Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 06 part 5


__ADS_3

Kemudian dia melempar pedang itu jauh-jauh dan sekarang kembali tangannya mencengkeram ke arah sinar putih, dan berhasil pula menangkap sabuk sutera itu lantas dia mengerahkan tenaganya merenggut.


Akan tetapi Biauw Eng mempertahankan sabuknya dan akibatnya tubuh gadis ini terbawa oleh tenaga renggutan yang amat kuat, tubuhnya terangkat ke udara. Keng Hong terkejut dan melepaskan sabuk itu dan hal ini malah mengakibatkan seolah-olah tubuh gadis itu dilempar ke atas.


Cui Im berteriak ngeri melihat tubuh sumoi-nya terlempar ke atas seperti itu. Juga Keng Hong terbelalak memandang, namun dia lantas bernapas lega dan dengan penuh kagum dia mengikuti gerakan gadis baju putih itu.


Meski pun tubuhnya terlempar dengan cepat sekali, ternyata Biauw Eng tidak kehilangan akal. Di atas udara, tubuhnya dapat berjungkir balik dan sabuk di tangannya menyambar ke depan, ujungnya mengait dan membelit dahan pohon sehingga tubuhnya tergantung dan luncuran itu patah. Kemudian dengan ringan ia meloncat turun membawa sabuknya, bukan hanya meloncat biasa, melainkan meloncat sambil menyerang Keng Hong dengan sambaran sabuk putih.


Juga Cui Im yang menjadi lega melihat sumoi-nya selamat, sudah menyerang lagi, bukan dengan senjata tajam sebab pedangnya telah dilempar entah ke mana, melainkan dengan cengkeraman-cengkeraman tangan yang menangkap pemuda itu diseling cengkeraman-cengkeraman ke arah bagian tubuh yang lemah.


Keng Hong menjadi gemas. Kedua orang gadis ini benar-benar keras kepala dan sudah nekat sekali. Sesudah dia meloncat mundur dan melihat dua orang gadis itu terus maju menerjangnya, dia mengeluarkan pekik yang melengking nyaring terbawa oleh sinkang yang terdorong hawa marah.

__ADS_1


Tubuhnya sudah mencelat ke atas dan dari angkasa dia menggerakkan kaki tangannya yang bertubi-tubi menyerang ke depan, menimbulkan hawa pukulan yang amat kuat dan menyerang dua orang gadis itu dari kanan kiri, atas dan bawah. Inilah jurus yang terakhir atau jurus ke delapan dari ilmu pukulan San-in Kun-hoat yang hanya terdiri dari delapan jurus itu.


Biar pun hanya terdiri dari delapan jurus, namun ilmu silat yang kelihatannya sederhana ini merupakan gerakan-gerakan inti sari dari ilmu silat tinggi, sebab itu jurus yang disebut jurus In-keng Hong-wi (Awan Menggetarkan Angin Hujan) ini amatlah hebatnya sehingga pernah Kiang Tojin tokoh Kun-lun-pai yang amat sakti itu sendiri menjadi gelagapan dan kelabakan menghadapi jurus ini. Selain jurusnya yang sangat hebat, yaitu dilakukan dari udara dengan terjangan dua pasang kaki dan tangan yang digerakkan secara bertubi-tubi, juga terutama sekali karena kedua tangan dan kedua kaki Keng Hong itu mengandung hawa sakti yang amat kuat.


Dua orang murid Lam-hai Sin-ni itu merupakan orang-orang yang lihai, terutama sekali Biauw Eng. Menghadapi serangan yang tiba-tiba dilakukan Keng Hong ini, mereka tidak gentar, akan tetapi juga tak berani menangkis, melainkan menggunakan kegesitan tubuh mereka mengelak. Akan tetapi alangkah kaget hati kedua orang gadis itu ketika mereka mengelak, mereka bertemu dengan angin pukulan dari mana-mana, seolah-olah gerakan serangan Keng Hong ini mendatangkan semacam angin berpusingan yang datang dari sekitar mereka.


