
Dapatkah gurunya melompati jurang selebar ini? Kiranya tidak mungkin. Dan bagaimana dengan Thai Kek Couwsu? Apakah kakek yang dikatakan berkepandaian seperti dewa itu dapat melompati jurang ini? Kalau dapat bukan melompat namanya, melainkan terbang! Tidak masuk akal!
Dia terus mencari jalan, terus menggunakan akalnya. Manusia berakal budi, tidak seperti binatang yang telanjang. Manusia berpakaian... ahhh, pakaian..! Keng Hong memandang pakaian yang menutupi tubuhnya.
Pakaian berwarna putih dari sutera yang dia ambil dari dalam peti. Agaknya peninggalan Thai Kek Couwsu. Pakaian putih dari sutera halus dan sangat kuat, lagi ulet dan kuat! Benar! Pakaian-pakaian sutera, sutera ulet itulah!
Cepat Keng Hong berlari-lari memasuki kamar, membuka peti dan mengeluarkan semua pakaian sutera putih. Ia lalu mengukur-ukur, kemudian merobek-robek semua pakaian itu menjadi robekan-robekan kecil panjang, kemudian memilinnya, menyambung-nyambung sehingga menjadi tali sutera yang panjang sekali, hanya sebesar kelingking akan tetapi amat ulet dan kuat!
Disambungnya terus sampai habis semua pakaian sutera putih yang kini berubah menjadi tali yang amat panjang. Disambungnya tali sutera ini dengan tambang yang masih tersisa setengah jarak jurang itu. Kemudian, dengan jantung berdebar dan hati berdoa kepada Thian, sesudah mengikatkan ujung tali sutera pada batu karang, dia melontarkan ujung tambang yang ada kaitannya ke seberang.
Tenaga lontarannya amat kuat dan baja kaitan itu melayang ke seberang, tepat mengait pada batu di seberang. Tali sutera itu ternyata cukup panjang! Sekarang terbentanglah ‘jembatan’ terbuat dari tambang disambung tali sutera!
__ADS_1
Keng Hong hampir berteriak-teriak saking girang hatinya. Akan tetapi dia menekan rasa gembiranya. Dia tidak mabuk kemenangan. Bahaya masih harus ditempuhnya. Sebelum sampai ke seberang, dia harus lebih dulu menyeberang melalui ‘jembatan' ini dan hal itu tidaklah semudah kalau menyeberang tambang seperti setahun yang lalu. Tali sutera itu amat kecil lagi licin dan dia masih harus mempertaruhkan nyawanya karena kalau tali itu kurang kuat dan putus...!
Akan tetapi tak ada jalan lain dan taruhannya hidup selamanya di tempat itu, sampai mati sebagai seorang kakek tua renta dan kurus kering, kemudian mati kesunyian. Apa bila dia menyeberang, andai kata gagal pun dia hanya akan menemui kematian. Akan tetapi kalau berhasil...!
Keng Hong menyelipkan Siang-bhok-kiam di ikat pinggangnya, menyembunyikan pedang itu di balik bajunya yang kebesaran, baju sutera putih, satu-satunya pakaian yang tidak ia robek-robek untuk dijadikan tali penyeberang. Kitab Thai-kek Sin-kun ia masukkan dalam saku baju.
Setelah berdiri mengheningkan cipta di tepi jurang, menengadah dan di dalam hati mohon perlindungan Thian serta mohon bantuan arwah Thai Kek Couwsu dan Sin-jiu Kiam-ong, Keng Hong lantas mengerahkan ginkang-nya dan mulai melangkah menginjak tali sutera yang melintang di atas jurang di depannya. Sesudah kedua kakinya menginjak tali sutera dan merasa yakin bahwa tali itu cukup kuat, tidak bergoyang dan tubuhnya dapat berdiri tegak lurus, dia lalu mulai melangkah maju perlahan-lahan.
Seolah-olah jarak yang setahun lalu setiap hari ditempuhnya itu kini menjadi lima kali lebih panjang dari biasanya! Seolah-olah dia tak akan pernah sampai di seberang. Akan tetapi kakinya kini tidak menginjak tali sutera lagi, melainkan menginjak tambang, tanda bahwa jarak setengahnya telah dilalui.
Kini dia mempercepat langkah nya dan tak lama kemudian dia melompat ke tepi jurang di mana dahulu Cui Im berdiri mentertawakannya! Keng Hong menjatuhkan diri berlutut ke arah tempat di mana tadi dia mulai menyeberang, seakan-akan dia hendak menghaturkan terima kasih atas bantuan arwah Thai Kek Couwsu dan Sin-jiu Kiam-ong.
__ADS_1
Memang sebenarnyalah bahwa dia menerima bantuan kedua orang sakti itu, yaitu dengan mempelajari ilmu-ilmu dari kedua orang sakti itu. Kalau dia tidak mempunyai sinkang yang hebat, dan bila ilmunya tidak diperdalam setahun lagi menurut petunjuk kitab peninggalan Thai Kek Couwsu, terutama sekali kalau dia tidak menerima peninggalan pakaian sutera putih dari pendiri Kun-lun-pai itu, agak nya tidak secepat itu dia akan dapat menyeberangi jurang!
Dari pengalaman Keng Hong ini ternyata bahwa berharga atau tidak nya sebuah warisan lebih luas lagi, berharga atau tidaknya sebuah benda tergantung dari pada pengetrapan penggunaannya. Kadang kala, benda yang biasanya dianggap tak berharga, sekali waktu pada saatnya yang tepat sangatlah dibutuhkan dan dapat berubah menjadi benda yang amat berharga. Sebaliknya, benda yang biasa dianggap amat berharga, jika sedang tidak diperlukan akan menjadi benda yang sama sekali tidak ada harganya!
Apa artinya segunung emas di padang pasir yang kering tak ada airnya? Manusia yang hampir mati kehausan di situ akan dengan rela dan senang hati menukar setiap bongkah emas dengan seteguk air! Dalam halnya Keng Hong, setumpuk pakaian tua itu ternyata jauh lebih berharga dari pada segala macam pusaka yang diperebutkan oleh tokoh-tokoh kang-ouw seluruh dunia!
Keng Hong segera berlari memasuki lorong dan memeriksa semua ruangan. Tepat sekali seperti yang sudah dia duga, Cui Im lenyap dan demikian pula semua kitab peninggalan suhu-nya berikut tiga batang pedang pusaka beserta sebagian besar perhiasan-perhiasan yang paling indah. Wanita itu benar-benar tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk memuaskan nafsu ketamakannya!
Biar pun senjata-senjata pusaka di situ masih banyak, dan juga barang-barang berharga tersebut dari pada emas perak dan permata, namun tidak ada sedikit pun niat di hati Keng Hong untuk membawa satu pun benda pusaka itu. Dia hanya membawa pedang Siang-bhok-kiam dan kitab Thai-kek Sin-kun, kemudian dia terus keluar dari tempat itu melalui lorong atau terowongan kecil sambil merangkak, seperti ketika dia datang dahulu.
Ia masih ingat betapa Cui Im yang merangkak di belakangnya merasa ketakutan, kadang-kadang memegang lengannya, juga kadang-kadang mendorong pinggulnya. Keng Hong tersenyum. Betapa pun marah dan bencinya kepada Cui Im, kadang-kadang hatinya geli juga kalau teringat akan kelakukan gadis itu.
__ADS_1
Di ujung lorong, dia melihat batu-batu bertumpuk dan dia dapat menduga bahwa pintu yang menutup terowongan itu hancur akibat gempuran batu-batu dari atas.