
Rafa dan Vallen seketika saling bertatapan, tak lama karena Bayu melanjutkan kocokan nomornya. Hingga didapat yang memberi tantangan pada Vallen adalah Devan, sedangkan yang memberi tantangan pada Rafa adalah Satria.
"Jadi lo mau ngasih tantangan apa Dev buat Vallen?" tanya Bayu.
Devan melirik Vallen dan menatap matanya lekat saat gadis itu membalas tatapannya. Ia kemudian bergumam sembari berpikir. Lalu tercetak senyum manis di wajahnya.
"Tantangannya ... ikut gue pulang sekolah besok."
Vallen mengernyitkan dahi. "Ke mana?"
"Rahasia."
Rafa melihat Vallen dari pinggir sini, tidak tahu kenapa rasanya kesal mendengar permintaan Devan. Namun satu hal yang mengejutkan adalah Vallen menyikut tangannya. Kemudian gadis itu bergumam untuk menimang sambil melihat Satria, Bayu, dan selanjutnya Rafa.
Saat melihat Rafa, Vallen menaikkan kedua alisnya. Dan seakan mengerti, cowok itu menggeleng kecil sambil menaikkan bahu seolah menunjukkan jawaban itu terserah Vallen. Lalu satu anggukan pun dilakukan oleh gadis itu.
Rafa sudah dapat menebaknya, bagaimana bisa seorang Vallen menolak ajakan Devan.
Lanjut, Bayu bertanya lagi pada orang yang berbeda. "Oke, Sat. Kalo lo, mau nyuruh si Rafa ngapain?"
Satria mengetukkan kakinya ke lantai walau ia sedang duduk. Ia kemudian pergi dari ruang tamu.
Datang-datang Satria malah membawa satu cabe rawit yang sudah dicuci. "Makan!" serunya sembari menyodorkan itu.
__ADS_1
Rafa menatap Satria dan cabe-cabeannya secara bergantian. "Ganti dong Sat," pinta Rafa.
"Kagak ada keringanan, ayo cobain makan." Lagi-lagi Satria mendekatkan cabe rawit itu sambil menggoyangkan tangannya.
Mata Vallen terbuka lebar saat melihat Rafa menerima cengek tersebut. Ia menautkan kedua alisnya, pula bertanya pada diri sendiri apa Rafa bisa? Bundanya Rafa hanya bilang anaknya tidak suka pedas, tapi bagaimana jika semisal Rafa itu intoleran terhadap capsaicin?
Rafa meneguk ludahnya kemudian mulai mendekatkan cengek ke bibir.
Hampir dekat.
Terus mendekat.
Sedikit lagi.
"Ka!" teriaknya lagi.
"Ada yang punya jangka gak? Hari ini gue mau ngegambar bulet-bulet tapi jangka gue ilang. Parah banget gak isi? Iya! Kacau banget kalo gak ada itu."
"Heboh amat, Neng!" Satria sedikit meninggikan suaranya karena dia betulan kaget saat Vallen tiba-tiba berteriak.
"Gue punya, tapi ada di kamar," jawab Devan sembari menggerakkan dagunya menunjuk kamar.
"Ah, gue izin ambil ya!"
__ADS_1
Vallen mendorong Rafa hingga cowok itu melepaskan cengeknya, kemudian Vallen langsung menginjak buah oranye tersebut. Ucapan penyesalan disampaikan oleh Satria karena melihat cengeknya penyet dan hancur.
"Yhaaa Val!"
"Eh maaf!"
***
Sorenya Rafa ditugaskan untuk mengantar Vallen pulang. Alasannya sama, yakni karena dia bawa dua helm. Selama di perjalanan tak ada sepatah kata pun yang terucap, sampai akhirnya gerimis mulai menerjang dan Rafa segera meminggirkan motornya di depan sebuah ruko yang tutup. Ia tak mau Vallen sakit lagi seperti sebelumnya.
Vallen menatap langit seusai turun dari motor, ia pun berjalan ke lantai ruko kemudian duduk di sisi lantai yang berhadapan dengan paving block. Cewek itu langsung menenggelamkan wajah di lipatan tangan atas pahanya, merasakan kegalauan di hatinya yang tak kunjung reda.
"Val?" panggil Rafa yang cukup membuat Vallen terkejut.
Pelan-pelan ia mengangkat wajahnya dan menoleh pada Rafa. "Hm?"
Rafa yang duduk di sebelah Vallen nyatanya sedang menunduk. Karenanyalah, gadis itu memiringkan wajah, kemudian menoel lengan Rafa menggunakan satu jarinya.
"Apa Fa Jelek?"
🍐 Bersambung ....
Jangan lupa vomment guysss
__ADS_1
Makasiii 🥰