"Aihhh...!" Cui Im sudah menjerit dan tubuhnya terpelanting seperti tersedot angin ke arah Keng Hong, ada pun Biauw Eng berusaha menahan hingga tubuhnya terhuyung-huyung, juga mendekati Keng Hong.


Akan tetapi Cui Im dan terutama sekali Biauw Eng bukan gadis-gadis yang mudah putus asa. Sama sekali tidak. Semenjak kecil mereka dilatih untuk bersikap berani dan pantang mundur, kalau perlu mengejar cita-cita dengan taruhan nyawa.


Kini melihat betapa pemuda yang tadinya sudah menjadi tawanan mereka itu hendak lari meloloskan diri, mereka menjadi penasaran sekali dan hanya sebentar saja mereka tadi tertegun dan terkesima menyaksikan kehebatan jurus yang hebat dari pemuda itu. Tetapi setelah Keng Hong lari, keduanya segera mengejar dan kembali mereka menghujankan senjata rahasia mereka.

__ADS_1


Keng Hong tidak mengelak, juga tidak menangkis karena pada saat pemuda itu hendak menggerakkan tubuhnya, tiba-tiba pemuda itu merasa tubuhnya menjadi kaku tak dapat digerakkan, tanda bahwa jalan darahnya tertotok secara hebat sekali. Hal ini dapat terjadi karena dia hanya memusatkan perhatian di sebelah belakang karena dia tahu bahwa dua orang gadis nekat itu mengejarnya. Ia tadi hanya melihat bayangan berkelebat dekat dan tiba-tiba tubuhnya menjadi kaku tertotok! Andai kata dia tadi tahu akan serangan luar biasa ini dan mengerahkan sinkang, kiranya takkan mudah dia tertotok.


Keanehan yang terjadi pada diri Keng Hong ini terlihat oleh dua orang gadis pengejarnya itu dalam keadaan lain. Mereka hanya melihat Keng Hong diam tak bergerak, juga tidak mengelakkan serangan senjata-senjata rahasia itu sehingga mereka sendiri menjadi amat terkejut dan mengira bahwa tentu pemuda itu tewas akibat penyerangan senjata-senjata rahasia mereka yang beracun dan lihai.


Akan tetapi tiba-tiba mata mereka terbelalak karena tahu-tahu di belakang Keng Hong muncul seorang nenek dan semua senjata rahasia itu runtuh oleh kebutan rambut kepala nenek itu yang digerakkan ke depan! Nenek itu tertawa-tawa, seorang nenek yang sangat menyeramkan.


Usia nenek ini tentu tak kurang dari delapan puluh tahun, namun mukanya merah seperti berlumur darah. Giginya besar-besar, rambut kepalanya riap-riap dan panjang. Mukanya yang buruk menakutkan itu sangat tidak sesuai dengan tubuhnya. Biar pun tubuh seorang nenek-nenek, namun pakaian sutera hitam itu mencetak bentuk tubuh yang masih padat dengan sepasang buah dada yang besar!


"Bibi Ang-bin Kwi-bo...!" Bhe Cui Im berseru kaget dan cepat-cepat membungkuk penuh hormat.


Dalam kalangan kaum sesat, sebutan untuk mereka yang lebih tinggi kedudukannya tidak digunakan ucapan menghormat atau sungkan, maka Cui Im biar pun kelihatan takut-takut dan menghormati nenek ini, tetap saja dia tidak segan-segan menyebut julukan nenek itu yang tidak sedap, yaitu Ang-bin Kwi-bo (Hantu Wanita Bermuka Merah).

__ADS_1


"Hi-hi-hik! Kalian murid-murid Lam-hai Sin-ni betul-betul tidak memalukan menjadi murid orang pandai. Karena aku melihat kalian berhasil menemukan bocah ini akan tetapi tidak berhasil menguasainya, maka biarlah kalian serahkan bocah ini kepadaku dan sebagai upah jerih payah kalian yang sudah dapat menemukannya, biarlah aku tidak membunuh kalian dan kalian boleh pergi dengan aman!"


__ADS_2