Pendekar Pedang Kayu Harum

Pendekar Pedang Kayu Harum
pkh 13 part 5


__ADS_3

Begitu pula dengan para tokoh kang-ouw itu, seorang demi seorang pergi meninggalkan puncak Kiam-kok-san dengan hati kecewa. Melihat sikap mereka itu, Kiang Tojin maklum bahwa omongan Pat-jiu Sian-ong tadi mendapatkan sasaran dan para tokoh itu biar pun sedikit, ada menaruh kecurigaan kepada Kun-lun-pai dan hal ini pasti akan tersiar luas!


Setelah mereka semua pergi, Kiang Tojin berkata kepada gurunya, "Suhu, mengherankan sekali bagaimana Keng Hong dapat lenyap dari puncak sana. Dapatkah Suhu memberi ijin kalau teecu meninjau ke puncak dan melihat apakah sebetulnya yang terjadi di sana?"


"Suhu, teecu juga hendak ikut!" kata Lian Ci Tojin dan Sian Ti Tojin hampir berbareng.


Thian Seng Cinjin menghela napas panjang. "Semoga arwah sucouw sudi mengampuni kita yang membiarkan orang mengotori Kiam-kok-san. Pergi dan lihatlah, apa yang sudah terjadi dan ke mana perginya murid Sin-jiu Kiam-ong. Ah, Sie-taihiap, masih belum cukup banyakkah kami membalas budi kebaikanmu terhadap Kun-lun-pai?"


Kiang Tojin beserta dua orang sute-nya itu cepat menggunakan ginkang mereka mendaki batu pedang. Mereka yang belum pernah mendaki batu tinggi ini, melakukannya dengan hati-hati sekali dan dengan perasaan penuh hormat kepada tempat yang mereka anggap keramat ini.


Kiang Tojin terheran-heran setelah tiba di atas dan menyaksikan permukaan batu pedang yang kini sudah rata dan rusak bekas amukan tokoh kang-ouw tadi, terheran memikirkan bagaimana Keng Hong dapat melepaskan diri dari ancaman orang-orang sakti tadi? Tidak ada jalan keluar kecuali dari tempat yang dinaikinya tadi.


Dari atas tampak jelas betapa sisi-sisi lain dari batu pedang itu tak mungkin dapat dituruni orang karena tegak lurus dan licin. Jangan-jangan anak itu putus harapan dan meloncat turun, pikirnya.


Kiang Tojin adalah seorang tokoh besar yang sudah mengalami segala macam peristiwa, akan tetapi saat memikirkan kemungkinan bahwa Keng Hong meloncat turun dari tempat setinggi itu, dia pun bergidik. Kalau hal mengerikan ini dilakukan Keng Hong dan tubuh pemuda itu terbanting ke bawah, kiranya tidak akan ada sisanya lagi akibat hancur lebur sebelum mencapai tanah, dihunjam dan dikerat permukaaan batu yang amat runcing dan tajam.

__ADS_1


Betapa pun ketiga orang tosu itu mencari-cari, tidak ada bekas-bekas Keng Hong dan terpaksa mereka lalu turun kembali melaporkan kepada Thian Seng Cinjin yang menghela napas dan berkata,


"Hanya Thian yang mengetahui apa yang telah terjadi dengan murid Sin-jiu Kiam-ong itu. Masih bagus bahwa tidak terjadi pertempuran dan banjir darah. Mudah-mudahan semua urusan mengenai peninggalan Sin-jiu Kiam-ong akan habis sampai di sini saja."


Akan tetapi benarkah akan terjadi seperti yang diharapkan ketua Kun-lun-pai? Jauh dari pada itu. Cia Keng Hong masih hidup dan pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong ternyata masih utuh dan dapat ditemukan oleh Keng Hong.


Yang lebih hebat lagi, tanpa dikehendakinya, Keng Hong terpaksa mengajak Ang-kiam Tok-sian-li memasuki tempat rahasia penyimpanan pusaka-pusaka itu dan kini Bhe Cui Im, gadis murid lam-hai Sin-ni itu telah melarikan beberapa buah kitab yang dipilihnya dari kumpulan kitab-kitab peninggalan Sin-jiu Kiam-ong!


