Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 14 part 7


__ADS_3

Hanya karena mereka disiplin dan takut terhadap ketua dan wakilnya yang baru, terutama kepada Sian Ti Tojin yang merupakan orang ke dua sesudah Kiang Tojin, maka mereka terpaksa tunduk pada perintah kedua orang tosu yang memegang pimpinan baru di Kun-lun-pai itu.


Keng Hong sudah bersiap-siap untuk menggunakan kepandaiannya merobohkan mereka yang bersikap keras dan melewati mereka yang pandang matanya ragu-ragu, dan para tosu itu pun sudah siap mengeroyoknya. Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring,


"Mundurlah kalian semua!"


Semua tosu merangkapkan kedua tangan dan mundur ke kanan kiri, memberi jalan orang yang meneriakkan perintah itu. Tampak oleh Keng Hong dua orang tosu dan dia menahan ketawanya.


Geli dan mengkal hatinya melihat lagak dua orang tosu yang dikenalnya sebagai Sian Ti Tojin dan Lian Ci Tojin ini, yang berjalan dengan dada membusung, ada pun di belakang kedua orang ini tampak empat orang tosu tokoh Kun-lun-pai murid Thian Seng Cinjin.


Apa bila tidak ada Kiang Tojin, maka Sian Ti Tojin sebagai murid ke dua dari Thian Seng Cinjin memang merupakan tokoh tertua dan terpandai. Akan tetapi Lian Ci Tojin hanyalah merupakan murid ke lima. Mengapa Sian Ti Tojin memilih dia sebagai wakil ketua, tidak sute-sute-nya yang menjadi murid ke tiga dan ke empat? Hal ini mudah dimengerti kalau melihat keakraban mereka dan kecocokan mereka dalam menghadapi Kiang Tojin pada waktu-waktu yang lalu.


Sian Ti Tojin memakai pakaian kebesaran ketua Kun-lun-pai, dengan jubah pendeta yang bersulam benang perak, kepalanya memakai pelindung kepala yang indah dan membuat wajahnya tampak angker. Tangannya memegang sebatang tongkat yang oleh Keng Hong dikenal sebagai tongkat milik Thian Seng Cinjin dan agaknya menjadi tanda pangkat dari ketua Kun-lun-pai!

__ADS_1


Sedangkan Lian Ci Tojin membuat hati Keng Hong lebih panas lagi. Tosu ini berpakaian indah dan juga tersulam benang perak, namun yang menggelikan adalah rambutnya yang licin mengkilap oleh minyak, wajahnya juga terpelihara seperti wajah seorang pria muda pesolek, dan di punggungnya tergantung sebatang pedang yang gagangnya terukir indah.


Kedua orang tosu ini memandang Keng Hong dengan sinar mata penuh selidik. Ada pun sikap keempat orang tosu lainnya masih biasa saja, namun mereka mengerutkan kening dan siap mempertahankan Kun-lun-pai kalau pemuda ini kembali hendak mendatangkan kekacauan.


"Cia Keng Hong, kiranya engkau yang datang menghadap?" berkata Sian Ti Tojin dengan suara halus. "Kami bersyukur kepada Thian bahwa engkau ternyata masih hidup, tidak mati seperti disangka semua orang!"


Keng Hong menjawab dengan hormat, "Terima kasih atas kebaikan totiang."


"Keng Hong, engkau pernah menjadi kacung Kun-lun-pai. Suheng kini telah menjadi ketua Kun-lun-pai, sepatutnya engkau memberi hormat dan menyebutnya locianpwe," kata Lian Ci Tojin.


"Tidak apa-apa, memang orang muda kurang pengalaman dan kurang pengertian tentang tata cara. Cia Keng Hong, ada keperluan apakah engkau muncul di sini? Apakah engkau datang untuk mohon maaf atas kelakuanmu dahulu yang membikin kacau dan rugi nama besar Kun-lun-pai? Ataukah engkau akan menebus kesalahan telah menipu kami dengan memberikan pedang palsu dan kini hendak menyerahkan Siang-bhok-kiam yang tulen?" suara Sian Ti Tojin tetap halus dan sikapnya tenang sekali.


