
KIAM -KOK-SAN (Gunung Berlembah Pedang) merupakan sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Kun Lun San yang tidak pernah dikunjungi manusia seperti puncak-puncak lain dari Kun Lun-san. Bukan karena pemandangan di Kiam-kok-san kurang indah. Sama sekali bukan. Bahkan tamasya alam yang tampak dari puncak gunung ini amat indahnya.
Batu kapur yang mengeras dan mengkilap menjulang tinggi bagai menara bei menembus awan, tak nampak ujungnya seolah-olah bersambung dengan langit. Pantaslah kalau ada yang mengatakan bahwa puncak batu berawan itu adalah tempat kediaman dewa-dewa penjaga gunung.
Awan putih yang berarak bagai domba-domba kapas, yang tak pernah berhenti dihembus angin langit, menjadi jinak setelah bertemu dengan Kiam-kok-san, berkumpul di sekeliling puncak seperti sehelai selimut bulu domba yang hangat. Dari puncak ini memandang ke bawah tampak awan putih mengambang di bawah kaki, menyusupi lembah-lembah bukit yang amat curam.
Indah, sukar dilukiskan dengan kata-kata keindahan tamasya alam yang dapat dinikmati dari puncak Kiam Kok-san. Betapa taman surga terbentang luas di bawah kaki gunung, suram-suram terselimut tirai halimun menciptakan sifat yang ajaib penuh rahasia.
Bukan karena kurang indah, namun kesukaranlah yang membuat tempat itu tidak pernah dikunjungi manusia. Sesuai dengan namanya, puncak ini terdiri dari lembah-lembah yang penuh dengan batu gunung yang merupakan karang-karang meruncing dan tajam seperti pedang. Tidak terdapat jalan tertentu mendaki puncak, tidak ada pula jalan setapak bekas kaki manusia. Semuanya liar, lebat dan bahaya maut mengintai setiap saat bagi manusia yang berani mendatangi tempat itu.
Jurang-jurang yang amat curam, belukar tempat persembunyian binatang-binatang buas, rumput-rumput hijau yang menjadi topeng bagi muara-muara dalam penuh lumpur dan ular berbisa, serta bahaya tersesat jalan. Jangankan orang biasa, bahkan mereka yang sudah memiliki ilmu kepandaian seperti para pertapa dan para pendekar masih akan berpikir masak-masak lebih dahulu untuk mendaki puncak berbahaya seperti Kiam-kok-san.
__ADS_1
Pagi hari itu amatlah cerah. Halimun tidak setebal biasanya dan karenanya sinar matahari pagi dapat menerobos di antara celah-celah daun pohon dan batu pedang, lalu mengusir halimun serta menerangi tanah puncak yang penuh lumut dan rumput hijau. Tak terkira indahnya puncak Kiam-kok-san yang bermandi cahaya keemasan matahari pagi itu, sunyi dan hening, aman tentram.
Seperti itulah agaknya sorga sering kali disebut-sebut oleh para pendeta yang dijanjikan sebagai anugerah tempat tinggal bagi para manusia yang di dalam hidupnya menjauhkan diri dari pada segala kemaksiatan dan kejahatan.
Pada saat sinar matahari mencapai kaki batu hitam mengkilap yang ujungnya berselimut awan langit, tampaklah seorang kakek tua renta duduk bersila di atas batu halus. Kakek ini sudah sangat tua, terbukti dari kulit wajahnya yang dipenuhi keriput, dagingnya yang sudah tipis hingga tulang-tulangnya menonjol di balik kulit, rambutnya yang putih semua terurai panjang sampai ke punggung dan sebagian menutupi kedua pundaknya. Apa bila ditaksir, usia kakek ini tentu tidak kurang dari seratus tahun.
Pakaiannya yang sederhana hanya merupakan kain putih yang sudah agak menguning dibalut-balutkan ke tubuhnya, kakinya telanjang seperti kepalanya. Dia duduk bersila di bawah batu pedang yang tinggi itu dengan sepasang kaki dan kedua lengan menyilang, duduk tak bergerak-gerak dengan kedua mata dipejamkan.