"Cui Im..!" Keng Hong berteriak-teriak sambil berjalan terus setelah menunggu beberapa lama mendengarkan suara batu-batu pecah dan gempur tanpa dapat menduga apa yang sesungguhnya telah terjadi. Terowongan itu amat panjang dan makin lama makin gelap.


Akhirnya tampak cahaya terang dan terowongan itu pun berakhir, akan tetapi Keng Hong berdiri terbelalak di ujung terowongan memandang ke depan. Ternyata jalan terowongan itu berakhir di pinggir sebuah celah yang amat lebar, dan di seberang celah atau jurang itu tampak Cui Im berdiri sambil tersenyum menertawakannya!


"Cui Im...!" Keng Hong berseru memanggil dengan nada suara marah. "Apa yang sudah kau lakukan? Kembalikan kitab-kitab peninggalan suhu yang kau curi!"


"Hi-hik-hik, Keng Hong yang ganteng, kau pikirkan dulu baik-baik sebelum memaki orang karena ucapanmu itu sama saja dengan maling teriak maling!" Gadis berpakaian merah itu mengangkat tinggi-tinggi lima buah kitab kuno dengan dua tangannya lalu melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Tahukah engkau kitab-kitab apa yang kupegang ini? Yang dua buah adalah kitab-kitab Seng-to Cin-keng dan I-kiong Hoan-hiat dari Siauw-lim-pai untuk pelajaran Iweekang dan menghimpun sinkang. Yang sebuah adalah kitab pelajaran ilmu pedang dari Go-bi-pai. Sebuah lagi kitab pelajaran ilmu ginkang, dan yang sebuah terakhir adalah kitab pelajaran ilmu silat tangan kosong yang hebat dan kalau tak salah adalah gubahan Sin-jiu Kiam-ong sendiri. Nah, di antara lima buah kitab, yang tiga buah jelas adalah kitab curian. Sin-jiu Kiam-ong mencuri kitab, kalau sekarang kitabnya dicuri orang lain, bukankah sudah adil itu namanya?"


"Cui Im, jangan gila kau! Engkau sudah kuajak masuk ke sini, kalau mau mempelajari ilmu boleh saja, akan pergi jangan mencuri!"


Dengan pandang matanya, Keng Hong mengukur dan dia terkejut sekali mendapatkan kenyataan bahwa tidaklah mungkin bagi seorang manusia untuk meloncati jarak antara dia dan Cui Im. Akan tetapi bagaimanakah gadis itu dapat berada di seberang?


Agaknya dari jarak sejauh itu, Cui Im dapat menduga apa yang dipikirkan Keng Hong. Dia tertawa, kemudian duduk di tepi jurang itu dengan suara mengejek.


"Hi-hi-hik, mau meloncat ke sini? Jangan mimpi, Keng Hong. Selain terlampau jauh, sekali kau terjatuh ke bawah, tubuhmu akan hancur lebur. Apakah tidak mengerikan? Sayang tubuhmu yang muda dan perkasa, wajahmu yang tampan. Hanya ada satu cara untuk menyeberang melewati jurang ini, yaitu melalui jembatan, dan jembatannya kini berada di tanganku!"


Keng Hong mendengus marah. Gadis ini terang membual. Mana mungkin jembatan bisa disimpan?


"Kau tidak percaya? Inilah jembatannya, berada di tanganku. Bila kuhendaki mudah saja aku menyeberang ke situ, akan tetapi engkau? Kecuali kalau di pundakmu keluar sayap dan dapat terbang, tak mungkin engkau dapat menyeberang ke sini!"


"Hemmm, engkau jahat dan curang, Cui Im! Akan tetapi, jangan kau mengira bahwa aku akan membiarkan saja engkau melarikan kitab-kitab itu," kata Keng Hong dan mengertilah ia bahwa di antara kedua tempat ini tadinya memang terdapat jembatan yang merupakan penghubung, yaitu yang terbuat dari pada sehelai tambang yang kini sudah tergulung dan berada di tangan Cui Im.

__ADS_1


__ADS_2