
Devan dan kawan-kawan pergi ke kantin, ketiganya lalu bergabung dengan geng Vallen dalam satu bangku kantin yang sama. Makanan kemudian tersaji di depan mata mereka, tapi belum jadi dimakan karena kantin tiba-tiba berisik.
Kepala mereka menengok ke sana-kemari untuk mencari sumber kegaduhan. Nyatanya, semua penghuni kantin menyoraki kedatangan empat cowok berseragam Canopus.
"Cogan in our area!" kata Nasya semangat yang langsung dihadiahi oleh tempelengan Chela.
"Guys, come on, gue pengen pindah ke Canopus aja. Banyak badboy yang ganteng-gantengnya!" Mata Nasya sangat berbinar memandang cowok-cowok itu. Walaupun salah satunya ada yang gendut, tapi dia tetaplah menggemaskan.
"Kalo lama-lama liat juga lo bakal bosen, Nasy," ucap Ina.
"Lo bosen liat Erkan, Na? Gue mah nggak!"
"Astagfirullah! Turunkan pandanganmu, Ukhti," nasehat Chela sembari geleng-geleng kepala dan langsung menempatkan tangan di depan wajah gadis itu untuk menghalangi pandangannya.
"Chela awas!" Nasya mengenyahkan tangan yang mengganggunya. "Gila gila, Pang-Erkan mendekat! Aaaa My Princeee!"
"Anjir Nasy, lo jangan gila dulu. Erkan ke sini bisa jadi bawa masalah!" geram Chela.
"Ya iya maap."
Devan memandang Erkan yang berhenti di pinggir mejanya.
"Mau apa lo?" tanya Devan.
Erkan langsung menyimpan kertas dan pulpen di atas meja. "Tanda tangan, persetujuan ketua basket Arcturus buat final ulang," jelasnya datar.
"Dev, gak usah. Pertandingan ini gak penting lagi!" cegah Vallen. Kemudian, ia pun mendongak. "Erkan, lo ngapain sih? Urusan gini doang diperpanjang."
"Gue ngomong sama lo gak?" balas Erkan yang membuat Vallen jengkel pada detik itu juga.
Devan segera mengambil pulpen lalu mengarahkan ujungnya ke kertas.
"Dev!" Vallen menautkan alis, menunjukkan raut khawatirnya saat menatap Devan. "Jangan, lo masih ...."
"Gue mampu."
"Jangan maksain, Dev."
"Gue bisa," katanya sambil melihat Vallen dengan serius. Dan benar saja, setelah itu, ia langsung menandatangani kertas tersebut dan menyerahkannya kembali pada Erkan.
"Lusa. Jam setengah satu di Canopus." Erkan memberitahu jadwalnya, barangkali Devan tidak membaca apa isi suratnya.
Devan diam.
__ADS_1
"Gue tunggu kekalahan sekolah lo." Ketua basket Canopus itu menyeringai sebelum akhirnya pergi meninggalkan kantin.
***
"Gila ya si Erkan, tuh anak ambis sama uang lima ratus ribu apa gimana sih? Kalo dibagi-bagiin, buat sekali jajan ke kantin juga abis!" oceh Vallen selama berjalan untuk kembali ke kelas.
"Masalah harga diri kali, Val," tebak Nasya yang ada di sebelahnya.
"Dia tuh gak ngerti Devan lagi sakit."
"Gak mungkin juga kita kasih tau dia."
"Ih, gue kesel!" kata Vallen sembari menghentikan langkahnya. "Btw, gue trauma nonton tanding basket, tapi gue harus awasin Devan nanti."
"Kita kan bakal temenin lo, Val." Chela memegang bahu Vallen.
"Walaupun pada dasarnya gak dikasih kuota buat nonton pertandingan itu, tapi mungkin kita bakal dikasih surat dispen juga kalo terus ngedesak kesiswaan," ujar Chela percaya.
Nasya mengangguk setuju.
"Makasih semua ...." Vallen tersenyum simpul sambil melihat sahabat-sahabatnya.
***
"Kiriman buat Vallen lagi?" tanya si bapak.
Siswa itu mengangguk.
