
Ia ingin mencoba kepandaian murid Go-bi Chit-kwi dan juga sikap serta kepribadian Siauw Lek yang penuh kejantanan itu sangat menarik hatinya, menyentuh kewanitaannya dan membangkitkan birahinya.
Ketika dia membayangi laki-laki itu, Cui Im dapat menduga bahwa dalam hal kelincahan dan keringanan tubuh, dia sendiri hanya menang sedikit saja, dan bahkan kiranya tingkat kepandaian ginkang Siauw Lek tidak kalah jika dibandingkan dengan seorang di antara Bu-tek Su-kwi! Ia menjadi makin kagum dan membayangi terus.
Pada saat Cui Im yang mengintai perbuatan Siauw Lek di dalam pondok sederhana itu melihat kekejaman Siauw Lek membunuh suami beserta bayi dari wanita yang hendak diperkosanya itu, ia pun tersenyum. Bukan main pria ini, pikirnya. Cerdik dan pandai, juga amat gagah perkasa, tidak gentar melakukan pembunuhan betapa pun kejamnya! Orang seperti ini amat ia butuhkan.
Dia perlu mempunyai seorang pembantu seperti ini, yang berilmu tinggi, yang berwatak keras dan dingin. Dengan seorang pembantu seperti itu, barulah dia akan dapat menjagoi dunia sebagai tokoh nomor satu! Hanya ada satu hal yang masih ia ragukan, apakah pria ini patut menjadi temannya dalam petualangan cintanya?
Sementara itu, Siauw Lek yang biasanya memandang rendah orang lain, yang biasanya tidak gentar menghadapi siapa pun juga, kini merasa bulu tengkuknya bangun berdiri. Sungguh dia tidak pernah bermimpi bahwa dia akan berhadapan dengan seorang wanita secantik ini, yang bisa ‘menghidupkan’ mayat, dan agaknya sejak tadi telah membayangi dirinya tanpa dia ketahui sama sekali, yang begitu cantik akan tetapi juga mendatangkan sikap dingin yang mengerikan dan tersembunyi di balik kehangatan dan kegairahan yang panas membakar dan menantang!
"Eh.. siapakah engkau...?" Siauw Lek merasa heran sendiri mengapa dia tiba-tiba menjadi gugup dan kehilangan ketenangannya. Mengapa biar pun gairahnya terhadap ibu muda itu lenyap tapi sama sekali tak kecewa melihat kenyataan bahwa kembali kesenangannya terganggu?
Cui Im tersenyum dan mempergunakan senyum memikat yang sudah terlatih, setengah senyum setengah tawa hingga cukup lebar untuk memperlihatkan deretan gigi putih bagai mutiara dan sekilas pandang ujung lidahnya yang merah mencuat keluar di antara deretan gigi mutiara.
"Engkau Kim-lian Jai-hwa-ong Siauw Lek, engkau murid Go-bi Chit-kwi bukan? Hemmm, bagus sekali semua perbuatan yang kau lakukan malam ini, sejak dari gedung panglima sampai pondok ini. Ehh, orang she Siauw, apakah engkau tidak takut akan dosa dan tidak ngeri memikirkan neraka yang kelak akan menyiksamu?"
Melihat sikap dan mendengar ucapan wanita cantik ini, perlahan-lahan lenyap ketegangan di hati Siauw Lek. Kini dapatlah dia menduga bahwa wanita cantik ini bukanlah seorang anggota golongan lawan, melainkan agaknya juga seorang petualang, seorang yang tidak asing akan dunia hitam, dan mulailah pandang matanya penuh nafsu birahi menjelajahi bentuk tubuh yang ramping padat dan menjanjikan kemesraan yang lebih merangsang dari pada ibu muda tadi.
__ADS_1
"Nona, engkau sungguh nakal sekali, membikin aku kaget setengah mati. Kenapa engkau main-main dengan mayat itu? Tadi kusangka betul-betul ada mayat hidup! Engkau sudah mengenal namaku, itu baik sekali. Sekarang tinggal aku yang belum mengenalmu. Kalau nona suka memperkenalkan diri, agaknya kita dapat menjadi sahabat-sahabat yang baik sekali. Bukankah begitu pendapatmu, nona yang cantik seperti bidadari?"
