Pear

Pear
95


__ADS_3

"Ada kemungkinan gak sih, yang ngasih surat ke si Vallen sebenernya cuma mau nge-distract lo doang, Dev?" Ucapan Bayu berhasil mengalihkan perhatian Devan yang sedang minum.


"Hah?"


Di tengah lapang, Rafa masih semangat meneruskan permainannya bersama beberapa orang yang sama-sama memutuskan untuk tidak istirahat dulu, adalah sekitar lima orang. Ia men-dribble bola basket sambil berlari zig-zag melewati musuh—temannya sendiri. Kemudian ia pun berhenti dan memusatkan perhatiannya pada ring. Rafa pun menurunkan badannya sebagai ancang-ancang, lalu melompat seraya melempar bola itu. 


Dreng!


Bola memantul dari kotak tengah pada papan pantul. Benda bulat itu bahkan melewati atas kepala Rafa yang mana artinya melambung jauh ke belakangnya. Rafa berbalik untuk mengejar bola tersebut, tapi sayangnya bola itu sudah mendarat pada satu dari empat orang yang sedang berjalan santai menyeberangi lapangan.


Brak!


Vallen yang terkena bola itu!


...


Tapi tangannya yang kena, karena ia pas-pasan bisa menangkap bola tersebut. Tumben Vallen jadi jago begini!


Rafa berjalan beberapa langkah, lalu ia mengangkat dagu sebagai kode agar Vallen melempar bolanya kemari.


"Fa!" panggil Ina yang berjalan bersamanya. "Gue nunggu di sana yah!" Gadis itu pun menunjuk tempat duduk di pinggir lapang agar Rafa mudah menemukannya saat hendak pulang nanti.


Rafa mengikuti arah tangan Ina. "Hm."


Vallen menatap kesal pada tunangannya. Ia membatin karena Rafa terus berlaku baik pada Ina.

__ADS_1


Buat apa juga sih nganter Ina terus? Tukang ojeknya lo?!


Segera Vallen melempar bola itu tanpa aba-aba, untung saja Rafa kebetulan sedang dalam proses menengok ke arahnya lagi, dan dengan gesit ia pun menangkapnya. Vallen mendengus geram, lantas berjalan meninggalkan lapang.


Chela, Nasya, dan Ina sudah tahu Vallen mau ke mana, karena cewek itu sudah pamit sehabis keliling sekolah sambil gibah tadi.


Rafa yang melihat Vallen berjalan tak santai langsung melempar bola basket ke sembarang arah, lalu mengejarnya. Dilihatnya Vallen masuk ke kelas, dan Rafa harap di dalam sana sudah tak ada orang.


Sesampainya di ambang pintu, matanya menyusuri dulu keadaan kelas.


Aman.


"Ekhem." Rafa terbatuk.


Vallen tak menoleh sedikit pun, ia fokus untuk mengambil tas di bangkunya, terlampau malas juga jika menghadapi Rafa. Baru saja ia menyangkutkan tali tasnya di bahu, Rafa sudah kembali bersuara. "Beres latihan, gue bakal anter Ina. Lo ..."


Vallen sedikit menyenggol Rafa saat melewatinya, lagi pula cowok itu menghalangi jalannya di lorong antarmeja sih.


Ati-ati, batin Rafa. Namun yang diperdengarkan adalah hembusan napas kasarnya karena Vallen tidak peduli dengan apa yang ia ucapkan.


Deg!


Rafa menahan langkah gadis itu.


Seketika mata Vallen pun terbuka lebar, ia sedikit menoleh ke samping sambil menyuruh, "lepas!"

__ADS_1


Rafa melihatnya dari ujung mata tanpa menuruti suruhannya sedikit pun. "Ngambek lagi ya lo?" tanyanya.


Vallen memutar bola mata, kemudian melangkah maju sekuat tenaga agar cengkeraman Rafa lepas, ya ... dia berharap juga tasnya tidak rusak karena Rafa menahannya kuat-kuat!


Vallen mencoba dan terus mencoba sampai ia pun menggeram.


Dan akhirnya karena percobaan berulang yang ia lakukan, usahanya pun membuahkan hasil karena Rafa melepaskan cengkeraman pada tasnya. Bukan karena tenaga Vallen besar, Rafa hanya takut jika tunangannya ini semakin ngambek. Namun karena hal itulah, tubuh Vallen jadi terdorong ke depan lebih signifikan dan alhasil ia pun terjatuh.


Brak!


Untung saja bukan mukanya yang duluan mendarat, melainkan kedua telapak tangannya. Beberapa detik setelahnya, ia mengepalkan tangan yang menjadi penumpunya itu.


Rafa ..., geramnya dalam hati.


"Val!"


Seseorang langsung membantu Vallen untuk duduk. Gadis itu pun sedikit tercengang dengan apa yang dilakukan olehnya, terlebih lagi orang itu dengan cekatan meluruskan kakinya dan membersihkan tulang kering Vallen yang terkena debu dari ubin kelas. Kemudian orang tersebut sedikit mengangkat celananya yang panjangnya 3/4, hingga lutut Vallen terlihat. Dia sudah bilang 'sorry' sebelum menariknya ke atas tadi. Bukan maksud apa-apa, hanya khawatir jika Vallen terluka.


"Lo gapapa?" tanyanya.


"Ng-nggak."


"Kok bisa jatoh?"


Tanya sama temen lo!

__ADS_1


__ADS_2