengurungkan niatannya untuk datang siang ke sekolah.
Suara ponsel terdengar di belakang tubuh Vallen. Tentu saja itu ponsel Rafa yang terakhir ia gunakan hanya untuk menghubungi mamahnya Vallen. Cowok itu pun mengambil hp-nya. Dan setelah melihat apa yang terpampang di layar, ia membelalakkan matanya.
Devan memanggil lewat vidcall.
Ia terperanjat dan langsung duduk. Namun belum saja duduknya benar, Vallen sudah menahan tangannya sembari merenyeh. "Val diem," peringat Rafa yang membiarkan tangan kanannya digenggam Vallen. Rafa menggeser layar dan sambungan pun dimulai.
Ia melihat Bayu dan Devan di layar.
"Rafa! Ini udah istirahat pertama trus lo masih belum OTW? Tega lo Fa ngebiarinin gue ngejomblo di bangku!" teriak Satria yang mukanya tiba-tiba muncul dan menghalangi kedua temannya.
Kalau Rafa kagetan sudah pasti ia akan melempar ponselnya. Bodo amat akan rusak atau bagaimana, yang terpenting matanya tidak lagi melihat orang itu di layar.
__ADS_1
"Gue gak jadi sekolah," jawab Rafa.