
Akan tetapi, dia tahu betul bahwa apa bila dia melakukan hal itu, Cui Im tentu akan terbunuh oleh orang-orang sakti yang sedang mengejarnya, apa lagi Cui Im dikenal sebagai tokoh golongan sesat dan sekarang sudah melanggar larangan Kun-lun-pai dengan mendatangi bahkan mendaki Kiam-kok-san yang dianggap keramat oleh para tosu Kun-lun-pai.
Tiba tiba dia teringat betapa gadis berpakaian merah itu pun dahulu amat menginginkan pusaka gurunya! Ah, kalau sampai Cui Im mempelajari segala ilmu peninggalan gurunya dan menjadi seorang yang memiliki kesaktian hebat, bukankah dunia ini akan bertambah seorang tokoh kaum sesat yang berbahaya sekali? Bagaimana dia mengajak seorang gadis yang sedemikian jahat dan kejamnya ke tempat suci ini? Tidak! Dia harus menyuruh pergi Cui Im, setidaknya menanti sampai keadaan aman.
Biarlah dia akan memberi benda-benda berharga peninggalan suhu-nya, sebab bukankah wanita paling suka akan benda-benda perhiasan yang serba indah dan mahal? Atau kalau gadis itu masih belum puas, boleh dia bagi sebuah kitab pelajaran ilmu yang tidak terlalu berbahaya.
Teringat akan ini, Keng Hong mempercepat gerakannya merangkak dan begitu sampai di ruangan penuh ukiran-ukiran huruf itu, dia meloncat berdiri dan memanggil.
"Cui Im...!"
Hanya gema suaranya sendiri yang menjawab. Cui Im tidak tampak di dalam ruangan itu!
"Cui Im...!" Keng Hong memanggil sambil memandang ke arah pintu yang terbuka menuju ke ruangan sebelah dalam.
Tentu gadis itu yang mengagumi keadaan ruangan ini telah masuk ke sana dan sekarang sedang melihat-lihat ruangan lainnya. Dan sekarang dia baru teringat betapa menggelikan keadaannya ketika tadi dia mentertawakan Cui Im yang disangkanya takut dia tinggalkan seorang diri. Cui Im takut? Ahh, alangkah bodohnya pendapat ini.
__ADS_1
Cui Im adalah seorang tokoh kang-ouw, seorang tokoh golongan sesat atau hitam yang berjuluk Ang-kiam Tok-sian-li (Dewi Beracun Berpedang Merah) yang amat ditakuti orang melebihi seorang iblis betina! Seorang tokoh seperti itu mana bisa merasa takut berada sendirian dalam ruangan di sebelah dalam batu pedang di puncak Kiam-kok-san itu? Bila tadi ketika mendaki Cui Im takut-takut adalah karena rasa ngeri seorang wanita yang tidak biasa mendaki tempat-tempat curam seperti itu.
"Cui Im...!"
Keng Hong melangkah maju melalui pintu yang terbuka. Ternyata di balik pintu ini ada ruangan lain yang amat luas dan dindingnya amat indah karena batu karang di sebelah dalam batu pedang ini kiranya berupa batu yang berkilauan! Ruangan luas ini mempunyai lubang-lubang pada sebelah atas dan begitu dia memasuki ruangan ini, selain udaranya segar, juga terdengar suara angin memasuki lubang-lubang itu yang menimbulkan suara seperti suling ditiup, amat aneh namun halus dan merdu.
Di sebelah atas tampak ukiran-ukiran huruf besar yang amat indah, berbunyi:
MENDIRIKAN KUN-LUN-PAI UNTUK MENEGAKKAN KEADILAN DI DUNIA.
Mendirikan Kun-lun-pai? Ahh, pengukirnya tentu orang yang dulu mendirikan Kun-lun-pai. Sucouw dari Kun-lun-pai. Benar! Bukankah tempat ini merupakan tempat yang keramat dari partai Kun-lun?
