Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 07 part 3


__ADS_3

Bukan main, pikirnya. Selama hidupnya baru dua kali ini dia menyaksikan ilmu sehebat itu. Pertama kali dia melihat betapa di Kun-lun-san, Kiang Tojin pernah melakukan totokan terhadap Cui Im dari jarak jauh, hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh nenek ini terhadap dirinya.


Dia menjadi penasaran sekali karena dapat menduga bahwa serangan itu sesungguhnya adalah sebuah pukulan maut. Kiranya nenek yang halus bicaranya, gerak-geriknya halus pula, yang berwajah dingin ini, tanpa sebab hendak membunuhnya begitu saja, dengan darah dingin pula! Agaknya dalam hal kekejaman Lam-hai Sin-ni tak mau kalah oleh para datuk hitam yang lain!


"Hemm, sebagai murid Sin-jiu Kiam-ong engkau boleh juga, dapat mengelak dari sebuah seranganku. Akan tetapi engkau membohong, dan ini tidak patut karena selama hidupnya gurumu itu tidak pernah membohong! Hayo lekas serahkan pedang itu atau jangan harap kau akan dapat mengelak terus!"


Hemm, pikir Keng Hong. Mungkin dahulu suhu tak pernah membohong, dan hal itu tentu saja dapat dilakukan karena suhu-nya sudah memiliki kepandaian sangat tinggi. Namun bagi dia sendiri, bila tidak mau membohong, bagaimana akan dapat menyelamatkan diri? Membohong tidak apa asal jangan menipu, membohong asal tidak merugikan lain orang, kadang-kadang malah amat perlu!


"Saya tidak membawa pedang itu, Locianpwe, pedang itu sudah diambil oleh Kiang Tojin dari Kun-lun-pai!"


"Wuuutttt... Wuuuttt...!" Kedua tangan nenek itu melakukan gerakan mendorong dua kali ke arah Keng Hong.


Pemuda itu cepat mengelak dan mengibaskan tangan. Kembali hawa sinkang di tubuhnya berhasil menangkis angin pukulan nenek itu yang amat hebat, akan tetapi tetap saja dia terjengkang kemudian terguling-guling saking hebatnya tenaga dorongan angin pukulan Lam-hai Sin-ni.


"Kau... kau berani melawan...?" Nenek itu menjadi sangat marah dan baru sekarang dia melangkah maju, hendak menyerang dari jarak dekat karena dua kali serangannya dari jauh gagal.


"Ibu! Dia tidak bohong, memang Siang-bhok-kiam sudah diambil para tosu Kun-lun-pai!" tiba-tiba Biauw Eng berkata.


"Ahh, kau bocah bodoh mana tahu? Bocah ini adalah murid Sin-jiu Kiam-ong, di samping ugal-ugalan juga tentu amat menyayangi pedang itu. Mana mungkin dia berikan kepada orang lain? Sin-jiu Kiam-ong sendiri, sesudah menjadi tua bangka, masih juga tidak rela memberikan pedang itu kepada orang lain. Jangan ikut-ikut, bocah ini harus memberikan Siang-bhok-kiam kepadaku atau dia mati di tanganku sekarang juga. Heh, bocah keras kepala, masih belum mengaku di mana adanya Siang-bhok-kiam? Lekas katakan supaya aku dapat mengambilnya."

__ADS_1


Keng Hong merasa perutnya panas. Nenek berwajah dingin ini betul-betul menjengkelkan sekali. Di waktu mudanya tentu merupakan seorang wanita cantik yang amat manja dan hendak membawa kehendak sendiri saja, mau menang sendiri. Ia memandang terbelalak penuh kemarahan dan berkata,


"Sudah saya katakan, pedang itu berada di Kun-lun-pai, kalau Locianpwe menghendaki ambillah dari tangan mereka. Akan tetapi hati-hati, di sana banyak terdapat orang lihai..."


Keng Hong terpaksa menghentikan kata-katanya karena nenek itu secara tiba-tiba sekali telah melompat ke depan dan tahu-tahu sudah berada dekat sekali dengannya. Tangan kanan nenek ini lalu menampar ke arah kepalanya!


