
KENG HONG terkejut sekali, lalu mengerahkan sinkang-nya dan tubuhnya mencela ke atas. Gerakan ini bukan main cepatnya, digerakkan oleh tenaga ginkang yang tinggi sehingga dia dapat menghindarkan dua kakinya dari cengkeraman. Akan tetapi begitu dia meloncat turun, kedua tangan nenek itu sudah menerjangnya dengan pukulan Ban-tok Sin-ciang!
"Rebahlah!" teriak si nenek yang ingin cepat-cepat merobohkan Keng Hong supaya dapat dibawa lari karena dia khawatir kalau-kalau kedua orang anak murid Lam-hai Sin-ni itu datang membantu, dan lebih khawatir lagi kalau-kalau ada datang tokoh-tokoh lain yang dia tahu juga berusaha mendapatkan pemuda murid Sin-jiu Kiam-ong ini.
Keng Hong merasa betapa sebuah tenaga raksasa mendorongnya, didahului bau yang sangat harum dan amis. Cepat dia menahan napasnya, mengerahkan sinkang-nya dan menangkis dengan tangan digerakkan dari samping.
"Desssss!"
Sekali ini tubuh Keng Hong yang terhuyung-huyung ke belakang, ada pun nenek itu yang merasa betapa kedua tangannya tergetar, cepat-cepat menggerakkan kepalanya hingga rambutnya yang riap-riapan itu terpecah menjadi tujuh buah pecut yang menyambar dan menotok tujuh jalan darah di bagian atas tubuh Keng Hong!
Pemuda itu terkejut sekali karena tidak mungkin dia menghindarkan diri dari tujuh totokan sekaligus itu. Dia cepat mengerahkan sinkang di tubuhnya dan menutup jalan-jalan darah yang tertotok. Ujung-ujung rambut itu mengenai sasaran lantas membalik ketika bertemu dengan tubuh Keng Hong, akan tetapi pemuda itu merasa tubuhnya bagai disambar petir dan dia terguling roboh. Baiknya dia terus bergulingan karena seandainya tidak, tentu dia kena totok oleh Ang-bin Kwi-bo yang sudah menubruknya.
Keng Hong mencelat berdiri dan kepalanya terasa pening. Biar pun dia tidak terpengaruh oleh totokan-totokan itu, akan tetapi tubuhnya terasa kesemutan dan kepalanya pening. Dalam pandang matanya yang berkunang dia melihat wajah nenek yang tertawa-tawa itu berubah menjadi dua.
__ADS_1
"Keng Hong, pergunakan ilmu tempelmu!" Tiba-tiba Cui Im berteriak.
Gadis ini sudah terbebas dari pada pengaruh pukulan beracun tadi, akan tetapi tubuhnya masih lemah. Ada pun Biauw Eng semenjak tadi hanya memandang dan wajahnya sudah membayangkan sikapnya yang dingin lagi. Hal ini adalah karena dirinya masih merasa terguncang oleh perasaan hatinya sendiri yang tidak dapat ia sangkal bahwa ia mencinta pemuda itu!
Mendengar teriakan Cui Im itu, Keng Hong yang masih merasa pening dan belum dapat mempergunakan pikirannya dengan baik itu segera menubruk maju, melakukan serangan dan kembali dia sudah mempergunakan jurus ke tiga, yaitu Siang-in Twi-san. Sekali ini, mendengar seruan Cui Im tadi, Ang-bin Kwi-bo sengaja memapaki kedua tangan Keng Hong yang terbuka dan mendorongnya dengan kedua tangannya sendiri.
"Plakkk...!" Dua pasang telapak tangan itu bertemu di udara.
Hebat bukan main tenaga sinkang Ang-bin Kwi-bo hingga untuk beberapa detik lamanya tubuh Keng Hong terangkat di udara oleh kedua tangan nenek ini. Sesudah tubuh Keng Hong makin turun dan akhirnya kedua kakinya menyentuh tanah, barulah Ang-bin Kwi-bo mengeluarkan seruan keras.