Pernah ketika dia masih menjadi kacung di Kun-lun-pai, seorang tosu tua mendongeng kepadanya tentang pendiri partai Kun-lun-pai yang mereka sebut sucouw, yang kabarnya memiliki kesaktian seperti dewa. Dan kabarnya setelah menyerahkan Kun-lun-pai kepada murid-muridnya, sucouw ini lalu naik ke batu pedang dan bertapa di sana sampai lenyap kemudian oleh semua anak murid Kun-lun-pai dianggap telah naik ke alam baka bersama raganya!
Itulah sebabnya mengapa Kiam-kok-san lalu dianggap sebagai tempat keramat, sebagai ‘kuburan’ sucouw mereka yang terhitung kakek buyut guru dari Thian Seng Cinjin! Tentu di sinilah tempat sucouw itu bertapa dan mungkin sekali tempat ini adalah ciptaan atau buatan sucouw itu yang kemudian juga digunakan oleh Sin-jiu Kiam-ong sebagai tempat bertapa dan tempat menyimpan pusakanya.
__ADS_1
Siapa pula nama sucouw itu? Kalau tidak salah dia mendengar dari tosu tua itu bahwa nama sucouw ini adalah Thai Kek Couwsu.
Tiba-tiba dia terkejut karena teringat akan Cui Im. Kembali dia memandang ke sekeliling setelah beberapa lamanya termenung karena membaca huruf-huruf terukir itu. Dia melihat bahwa ruangan lebar itu mempunyai empat buah pintu. Sebuah menuju ke ruangan luar tadi dan yang tiga buah lagi daun pintunya yang terbuat dari pada kayu tebal tertutup.
"Cui Im..!" Dia mengerahkan khikang sebagai suaranya bergema keras. Namun tidak ada jawaban.
Keng Hong kemudian menghampiri pintu di sebelah kiri dan membukanya. Daun pintu itu terbuka dengan mudah. Dia terpesona dan silau melihat benda-benda berharga teratur rapi di atas sebuah meja dan dinding penuh dengan lukisan dan tulisan indah yang serba mahal.
Benda berharga di atas meja ini terbuat dari emas, perak, dan batu-batu permata yang serba indah. Kendi dan cawan-cawan emas, peti-peti kecil dari emas serta perak diukir indah dan dihiasi batu-batu permata. Perhiasan-perhiasan wanita yang halus buatannya. Mainan berupa segala macam binatang yang terbuat dari emas dan perak pula, dengan mata intan yang besar. Bahkan terdapat ukiran dari emas yang menggambarkan pelbagai pasangan binatang yang tengah bercumbuan dan di satu sudut, yang terindah dari segala yang berada di situ, terdapat ukiran emas yang menggambarkan sepasang manusia yang sedang bermain cinta!
Keng Hong tersenyum melihat ini, teringat akan watak suhu-nya. Kemudian dia ingat lagi kepada Cui Im. Benda-benda di kamar ini agaknya masih tersusun rapi dan tidak terusik. Kemudian dia menutup daun pintu kamar kiri dan melangkah menghampiri pintu kanan yang lalu dia dorong terbuka daun pintunya.
Sekali lagi dia terpesona dan jantungnya berdebar kencang. Benda-benda di dalam inilah yang membuat tokoh-tokoh kang-ouw mengejar-ngejar dirinya, membuat mereka laksana berebutan tulang.
Di dekat dinding berjajar senjata-senjata pusaka yang amat indah. Pedang-pedang, golok, tombak serta beberapa macam senjata lagi. Kalau tidak salah, senjata-senjata ini adalah senjata pusaka tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw yang dirampas oleh gurunya dan kembali Keng Hong tersenyum. Gurunya merampas senjata-senjata ini sama sekali bukan karena tamak menginginkan senjata-senjata ini untuk dipergunakan, melainkan dirampas untuk dijadikan koleksi senjata, atau sebagai tanda kemenangannya karena lawan yang belum kalah tidak mungkin dapat dirampas senjatanya! Gurunya memang nakal, romantis dan berandalan!
__ADS_1