Cui Im mengangguk-angguk senang. Suara pria ini mendatangkan kesan baik, suaranya merdu dan mengandung rayuan yang sama mesranya dengan kata-katanya, laki-laki yang pandai bicara, pandai menyenangkan hati wanita. Akan tetapi ia hanya tersenyum, tidak menjawab memperkenalkan diri, bahkan berkata dengan sikap memandang rendah,
"Aku harus melihat lebih dulu apakah engkau pantas menjadi kawanku, Jai-hwa-ong. Kita tunda dulu tentang namaku karena aku ingin melihat apakah engkau memiliki kepandaian seperti yang terkenal di dunia kang-ouw, ataukah hanya nama kosong belaka."
Sepasang mata Siauw Lek berkilau penuh kegembiraan. Ia tercengang. Belum pernah dia bertemu dengan wanita seperti ini. "Aha, hebat sekali kesombonganmu ini, Nona. Engkau masih belum percaya akan nama besarku dan hendak mencoba kepandaianku, begitukah yang kau maksudkan?"
Cui Im mengangguk. "Bukan mencoba, hanya ingin membuktikan isi dari nama besarmu."
"Bagus! Biarlah kita saling menguji kepandaian dan kalau sampai aku menang, aku minta hadiah!"
"Hadiah apa?"
"Peluk-cium!" Siauw Lek tertawa dan sudah siap menghadapi kemarahan gadis itu.
Sengaja dia hendak membangkitkan kemarahan wanita itu karena di dalam pertandingan, siapa yang dirangsang kemarahan berarti telah kehilangan kewaspadaan dan kalau gadis ini ternyata lihai, maka kemarahannya akan mengurangi kelihaiannya.
__ADS_1
Akan tetapi, kembali Siauw Lek tertegun karena gadis itu hanya tersenyum manis sekali dan menjawab, "Hemm, itu sudah sepatutnya. Akan tetapi bila aku yang menang engkau harus membunuh wanita yang membuatmu tergila-gila ini. Bagaimana?"
Siauw Lek menoleh ke arah tubuh ibu muda yang masih pingsan, dan dia mengangguk.
"Kalau aku kalah olehmu, memang tidak berharga sekali aku untuk menikmati wanita ini. Baiklah, aku memenuhi permintaanmu itu."
Cui Im sudah berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang. "Nah, aku telah siap. Majulah!"
Sekali lagi Siauw Lek tertegun. "Di sini? Kamar ini sangat sempit untuk dipakai tempat mengadu silat!"
Cui Im tersenyum mengejek. "Tidak ada tempat sempit mau pun luas bagi seorang yang benar-benar ahli. Apakah engkau takut?"
"Siapa yang takut? Lihat, kutangkap engkau, nona yang menggemaskan hati!" Siauw Lek tertawa.
Akan tetapi tiba-tiba sekali tubuhnya telah menubruk maju, jari-jari tangan kirinya terbuka, mencengkeram ke arah dada Cui Im adapun yang kanan secepat kilat menerkam pundak. Serangan tangan kosong ini hebat dan cepat sekali, juga sebelum kedua tangan datang, angin pukulannya telah terasa oleh Cui Im.
Gadis ini diam-diam menjadi kagum. Kiranya orang ini juga memiliki sinkang yang amat kuat. Pantas menjadi murid Go-bi Chit-kwi. Akan tetapi dia tak menjadi gentar. Andai kata serangan macam ini ditujukan kepadanya lima tahun yang lalu sebelum ia menggembleng diri dengan ilmu-ilmu tinggi dari kitab-kitab peninggalan Sin-jiu Kiam-ong, agaknya dia akan sukar baginya untuk menyelamatkan diri karena selain gerakannya tentu jauh kalah cepat oleh Siauw Lek, dan juga tenaga sinkang-nya tentu kalah jauh.
__ADS_1