Wanita sakti yang telapak tangannya telah melekat dengan tangan Keng Hong dan hawa sinkang-nya mulai tersedot itu, cepat sekali menggerakkan kepalanya hingga rambutnya terpecah menjadi dua bagian lalu melakukan totokan ke arah kedua pergelangan tangan Keng Hong.
Pemuda itu merasa betapa kedua tangannya tiba-tiba menjadi kesemutan sehingga daya sedotnya berkurang dan pada waktu itulah Ang-bin Kwi-bo merenggut kedua tangannya hingga terlepas. Kemudian sekali lagi rambutnya mengirimkan totokan selagi Keng Hong masih belum siap-siap sehingga pemuda itu terkena totokan pada kedua pundaknya dan tiba-tiba saja dia menjadi lemas! Pada detik lain tubuhnya sudah disambar oleh Ang-bin Kwi-bo yang tertawa terkekeh-kekeh girang sekali.
__ADS_1
Dalam diri pemuda ini saja sudah terdapat ilmu-ilmu pukulan yang amat hebat ditambah dengan ilmu Thi-khi I-beng yang kabarnya sudah lenyap dari dunia persilatan! Kalau dia bisa mendapatkan dua macam ilmu itu saja, dan dilatihnya sempurna, maka dia akan menjadi tokoh nomor satu di antara Empat Datuk!
"Ang-bin Kwi-bo, dia tawananku, lepaskan!" Tiba-tiba Biauw Eng berseru nyaring.
Gadis ini sudah menyerang dengan sabuk sutera putihnya. Ujung sabuk meluncur cepat dari atas dan bagaikan seekor ular panjang, sabuk itu kini ‘mematuk’ ke arah ubun-ubun kepala Ang-bin Kwi-bo. Inilah serangan yang amat berbahaya, serangan maut!
Ang-bin Kwi-bo maklum akan bahayanya serangan ini, maka dia cepat mempergunakan tangan kanannya untuk mencengkeram ke arah ujung cambuk, sedangkan lengan kirinya mengempit dan melingkar di pinggang Keng Hong. Cengkeraman itu luput karena sabuk sudah disendal oleh Biauw Eng, namun nenek itu melanjutkan tangan kanannya dengan serangan jarak jauh, mendorongkan tangannya itu dengan ilmu Ban-tok Sin-ciang ke arah Biauw Eng.
Gadis ini yang sudah mengalami sendiri betapa hebatnya pukulan nenek itu, maka cepat dia mengelak ke samping dan kesempatan ini dipergunakan oleh Ang-bin Kwi-bo untuk meloncat pergi. Murid Sin-jiu Kiam-ong telah berada di tangannya, karena itu dia tak mau melayani puteri Lam-hai Sin-ni lebih lama lagi.
Akan tetapi tiba-tiba saja tampak berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu seorang nenek berpakaian putih yang bertubuh tinggi kurus telah berdiri di depan Ang-bin Kwi-bo dengan sikap angkuh dan dingin. Nenek ini usianya sebaya dengan Ang-bin Kwi-bo, akan tetapi berbeda dengan Ang-bin Kwi-bo yang berwajah menyeramkan dan buruk rupa, nenek ini jelas menunjukkan bahwa dulunya tentu mempunyai wajah yang cantik sekali. Tubuhnya yang tinggi kurus masih membayangkan bentuk tubuh yang ramping, dan gerak-geriknya sangat halus.
"Kwi-bo, sungguh tidak malu kau menghina orang-orang muda!" Wanita tua ini menegur dengan suara halus akan tetapi nadanya dingin sekali, kemudian nenek itu menggerakkan tangan kanan sambil berkata lagi, "Kau ingin merasakan Thi-khi I-beng? Nah, terimalah ini!" Biar pun gerak-geriknya halus, akan tetapi tangan nenek itu cepat sekali gerakannya sampai tidak dapat diikuti oleh pandangan mata dan tahu-tahu telapak tangan nenek ini sudah mengancam muka Ang-bin Kwi-bo!
__ADS_1
Ang-bin Kwi-bo terkejut sekali dan cepat ia mengangkat tangan kanan menangkis sambil mengerahkan tenaga Ban-tok Sin-ciang.