Di atas tanah, di depan kaki yang bersilang dengan bentuk teratai (kedua telapak kaki terlentang di atas paha), terdapat sebatang pedang telanjang yang mengeluarkan sinar kehijauan sesudah tertimpa cahaya matahari. Sebatang pedang yang indah bentuknya, namun amat aneh karena berbeda dari pada pedang-pedang umumnya yang terbuat dari baja-baja pilihan, pedang yang terletak di depan kakek itu adalah sebatang pedang kayu!
Perlahan-lahan sekali, sedikit demi sedikit, sinar matahari seakan memandikan wajah tua keriputan itu. Di bawah sinar keemasan sang surya, wajah itu tampak sangat elok dan tak dapat diragukan pula bahwa kakek ini dahulu tentunya seorang pria yang amat tampan. Bentuk dan raut wajahnya masih jelas membayangkan ketampanan seorang pria.
__ADS_1
Kehangatan sinar matahari yang sedap nyaman itu menyadarkannya dari semedhi. Dia membuka kedua matanya dan orang akan heran kalau melihat sinar matanya. Orangnya jelas sudah amat tua, namun sepasang matanya bening seperti mata seorang anak kecil yang masih bersih batinnya! Bagi seorang ahli kesaktian, hal ini saja sudah menjadi bukti bahwa kakek ini telah mencapai tingkat ilmu yang amat tinggi, karena hanya orang yang memiliki sinkang (hawa sakti) yang amat kuat saja yang bisa mempunyai sepasang mata seperti itu.
Dengan pandang mata penuh kagum kakek itu memandang ke depan, lalu ke kanan kiri, dengan sinar matanya seolah-olah dia menyantap dan menikmati segala keindahan yang diciptakan oleh sinar keemasan sang surya itu. Kemudian dia menggelengkan kepalanya dan bibirnya bergerak-gerak, mengeluarkan kata-kata lirih.
"Ya Tuhan Yang Maha Kasih! Sampai sedemikian besarkah kasihMu terhadap seorang penuh dosa seperti aku? Berhakkah aku menikmati semua ini? Aaaahhh, tidak mungkin! Thian (Tuhan) hanya melimpahkan ganjaran kepada orang yang sudah berjasa di dalam hidupnya. Guruku dahulu mengatakan dalam pesannya bahwa aku harus berbuat jasa terhadap manusia dan dunia. Apakah jasaku selama aku hidup? Tidak ada! Hanya malapetaka yang menjadi akibat dari semua perbuatanku! Dan semua itu karena aku pandai ilmu silat, karena... karena Siang-bhok-kiam (pedang Kayu Harum) ini! Aaahhh, Tuhanku! Aku tidak akan mengelak dari pada kenyataan. Aku rela dan siap sedia untuk menerima hukuman-hukumannya. Tidak mungkin aku membebaskan diri dari pada belenggu karma. Aku tidak berhak menikmati kemurahan dan kasihMu, ya Tuhan....!"
Kata-kata terakhir kakek itu bercampur isak tertahan dan dia lalu memejamkan kembali kedua matanya seolah-olah dia tak mengijinkan matanya memandangi segala keindahan yang terbentang luas di depannya. Keadaan menjadi sunyi kembali. Sunyi sama sekali?
Tidak! Terdengar kicau burung pagi, riak air di belakang batu pedang, dan desau angin menghembus lewat mempermainkan daun-daun pohon. Paduan suara ini seakan-akan mengejek kakek itu, seolah-olah menertawakan kebodohan dan kebutaan manusia.
Tuhan Maha Kasih tidak membeda-bedakan. Siapa pun dia yang bersedia, pasti akan menerima uluran kasihNya, seperti cahaya matahari pagi yang tidak memilih-milih siapa yang akan disinarinya. Kasih sayang Tuhan merata, tanpa perbedaan, tidak dikotori dosa manusia, besar kecilnya kasih yang dilimpahkan tergantung dari pada rasa penerimaan si manusia sendiri!
__ADS_1