"Tadi Vallen baru aja pergi sama Devan, naik mobil. Tuh masih keliatan," katanya sambil menunjuk mobil berwarna hitam di ujung jalan.
Siswa tersebut tak lain adalah Marvel, ia menarik kembali kotak yang seseorang titipkan padanya. Kemudian dirinya pun menaiki motor untuk pergi ke markas Geng Rigel.
Di tengah perjalanan, teleponnya berbunyi. Marvel meminggirkan motor dan berhenti sesaat untuk mengangkat panggilan itu. "Vallen lagi pergi sama Devan," lapornya.
Devan? Ck. Masih aja gak lepas dari Claudi.
Marvel mematikan sambungan dan mengegas lagi motor sport-nya dengan kencang. Kuda besi itu meliuk-liuk saat berbelok di beberapa persimpangan. Namun, tiba-tiba si pengendara mengerem mendadak saat melihat mobil hitam yang ditunjuk oleh satpam tadi.
Cowok itu pun mengeluarkan lagi teleponnya.
"Mobil Devan ada di sekitar markas," ucapnya memberi tahu.
Ngapain anj*r?
__ADS_1
"Kayaknya lagi ngawasin orang."
Bangs*t.
Mar, gue punya tugas lagi buat lo.
***
Waktu terus bergulir. Mata Vallen dan Devan masih setia memperhatikan rumah yang pernah mereka awasi juga beberapa hari lalu dari dalam mobil. Sesekali Vallen mengecek jam dengan menyalakan layar ponselnya. Ia merasa tidak tenang karena hari semakin sore saja, sedangkan dirinya tidak tahu pasti Rafa akan pulang dari rumah sakit jam berapa hari ini.
Karena terus merasa tidak enak hati. Vallen pun menoleh pada mantannya. "Dev, gue harus pulang sekarang."
Devan menengok setelah mendengar, ia sebenarnya sudah sadar sedaritadi Vallen sedang gelisah—sekali pun tidak tahu karena apa. Maka darinya, ia pun menuruti perkataan Vallen dan mulai menyalakan mesin mobil.
Selama perjalanan, tak banyak hal yang dibicarakan. Devan fokus dengan jalan, dan Vallen anteng memainkan hpnya. Hingga sampailah mereka di depan rumah orang tua Vallen.
"Makasih, Dev," kata gadis itu seraya membuka pintu mobil.
"Sama-sama."
Setelah turun, Vallen membungkuk. "Bye! Ati-ati ya!" ucapnya sambil melambai. Devan mengangguk.
Mobil hitam itu pun pergi. Vallen menyaksikannya hingga kendaraan itu betulan menjauh. Lalu tak lama, ojek online yang dipesannya sampai.
"Vallen Claudia Arunika?" tanya si abang.
Vallen mengangguk.
***
Devan menatap Vallen yang tengah duduk di motor. Saat cewek itu bermain hp di mobilnya tadi, terlihat olehnya bahwa Vallen sedang membuka aplikasi ojek online. Entah ada keperluan apa, dan apa yang membuat Vallen sangat gelisah sore ini, itu membuat Devan penasaran. Maka darinya, sekarang ia mengikuti gadis itu. Devan pun berharap Vallen tidak melihat ke belakang dan menciduk keberadaan mobilnya yang mengekori.
Beberapa menit kemudian setelah menempuh jarak cukup jauh, akhirnya motor yang ditumpangi Vallen berhenti. Tepat di rumah sahabat Devan—Rafa. Vallen turun dari motor dan memberikan uang.
Saat gadis berambut sebahu itu berbalik, gerbang langsung dibukakan, lalu dirinya disambut oleh satpam rumah Rafa. Menyaksikan hal tersebut, Devan menghela napas seraya menyenderkan tubuhnya ke kursi mobil.
🍐 Bersambung ....
...Jangan lupa vomment guys 🔥🔥🔥...
...Makasihhh 😘...
...Btw, Pear bentar lagi beres. Jadi jangan kaget ya kalo tiba-tiba ada kata 'tamat', 'end', dan sejenisnyaaa....
__ADS_1