"Tidak sama sekali, Totiang." Keng Hong tetap menyebut totiang kepada ketua baru yang di dalam hatinya tidak dia akui ini sambil melirik ke arah Lian Ci Tojin yang mulai merah mukanya. "Aku datang hendak menghadap Kiang Tojin. Di manakah Kiang Tojin? Harap suka mohon beliau keluar untuk menerima aku datang menghadap beliau."

__ADS_1


Cara Keng Hong berbicara jelas membayangkan bahwa dia menempatkan Kiang Tojin di tingkat yang lebih tinggi dari pada Sian Ti Tojin yang kini menjadi ketua. Hal ini dirasakan oleh semua tosu dan mereka semua memandang dengan hati tegang.


"Cia Keng Hong! Kiang Tojin tidak dapat menemuimu pada saat ini. Semua urusan yang hendak kau kemukakan boleh kau sampaikan kepada pinto sebagai ketua Kun-lun-pai," kata Sian Ti Tojin.


"Kenapa Kiang Tojin tidak dapat menemuiku? Apakah beliau sakit? Aku mendengar berita bahwa Thian Seng Cinjin locianpwe sudah meninggal dunia. Sepanjang pengetahuanku, bukankah Kiang Tojin dahulu menjadi calon ketua Kun-lun-pai?"


"Cia Keng Hong! Engkau tetap bocah lancang seperti dahulu! Siapakah engkau ini yang usil dan hendak mencampuri urusan dalam Kun-lun-pai?”


"Hemm, Lian Ci Totiang, memang aku tetap bocah yang dulu, dan kalau perlu, penting juga bersikap lancang. Aku tak ingin mencampuri urusan dalam Kun-lun-pai. Setelah kini Thian Seng Cinjin meninggal, kenapa Kiang Tojin tidak menjadi ketua, bahkan juga tidak diperbolehkan menemuiku? Apakah kini beliau telah menjadi orang yang tidak bebas lagi? Apakah beliau kalian hukum?"


Para tosu memandang pemuda itu dengan mata terbelalak. Lian Ci Tojin dan Sian Ti Tojin sejenak saling bertukar pandang, kemudian Sian Ti Tojin mengetukkan tongkatnya pada tanah dengan lagak seperti seorang ketua yang mulai kehilangan kesabaran, akan tetapi suaranya tetap halus.


"Cia Keng Hong, engkau bukan anak murid Kun-lun-pai sehingga sebetulnya tidak berhak untuk mengetahui urusan dalam Kun-lun-pai. Akan tetapi mengingat bahwa engkau ialah bekas kacung kami, dan mengingat hubungan antara engkau dan Kiang-suheng, baiklah kau ketahui urusan dalam yang semestinya menjadi rahasia perkumpulan kami. Sesudah suhu meninggal, terjadilah perbedaan pendapat di antara Kiang-suheng dan kami. Seperti sudah lazim, perbedaan pendapat dalam penggantian ketua ini diselesaikan dengan cara kami, yaitu menguji kepandaian. Siapa yang paling pandai berhak menjadi ketua. Karena Kiang-suheng mempergunakan kekerasan, maka kami pun bertanding, pinto menang dan menjadi ketua sedangkan Kiang-suheng karena berdosa telah memancing keributan dan pertentangan antara saudara sendiri, diwajibkan menebus dosa di ruangan..." Sampai di sini Sian Ti Tojin berhenti, merasa sudah terlalu banyak bicara.

__ADS_1


"Di ruangan menebus dosa atau ruang hukuman! Aku sudah tahu, Sian Ti Tojin, dan aku tahu pula bahwa ruang itu disediakan bagi para tosu yang telah melakukan pelanggaran, baik pelanggaran hukum Kun-lun-pai, mau pun hukuman pelanggaran peri kemanusiaan. Apa bila ada tosu yang memperkosa gadis orang dan yang bersekutu dengan orang lain untuk menjatuhkan saudara sendiri pun termasuk pelanggaran-pelanggaran yang harus dihukum, bukan?"


__ADS_2