Keng Hong maklum betapa lihainya nenek ini. Mengelak takkan keburu, maka dia berlaku nekat, mengangkat pula tangan kanannya dan menerima tamparan tangan terbuka itu dengan telapak tangannya sendiri.


"Plakkk!"


Dua buah tangan itu bertemu di udara dan terus melekat karena dalam kemarahannya, Keng Hong yang menggerakkan tenaga sinkang itu tanpa disengaja sudah mengeluarkan daya sedotnya yang amat kuat.


Pada saat nenek itu merasa betapa tamparannya tertangkis bahkan tenaga sinkang-nya mulai tersedot, dia terkejut sekali dan cepat-cepat dia pun mengerahkan sinkang-nya lalu menggunakan ilmunya Thi-khi I-beng untuk balas menyedot. Dua tenaga sinkang yang amat hebat saling sedot.


Dan dapat dibayangkan betapa kaget, heran dan penasaran hati Lam-hai Sin-ni ketika dia merasa betapa perlahan-lahan akan tetapi pasti tenaga sedotnya terbetot dan kalah kuat sehingga mulailah sinkang-nya membocor lagi memasuki tubuh pemuda itu lewat telapak tangan mereka!


"Aihhhh...!" Lam-hai Sin-ni berseru keras, tangan kirinya bergerak dan dengan kuku jari tangannya, dia menyentil ke arah pundak kanan Keng Hong.


Seketika tubuh Keng Hong menjadi lemas dan untung pemuda ini masih teringat untuk cepat menarik tangannya sambil meloncat mundur, kalau tidak, tentu ia akan dipukul lagi dengan pukulan maut.

__ADS_1


Nenek itu cerdik luar biasa. Kalau tadi ia memukul begitu saja ke tubuh Keng Hong, maka pukulannya tentu akan amblas pula ke dalam lautan sinkang yang memiliki daya sedot luar biasa itu. Maka dia menyentil dengan kuku jari, menotok jalan darah sehingga daya sedot itu tidak dapat menarik sinkang-nya karena terhalang oleh kuku jari.


Kini dengan marah Lam-hai Sin-ni sudah melangkah maju, kedua tangannya siap hendak memberi pukulan maut. Tiba-tiba Cui Im meloncat dan sambil menjatuhkan diri berlutut ia berkata,


"Subo... subo... harap dengar keterangan teecu dahulu... teecu berani bersumpah bahwa pedang Siang-bhok-kiam memang dirampas oleh tosu-tosu bau dari Kun-lun-pai seperti diceritakan bocah ini. Teecu sendiri yang melihatnya dengan mata teecu."


Nenek itu mengerutkan kening. "Ceritakan!" katanya kepada muridnya itu.


Dengan jelas Cui Im lalu bercerita, menceritakan betapa ia menyusup ke Kun-lun-pai dan sempat tertawan, kemudian betapa dia melihat sendiri Keng Hong menyerahkan pedang kayu Siang-bhok-kiam kepada Kiang Tojin.


Setelah mendengar cerita ini, nenek itu kembali menghadapi Keng Hong yang kini sudah bangkit duduk. Sejenak dia memandang tajam, kemudian berkata,


"Bocah tak setia! Baru saja turun dari Kiam-kok-san, sudah memberikan pedang kepada tosu Kun-lun-pai! Murid macam apa ini?! Tanpa Siang-bhok-kiam, kau tidak ada gunanya dan lebih baik mati!" Setelah berkata demikian, kembali nenek itu menerjang maju hendak menyerang Keng Hong!


"Ibu, tahan...!" Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu Biauw Eng telah berdiri menghadap di depan ibunya, membelakangi Keng Hong yang sudah siap-siap membela diri sekuatnya.


"Eng-ji, mau apa engkau? Minggir!"


"Tidak, Ibu. Kau tidak boleh membunuh Cia Keng Hong."

__ADS_1


"Apa? Dia tiada gunanya, tidak membawa Siang-bhok-kiam, harus kubunuh!"


"Jangan, Ibu. Dia sudah menolongku dari kekejian Ang-bin Kwi-bo. Karena itu Ibu tidak boleh membunuhnya."


__ADS_2